RADARSEMARANG.ID, Semarang - Penanganan siswa SMKN 6 Semarang yang mengalami gangguan kesehatan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) masih berlanjut.
Hingga Minggu (2/8) siang, sebanyak 10 siswa masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Sementara enam siswa yang sebelumnya dirawat di UPTD Puskesmas Halmahera telah dipulangkan setelah kondisinya membaik.
Kepala SMKN 6 Semarang Berti Sagendra mengatakan, 10 siswa yang masih menjalani perawatan tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan.
Di antaranya Rumah Sakit Tentara (RST), RSUD KRMT Wongsonegoro (RSWN), Permata Medika, dan Panti Wilasa Citarum.
Baca Juga: BGN Suspend Dapur MBG Karangturi Buntut Dugaan Keracunan Siswa SMKN 6 Semarang
"Kalau yang di puskesmas sudah enggak ada. Kalau yang di rumah sakit masih, ini masih ada 10," ujar Berti saat dihubungi melalui telepon, Minggu (2/8) siang.
Sementara itu, enam siswa yang sebelumnya mendapat perawatan di Puskesmas Halmahera sudah diperbolehkan pulang.
Kepala UPTD Puskesmas Halmahera dr Turi Setyawati mengatakan, seluruh pasien menunjukkan perkembangan positif setelah mendapat penanganan.
Enam siswa tersebut datang dengan keluhan seperti diare, mual dan lemas. Setelah kondisi fisik membaik dan keluhan mereda, mereka diperbolehkan melanjutkan pemulihan di rumah.
"Kalau sudah tidak lemas, tidak diare dan tidak mual, pasien sudah merasa sehat dan boleh pulang," kata Turi saat dihubungi melalui telepon.
Di tengah proses penanganan, sekolah juga masih menghimpun data siswa yang mengalami keluhan.
Berti mengatakan, sekolah menyebarkan Google Form kepada seluruh siswa untuk mengetahui kondisi masing-masing.
Dari laporan sementara, sekitar 693 siswa telah mengisi formulir. Selain siswa, terdapat 14 guru yang juga melaporkan mengalami keluhan.
"Yang ngisi Google Form itu sekitar 693. Ada guru juga, gurunya ada 14 orang," jelas Berti.
Keluhan yang masuk cukup beragam. Mulai pusing, mual, diare, muntah hingga lemas. Namun, Berti menegaskan, angka tersebut bukan berarti seluruh siswa harus mendapatkan perawatan medis.
"Yang terdaftar itu tidak semuanya dirawat intensif. Ada yang bisa ditangani atau diobati sendiri," ujarnya.
Perhatian terhadap kondisi siswa juga datang dari Badan Gizi Nasional (BGN). Berti mengatakan, Kepala BGN Sudaryono turut menjenguk siswa yang dirawat di RST. Keduanya kebetulan berada di rumah sakit pada waktu yang sama.
"Pas saya datang menjenguk di RST, kebetulan Pak Sudaryono juga datang. Beliau memberi santunan. Biaya rumah sakit kayaknya juga ditanggung beliau," ungkapnya.
Sekolah juga meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia MBG bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan siswa, termasuk mereka yang memilih berobat secara mandiri.
"Saya juga minta SPPG untuk tanggung jawab. Yang berobat mandiri tetap nanti kita minta pertanggungjawaban. SPPG sudah oke mau bertanggung jawab," tegas Berti.
Kasus tersebut membuat sekolah meminta pelaksanaan MBG dihentikan sementara. Permintaan itu disampaikan sembari menunggu evaluasi dan investigasi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Baca Juga: Siswa SMKN 6 Semarang Ceritakan Gejala Usai Santap MBG, Dari Diare hingga Mual
"Kami sudah meminta ke SPPG ataupun perwakilan untuk sekolah selanjutnya, kami minta dihentikan dulu. Sambil menunggu evaluasi dari Dinas Kesehatan," katanya.
Menurut Berti, Dinas Kesehatan tengah melakukan investigasi terhadap SPPG. Sampel makanan juga diperiksa di laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan siswa.
Jika program MBG kembali dilanjutkan, sekolah berharap ada evaluasi menyeluruh, termasuk kemungkinan pergantian dapur penyedia.
Salah satu pertimbangannya, lokasi dapur saat ini disebut berada cukup dekat dengan sekolah.
"Kalau mau dilanjutkan lagi, kami ingin ganti dapur. Mungkin karena dapurnya dekat dengan sekolah, alamatnya satu jalan. Supaya anak-anak juga tidak trauma," ujarnya.
Baca Juga: 690 Siswa SMKN 6 Semarang Laporkan Keluhan Usai Santap MBG, Empat Dirujuk ke Rumah Sakit
Berti menyebut, selama dirinya menjabat sebagai kepala sekolah sejak Maret, tidak pernah ada kejadian serupa. Dia memilih menunggu hasil pemeriksaan sebelum menyimpulkan penyebab gangguan kesehatan siswa.
"Saya masuk di sini per Maret dan selama ini baik-baik saja. Untuk kejadian Jumat, mungkin penanganannya kurang baik atau apa, saya juga belum tahu," tuturnya.
Sementara itu, Camat Semarang Timur, Akbar Ali Nurdin mengatakan pihak kecamatan sebatas melakukan pemantauan wilayah. Adapun pemeriksaan kesehatan dan penelusuran penyebab kejadian menjadi kewenangan Dinas Kesehatan.
Akbar sebelumnya turut mendampingi Wakil Wali Kota Semarang melakukan pengecekan ke dapur SPPG. Namun, dia belum dapat menyampaikan hasil pemeriksaan karena masih menunggu keterangan resmi dari Dinas Kesehatan.
"Kalau untuk penyebabnya masih belum rilis dari Dinas Kesehatan," kata Akbar.
Hingga Minggu siang, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami siswa. Pemeriksaan laboratorium terhadap makanan serta investigasi terhadap dapur penyedia MBG masih berlangsung.
Sekolah kini menunggu hasil pemeriksaan tersebut sembari meminta distribusi MBG dihentikan sementara. Di sisi lain, kondisi 10 siswa yang masih menjalani perawatan di rumah sakit terus dipantau. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi