RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di tengah Kota Semarang, ternyata masih ada bangunan sekolah kurang layak. Bahkan kondisinya memprihatinkan. Ya, tempat belajar itu di SDN Pendrikan Lor 02, Kecamatan Semarang Tengah.
Di ruang kelas 2B, atap plafon menganga. Rangka atap nampak memperlihatkan genteng.
Tujuh plafon terlihat bekas ambrol, lainnya mengkikis. Rangka kayu yang dimakan rayap juga terlihat.
Di bawah atap itu, puluhan siswa belajar saban hari. Mereka menimba ilmu meski kondisi kelas tak aman.
Meski begitu, siswa tak punya pilihan lain karena tak ada ruang lain yang bisa dipakai untuk belajar.
Baca Juga: Ruang Kelas Hancur Tertimpa Pohon Tua, 28 Siswa SDN Sendangmulyo 03 Selamat
Saat didatangi, mereka tengah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), program andalan Presiden.
Mereka tampak tenang menikmati makan, seolah tak sadar jika atap di atasnya sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan.
Rasa was-was itu juga dirasakan guru. Saat proses belajar mengajar, rasa tak tenang, takut jika plafon kembali ambrol menimpa mereka.
"Tentu was-was, apalagi yang di kelas 2b itu kan atap di atas sangat membahayakan bagi anak ketika pembelajaran," kata Guru kelas, Ratna Arminingsih.ditemui di sekolah, Selasa (28/7/2026).
Diakuinya, di ruang kelasnya juga kondisi kelas tak elok. Pintu jebol karena keropos dimakan rayap.
Kondisi itu diperparah saat hujan. Pasalnya, air dapat masuk dan menganggu pelajaran.
"Kalau hujan air masuk kelas lewat pintu yang jebol itu. Anak-anak jadi keceh (bermain air, Red)," ungkapnya.
Ia menyatakan, ruang depan itu memang belum tersentuh renovasi selama 15 tahun. Tiga ruangan itu adalah perpustakaan, ruang kelas 2A dan kelas 2B.
Dirinya pernah mengajukan bantuan, namun yang terealisasi baru gedung lain untuk kelas 3, 5 dan 6.
Ia berharap, kondisi sekolah ini yang sudah dibangun sejak 1950an. mendapat perhatian. Pasalnya, posisi sekolah berada di tengah kota
"Harapannya segera mendapat perhatian, mendapatkan bangunan yang layak sehingga pembelajaran lebih baik lagi, anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman seperti itu," kata guru yang sudah mengabdi 40 tahun itu.
Hal serupa diungkapkan Kepala SDN Pendrikan Lor 02, Dwi Hartiningsih. Dirinya mengungkap di tiga ruang itu sudah mengalami kondisi parah karena termakan usia. Selain di kelas itu, ruang perpustakaan mengalami kerusakan cukup parah.
"Di perpustakaannya itu bagian-bagian kayu-kayunya, terutama kusen-kusennya sudah wah sangat parah hampir habis dimakan rayap. Kemudian atap-atapnya itu juga itu sangat berbahaya bagi siswa-siswa," ucapnya.
Ia menyebut beberapa kali mengungsikan siswa ke ruang lain seperti musola agar aktivitas belajar mengajar tetap aman. Namun hingga kini masih belum mendapat perbaikan yang layak.
Ditanya apakah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa mengcover renovasi gedung, ia menjawab sebagian dipakai untuk tambal sulam meski belum cukup.
"Gentengnya itu melotrok kan mungkin itunya sudah sempal (patah, Red), reng-rengnya (rangka, Red). Akhirnya saya ganti dengan dana BOS itu, sebagian untuk nambal sulamnya kayak gitu. Ya alhamdulillah bisalah tapi untuk semuanya dana BOS, enggak bisa," jelas dia.
Ia mengaku kondisi itu membuat guru dan siswa sangat khawatir. Pasalnya atap yang jebol itu membuat proses belajar mengajar tak tenang.
"Was-was, kalau ini kan kemungkinan masih musim kemarau, otomatis rayapnya masih berkembang ya. Nanti kalau mungkin musim hujan, saya juga was-was. Nanti saya alihkan takutnya roboh, sebabnya kemarin itu di bulan Desember itu sempat roboh," ungkapnya.
Ditanya soal program MBG, Dwi menyatakan sudah masuk sekolah tersebut sejak Januari. Hingga kini, pemberian makan oleh pemerintah itu berjalan lancar.
"Masih, alhamdulillah bagus lancar. Januari sudah ada MBG," pungkasnya.
Dwi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian. Terlebih posisi sekolah berada tak jauh dari pusat Kota Semarang dan dekat dengan gedung-gedung pemerintahan.
"Semoga Bapak Dinas dan Bapak yang berkaitan semuanya bisa membangunkan sekolah saya menjadi sekolah yang lebih bagus," pintanya. (*)
Editor : Baskoro Septiadi