Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Festival Saja Tak Cukup, Dekase Desak Pembenahan Ekosistem Teater Semarang

Ida Fadilah • Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:25 WIB

 

Ketua Dekase Adhitia Armitrianto bersama Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar membuka Festival Teater Kota Semarang di di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (11/7/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Ketua Dekase Adhitia Armitrianto bersama Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar membuka Festival Teater Kota Semarang di di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (11/7/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Diselenggarakannya kembali Festival Teater Kota Semarang diapresiasi Ketua Umum Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Adhitia Armitrianto.

Meski begitu, ia menilai penyelenggaraan festival saja belum cukup untuk mendorong kemajuan dunia teater apabila tidak dibarengi pembangunan ekosistem seni yang berkelanjutan.

Adhitia mengatakan, pihaknya bersyukur Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tetap menggelar Festival Teater tahun ini.

Baginya, hal itu menjadi bukti adanya komitmen pemerintah dalam menjaga ruang berekspresi bagi pelaku seni.

"Kami bersyukur Festival Teater masih diselenggarakan. Ini menjadi pembuktian komitmen pemerintah untuk membangun iklim berkesenian," katanya, Sabtu (11/7/2026) di Taman Budaya Raden Saleh. 

Baca Juga: Kirab Budaya dan Ganti Luwur Semarakkan Puncak Haul Ki Ageng Pandanaran ke-524

Meski demikian, ia menegaskan Semarang masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar daerah lain yang lebih dahulu memiliki sistem pembinaan teater yang kuat.

Selama ini, menurutnya berbagai kelompok teater di Semarang memang aktif menggelar pertunjukan secara mandiri, tetapi belum didukung agenda besar yang mampu memperkuat regenerasi dan jejaring antarkomunitas secara berkelanjutan.

Menurut Adhitia, festival seharusnya tidak hanya menjadi ajang mencari juara, melainkan menjadi instrumen pembinaan.

Dari hasil pertemuannya dengan penyelenggara festival teater se-Indonesia, banyak daerah mulai meninggalkan konsep kompetisi dan mengubah festival menjadi ruang perayaan bagi seluruh kelompok teater.

"Di beberapa daerah festival bukan lagi lomba. Semua kelompok diberi kesempatan tampil dan dukungan anggaran dibagikan kepada seluruh peserta sebagai bentuk pembinaan. Menurut saya konsep seperti ini menarik untuk didiskusikan di Semarang," ujarnya.

Ia menilai pendekatan tersebut mampu memperkuat ekosistem karena kelompok teater tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi memperoleh kesempatan berkarya dan berkembang secara merata.

Adhitia juga menyoroti keberhasilan daerah lain dalam membangun ekosistem teater. Festival Teater Jakarta, misalnya, memiliki mekanisme seleksi berjenjang dari tingkat wilayah hingga provinsi sehingga pembinaan berlangsung sepanjang tahun.

Baca Juga: Tercium Bau Tak Sedap, Pria Paruh Baya di Kendal Ditemukan Tewas di Kamar

Di Solo, pemerintah menyediakan ruang pertunjukan lengkap bagi kelompok teater tanpa menjadikan festival sebagai ajang kompetisi.

"Nah yang perlu dibangun bukan hanya acaranya, tetapi ekosistemnya. Bagaimana kelompok teater punya ruang tampil, ruang belajar, dan ruang bertemu secara rutin," kritiknya.

Selain mengevaluasi format festival, Dekase juga mulai memperkuat pendataan kelompok teater melalui penyusunan direktori teater kampus serta dokumentasi Festival Teater Kota Semarang. Langkah itu diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembinaan seni pertunjukan di masa mendatang.

Adhitia menilai teater kampus selama ini menjadi salah satu penyangga utama kehidupan teater di Kota Semarang. Karena itu, ia menilai, penguatan komunitas, dokumentasi, serta penyelenggaraan festival yang lebih inklusif perlu berjalan beriringan agar perkembangan teater tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar, memastikan pemerintah membuka seluas-luasnya fasilitas di TBRS bagi para pelaku seni. Ia membantah anggapan bahwa seniman kesulitan mendapatkan tempat untuk berkarya.

"Kalau mau main di sini silakan, gratis. Yang penting komunikasi, mengajukan surat, dan jadwalnya tidak berbenturan dengan kegiatan lain," tegasnya.

Menurut Samsul, seluruh gedung pertunjukan di kawasan TBRS dapat dimanfaatkan komunitas seni tanpa dipungut biaya selama prosedur administrasi dipenuhi. Kebijakan tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap perkembangan seni budaya di Kota Semarang.

Ia mengatakan kebijakan itu sejalan dengan visi Wali Kota Semarang yang menjadikan seni dan budaya sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.

"Kami sangat konsen terhadap seni budaya. Setiap ada komunitas yang ingin berkegiatan di sini, kami dukung. Selama anggaran masih tersedia, pemerintah akan terus memberikan dukungan," katanya.

Samsul juga mengajak komunitas seni untuk bersama-sama menjaga eksistensi budaya lokal di tengah derasnya pengaruh budaya populer dari luar negeri.

"Sekarang semua serba K-Pop, budaya luar begitu kuat memengaruhi masyarakat. Padahal budaya kita justru banyak diminati di luar negeri. Karena itu mari bersama-sama melestarikan seni budaya Semarang," ujarnya.

Samsul berharap Festival Teater Kota Semarang tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, melainkan terus berlanjut. Syukur-syukur dapat berkembang menjadi wadah pembinaan yang mampu melahirkan lebih banyak kelompok teater serta memperkuat ekosistem kesenian di Kota Semarang. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#tbrs semarang #Teater #Dekase