RADARSEMARANG.ID, Semarang– Sorak tepuk tangan dan suasana haru bergantian memenuhi Gedung Bulog, Jalan Menteri Supeno, Kota Semarang, Sabtu (20/6/2026) pagi.
Sebanyak 112 siswa kelas VI SDIT Bina Amal resmi dilepas dalam gelaran Haflah Akhir Sanah Tahun Pelajaran 2025/2026 yang mengusung tema The Heritage of Al-Fatih (Warisan Al-Fatih).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan pertunjukan tari dan nyanyian, haflah kali ini dikemas dengan nuansa sejarah Islam.
Sejak pukul 07.00, para wisudawan memasuki ruangan melalui kirab yang dipadukan dengan drama kolosal tentang perjalanan hidup Sultan Muhammad Al-Fatih, sosok pemimpin Muslim yang berhasil membebaskan Konstantinopel.
Penampilan tersebut sukses mengundang decak kagum para orang tua dan tamu undangan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah Alquran, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Bina Amal, pemutaran video “Kelas VI Dalam Kenangan”, sambutan para tokoh, penghargaan kecerdasan siswa, pidato empat bahasa, pengumuman siswa berprestasi, hingga ikrar alumni dan ramah tamah.
Kepala SDIT Bina Amal Mar'atul Qiptiyah, S.Pd, mengatakan, tema Warisan Al-Fatih dipilih sebagai upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.
Menurutnya, sosok Muhammad Al-Fatih tidak hanya dikenang sebagai penakluk Konstantinopel, tetapi juga sebagai hasil dari pendidikan yang luar biasa, dibesarkan dengan kecintaan kepada Allah, ilmu, kedisiplinan, dan visi besar untuk umat.
"Harapannya anak-anak bukan menaklukkan sebuah kota seperti Muhammad Al-Fatih, tetapi mampu menaklukkan rasa malas dengan semangat belajar, menaklukkan ego dengan akhlak yang baik, serta menaklukkan tantangan zaman dengan ilmu dan iman yang kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, haflah tahun ini sengaja dibuat berbeda agar siswa dapat mengambil pelajaran dari kisah tokoh Islam yang melegenda dan menjadikannya inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
Di bidang akademik, capaian siswa angkatan ke-19 juga membanggakan.
Sebanyak 112 siswa dinyatakan lulus 100 persen.
Nilai rata-rata akademik meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) menunjukkan rerata nilai matematika dan bahasa Indonesia SDIT Bina Amal lebih tinggi dibandingkan rata-rata Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, maupun nasional.
Tak hanya itu, tiga siswa berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata pelajaran matematika.
Prestasi keagamaan pun menunjukkan peningkatan. Sebanyak 102 siswa telah lulus Qiroati. Di bidang tahfiz, seorang siswa bahkan berhasil menghafal hingga 14,5 juz Alquran.
Sementara prestasi nonakademik terus menanjak dengan raihan 128 kejuaraan, terdiri atas 18 kejuaraan tingkat kecamatan, 48 tingkat kota, satu tingkat provinsi, dan 61 tingkat nasional.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang Ali Sofyan memberikan apresiasi tinggi atas capaian yang diraih SDIT Bina Amal.
Menurutnya, sekolah tersebut termasuk salah satu SD di Kota Semarang yang menempati peringkat tinggi dalam berbagai capaian akademik.
Ia menilai keberhasilan SDIT Bina Amal tidak lepas dari keberhasilannya mengolaborasikan pendidikan umum dengan pendidikan agama sehingga mampu melahirkan anak-anak yang berkarakter dan berakhlakul karimah.
Ali berharap capaian tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi terus ditingkatkan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Ia juga mendorong terciptanya sekolah ramah anak dan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan.
Selain itu, ia mengaku terkesan dengan capaian tahfiz siswa yang mampu mencapai hafalan hingga 14,5 juz.
Menurutnya, potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan agar ke depan lahir lebih banyak penghafal Al-Qur'an dari Kota Semarang.
“Orang tua sekarang semakin sadar pentingnya keseimbangan antara ilmu umum dan pendidikan agama. Sekolah seperti Bina Amal menjadi pilihan karena mampu memberikan keduanya secara beriringan,” katanya.
Kebanggaan serupa juga dirasakan para orang tua.
Salah satunya Siti Roika, wali murid Qosim Maulana Syabaab.
Menurutnya, Haflah Akhir Sanah tahun ini menjadi bentuk apresiasi atas proses panjang anak-anak selama enam tahun menempuh pendidikan.
Tema Warisan Al-Fatih dinilai sangat menarik karena mengajarkan bahwa setiap keberhasilan diraih melalui perjuangan dan proses yang tidak mudah.
Ia mengaku puas menyekolahkan putranya di SDIT Bina Amal. Selain memiliki kurikulum akademik yang baik, sekolah juga unggul dalam pembelajaran Alquran.
“Anak saya sekarang sudah bisa membaca Alquran dan menghafal. Yang saya sukai lagi adalah penguatan karakter yang diberikan sejak kelas satu hingga kelas enam sesuai jenjang usia anak,” ujar anggota DPRD Kota Semarang dari Fraksi PKS ini.
Bagi Roika, pendidikan karakter dan pembiasaan nilai-nilai keislaman yang diterapkan sekolah menjadi bekal penting bagi anak-anak untuk menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
Sementara itu, di penghujung acara, Mar'atul berpesan kepada seluruh lulusan agar tetap menjaga identitas sebagai generasi Qurani dan generasi Rabbani.
Ia berharap semangat Warisan Al-Fatih tidak berhenti di panggung haflah, melainkan terus hidup dalam diri para lulusan sebagai generasi yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, serta siap menjadi pemimpin masa depan yang membanggakan. (fgr/aro)
Editor : H. Arif Riyanto