RADARSEMARANG.ID, Semarang – Fakta mengejutkan terungkap di balik kasus dugaan pembacokan pelajar yang sempat menghebohkan warga Semarang Selatan.
Polisi memastikan peristiwa yang sebelumnya disebut sebagai aksi pembacokan oleh orang tak dikenal ternyata merupakan duel gladiator antar kelompok gangster remaja.
Korban berinisial ATK (16), pelajar SMK di Kota Semarang, diketahui mengalami luka setelah terlibat duel satu lawan satu melawan Akiki (17), warga Gayamsari.
Duel tersebut melibatkan dua kelompok yang dikenal dengan nama Speldah dan Spelmawar.
Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Riki Fahmi Mubarok, menjelaskan hasil penyelidikan menemukan bahwa cerita pembacokan di Jalan Sompok Baru, Lamper Lor, Semarang Selatan, tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
"Setelah dilakukan pengecekan CCTV di lokasi yang disebutkan, tidak ditemukan adanya peristiwa pembacokan tersebut," ujar Riki, Kamis (11/6/2026).
Polisi kemudian mendalami keterangan sejumlah saksi dan memeriksa isi telepon genggam korban.
Dari hasil penyelidikan terungkap bahwa ATK mengikuti tantangan duel gladiator yang beredar melalui media sosial Instagram.
Duel berlangsung di terowongan Jalan Pawiyatan Luhur, kawasan Gajahmungkur, pada Minggu (7/6/2026) malam.
Dalam duel menggunakan senjata tajam tersebut, ATK mengalami luka tusuk di bagian punggung kanan hingga harus menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi Semarang.
Menurut polisi, korban sempat mengaku dibacok orang tak dikenal karena takut dimarahi orang tuanya akibat terlibat tawuran.
"Hasil pemeriksaan saksi menyebutkan korban merekayasa cerita pembacokan karena merasa ketakutan terhadap orang tuanya," kata Riki.
Polrestabes Semarang telah mengamankan Akiki sebagai lawan duel korban. Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa telepon genggam, pakaian, senjata tajam, serta rekaman video duel gladiator yang terjadi di lokasi.
Saat ini penyidik masih melakukan pendalaman kasus melalui Unit PPA dan PPO Polrestabes Semarang.
Karena pelaku masih berstatus anak di bawah umur, proses hukum juga melibatkan pendampingan dari Balai Pemasyarakatan (Bapas).
Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat terkait maraknya fenomena duel gladiator remaja yang dipicu tantangan melalui media sosial.
Aktivitas berbahaya tersebut tidak hanya mengancam keselamatan pelaku, tetapi juga berpotensi berujung proses pidana.
Editor : Baskoro Septiadi