RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dugaan pelecehan verbal yang menyeret seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) berinisial MF terus berkembang. Korban dalam perkara ini diduga tidak hanya satu orang.
Sejumlah perempuan disebut mulai bermunculan dan mengaku pernah menerima pesan bernada serupa dari terduga pelaku.
Salah satu korban berinisial NI mengungkapkan, pengalaman yang dialaminya bermula saat menerima pesan dari seseorang yang menggunakan jasa antar jemput (anjem) pada dini hari.
Sebagai driver jasa titip (jastip), ia mengaku awalnya menanggapi pesan tersebut secara profesional karena mengira berkaitan dengan layanan yang ditawarkan.
"Jam satu malam dia chat menanyakan apakah saya masih menerima jastip atau tidak. Saya jawab sedang tutup," ujar NI, Kamis (18/6/2026).
Namun percakapan yang awalnya berkaitan dengan layanan jasa itu disebut berubah arah. NI mengaku menerima pertanyaan pribadi yang membuatnya tidak nyaman dan terkejut.
Merasa ada yang tidak wajar, NI tetap mencoba merespons dengan sopan. Akan tetapi, menurut pengakuannya, pesan yang diterima berikutnya justru semakin mengarah pada topik yang dinilai tidak pantas.
"Saya benar-benar kaget dan syok ketika membaca isi pesannya," katanya.
Merasa terganggu, NI kemudian menyimpan tangkapan layar percakapan tersebut dan membagikannya ke grup komunitas driver sebagai bentuk peringatan kepada rekan-rekannya agar lebih berhati-hati.
Langkah itu ternyata memunculkan fakta lain. Setelah unggahan tersebut beredar, sejumlah perempuan disebut menghubunginya secara pribadi dan mengaku pernah mengalami pengalaman serupa.
"Ternyata bukan cuma saya. Ada yang mengirimkan screenshot percakapan, ada juga yang bercerita pernah mengalami hal yang hampir sama," ungkapnya.
Menurut NI, mayoritas pengakuan yang diterimanya berasal dari perempuan yang bekerja di layanan jasa titip maupun antar jemput. Beberapa di antaranya mengaku pernah mendapatkan pesan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
Informasi yang terus berkembang itu kemudian menyebar luas di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Sejumlah mahasiswa disebut memberikan pendampingan kepada korban sekaligus meminta klarifikasi dari terduga pelaku.
Situasi sempat memanas ketika massa yang datang terus bertambah. Aparat kepolisian akhirnya turun tangan untuk mengamankan keadaan dan mencegah terjadinya tindakan yang tidak diinginkan.
NI berharap kasus yang kini ditangani aparat penegak hukum tersebut dapat menjadi pembelajaran sekaligus memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang.
"Harapannya semoga menjadi efek jera untuk pelaku dan juga orang lain yang berniat melakukan hal yang sama," ujarnya.
Saat ini Satreskrim Unit PPA dan PPO Polrestabes Semarang masih melakukan pendalaman terhadap laporan yang masuk, termasuk menelusuri kemungkinan adanya korban lain dalam kasus dugaan pelecehan verbal tersebut. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi