Angka Kekerasan Anak Sampai Juli Capai 102 Kasus, Wali Kota Semarang Agustina Soroti Kasus Bullying

Adennyar Wicaksono • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 04:28 WIB
CERIA : Pelaksanaan HAN di Balai Kota Semarang, berlangsung meriah yang diisi drama musikal
CERIA : Pelaksanaan HAN di Balai Kota Semarang, berlangsung meriah yang diisi drama musikal

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Angka kekerasan terhadap anak di Kota Semarang saat ini masih cukup tinggi. Dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, tahun 2025 lalu jumlahnya mencapai 163 kasus, sementara pada tahun ini mencapai 102 kasus.

Kepala DP3A Kota Semarang, Pranyoto mengakui jika angka tersebut masih cukup tinggi, pasalnya di tahun ini saja periode Januari sampai Juli lalu sudah ada 102 kasus kekerasan terhadap anak, mulai dari bullying, seksual, psikis hingga kekerasan fisik.

"Angkanya sudah mencapai 102 kasus periode Januari - Juli tahun ini, kalau tahun lalu mencapai 163 kasus," katanya usai peringatan Hari Anak Nasional (HAN), di Halaman Balai Kota, Selasa (28/7) malam.

Mantan Camat Genuk ini menerangkan, pihaknya terus melakukan langkah antisipasi agar angka kekerasan tidak terus naik dan bisa ditekan. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi di sekolah yang menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik).

"Kita getol melakukan sosialisasi ke sekolah, beberapa unsur kita libatkan, misalnya cyber crime, untuk mengantisipasi kekerasan berbasis sosial media," tambah dia.

Sementara itu, Peringatan HAN ditingkat Kota Semarang, berlangsung meriah dengan menyajikan drama musikal yang diperankan ratusan anak-anak, yang menceritakan adanya temuan bullying di sebuah sekolah.

"Semangat anak-anak sangat besar, mereka sangat antusias tampil. Bahkan prosesnya untuk latihan ini sangat lama," kata Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng.

Agustina menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh anak-anak yang terlibat. Menurutnya, keceriaan dan semangat yang ditunjukkan generasi muda ini menjadi energi tambahan bagi kemajuan Kota Semarang.

"Harapannya bisa menular ke anak lain, mungkin saat ini masih ada anak yang mengurung diri, atau yang tadi dicontohkan masih suka mem-bully temannya, berangsur-angsur sikap itu akan hilang,"ujarnya.

Agustina juga menyoroti dan memberikan perhatian serius terhadap kasus-kasus kekerasan dan perundungan atau bullying anak yang masih terjadi di Kota Semarang. Menurutnya, kendala terbesar saat ini adalah masalah keterbukaan dan respons dari lingkungan sekitar.

Dia menjelaskan, penanganan bullying menjadi tiga aspek yakni anak-anak korban perundungan sering kali tidak berani mengadu (speak up). Kemudian ketika anak sudah berani mengadu, terkadang tidak ada respons cepat dari orang dewasa di sekitarnya.

"Ini  yang harus kita benahi bersama. Anak-anak harus berani bersuara, dan kita yang dewasa harus peka serta cepat merespons," tambah dia.

Merespons aspirasi dari Forum Anak dan perwakilan anak bernama Gwen, pihaknya berkomitmen untuk memenuhi tuntutan ruang ramah anak di Kota Semarang.

Salah satunya adalah menyediakan ruang kecil bagi anak-anak untuk mengeksplorasi kemampuan secara mandiri tanpa merasa terhalangi untuk berekspresi.

Pemerintah Kota Semarang juga sepakat untuk terus menggaungkan kampanye stop bullying dan stop kekerasan terhadap anak.

"Suasana ini mendukung tumbuh kembang anak ini akan terus kita jaga, dan kita ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, tidak hanya di halaman Balai Kota, tapi bisa di lingkungan masing-masing," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
Kekerasan Anak Bullying