RADARSEMARANG.ID, Semarang - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi Semarang buntut dugaan kasus keracunan yang terjadi pada pelajar SMK Negeri 6 Semarang.
Tindakan tegas "suspend sementara ini dilakukan untuk memberikan kesempatan proses investigasi menyeluruh dan mempertimbangkan keselamatan penerima manfaat.
Koordinator KPPG Semarang Hadi Riajaya mengungkapkan sudah melakukan investigasi lintas sektor, pada Jumat (31/7/2026). Investasi melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Kepolisian (Polrestabes), dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang.
"Makanya dapur kami "suspend" sementara karena buat kami di BGN, keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas," ungkapnya di Semarang, Sabtu (1/8/2026).
Sedangkan hasil investigasi sementara diperoleh, Rabu (29/7/2026), ketika bahan baku seperti bumbu, buah, ayam, tahu, dan sayuran tiba di SPPG Karangturi secara bertahap sejak pukul 13.00 hingga 17.30 dan disimpan di gudang basah serta freezer.
Proses persiapan bahan dilakukan sejak pukul 18.55, meliputi pencucian, pengukusan tahu, hingga marinasi ayam pada pukul 19.30 selama satu jam sebelum akhirnya digoreng hingga pukul 23.50.
Pada Kamis, 30 Juli 2026, tim pengolahan mulai memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran sejak pukul 00.30.
Setelah melewati uji organoleptik dan gramasi oleh Ahli Gizi pada pukul 04.00, makanan dikemas dan didistribusikan dalam dua kloter, yakni pukul 06.00 dan 08.10.
Muncul ada laporan gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare baru diterima SPPG dari pihak sekolah pada Jumat (31/7/2026) pukul 09.40.
Kemudian, dari hasil pengumpulan data diperoleh ada sekitar 693 siswa masuk dalam data PIC sekolah, sementara Penyelidikan Epidemiologi (PE) oleh Dinkes Kota Semarang telah mencakup 422 responden.
Selain itu, saat ini terdapat 6 orang siswa yang masih dalam perawatan rawat inap dan berada dalam pemantauan intensif, yaitu 2 orang di RSUD KRMT Wongsonegoro, Semarang, 1 orang di RS Bhakti Wira Tamtama, 1 orang di Puskesmas Bangetayu, serta 2 orang di Puskesmas Halmahera.
"Kami bergerak cek kondisi penerima manfaat yang terdampak, yang dibawa ke Puskesmas sampai yang dilarikan ke Rumah Sakit untuk rawat inap. Sampai saat ini terus kita pantau dan evaluasi termasuk tahapan demi tahapan kronologisnya kami dalami," katanya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi