RADARSEMARANG.ID, Semarang - Jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan video yang memperlihatkan seorang petugas di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang diduga asyik bermain game di komputer kerjanya, padahal kondisi ruang pelayanan tengah dipadati warga yang mengantre dokumen.
"Warga rela mengantre panjang demi mengurus administrasi kependudukan. Namun di tengah padatnya antrean justru terlihat ada petugas yang diduga asyik bermain game," tulis narasi di alun @dinaskegelapan_kotasemarang, Salasa (30/6).
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disdukcapil Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo, membantah petugas tersebut sedang bermain game.
Menurut dia, petugas yang terekam adalah petugas magang yang membantu melakukan Identitas Kependudukan Digital (IKD), bukan melayani penerbitan dokumen kependudukan.
"Itu petugas magang, dia membantu melayani IKD, di kantor kami," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (30/6).
Baca Juga: Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem 2026: Rekor Suhu Pecah, Ribuan Nyawa Melayang
Yudi menerangkan, komputer yang digunakan untuk layanan aktivasi IKD menerapkan sistem auto lock setelah 30 detik tidak digunakan.
Pengaturan itu merupakan bagian dari standar keamanan informasi ISO 27001 sehingga petugas harus kembali melakukan login apabila komputer terkunci.
"Anak magang ini punya cara biar ngga otomatis lock out, dia buka halaman apa saja, tapi kebetulan halaman game. Itu juga tidak dimainkan. Tujuannya agar komputer tidak time out, jadi tidak perlu log in lagi," jelasnya.
Dia menegaskan, meskipun membuka game, petugas magang tersebut tidak memainkan game yang dibuka.
Petugas kata Yudi, hanya dibiarkan terbuka agar sistem menganggap komputer masih aktif. Cara tersebut digunakan untuk mencegah komputer terkunci secara otomatis.
"Jadi bukan bermain game. Itu hanya alat bantu supaya sistem tidak lock out, istilahnya untuk mengakali sistem," tegasnya.
Meskipun tidak dimainkan, Yudi mengakui halaman game di layar komputer bisa menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Karena itu, Disdukcapil akan mengubah metode yang digunakan agar tidak memunculkan kesalahpahaman serupa.
"Nanti tidak lagi menggunakan halaman game. Kami siapkan tampilan dokumen yang bergerak terus, fungsinya sama supaya komputer tidak lock out supaya kesannya petugas menghadapi dokumen," bebernya.
Disdukcapil Kota Semarang sendiri mencatat mampu menyelesaikan sekitar 1.500 dokumen administrasi kependudukan setiap harinya.
Sebagian besar layanan juga telah tersedia secara digital, sehingga masyarakat dapat mengurus dokumen melalui aplikasi tanpa harus datang ke kantor.
"Kalau yang ke kantor itu sekitar 300 orang, mayoritas pengajuan akte, surat pindah, kehilangan dan lainnya. Itu pun mereka input sendiri. Kalau IKD ini, jarang digunakan," pungkasnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi