Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Perayaan Waisak di Vihara Mahavira Graha Semarang, Umat Diajak Membersihkan Diri dan Menebar Cinta Kasih

Ida Fadilah • Minggu, 31 Mei 2026 | 18:57 WIB
Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E/2026  di Vihara Mahavira Semarang berlangsung khidmat, Minggu (31/5/2026).
Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E/2026 di Vihara Mahavira Semarang berlangsung khidmat, Minggu (31/5/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Perayaan Hari Raya Waisak di Vihara Mahavira Graha Semarang berlangsung khidmat dengan rangkaian ritual pemandian rupang Pangeran Siddharta.

Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E/2026 juga diwarnai dengan prosesi penurunan Relik Hyang Buddha & Puja Relik Hyang Buddha. Dilanjutkan Kebaktian Waisak Namaskara "Mahakaruna Kshamayati.

Serta rangkaian penyalaan Pelita Waisak (pelita 1 hari) & menerima Kong Zhai (dana pangan).

Baca Juga: Puasa Senin-Kamis dan Kerja Keras Antar Arkananta, Siswa SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Raih Nilai TKA Tertinggi Nasional

Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi simbol keagamaan, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang upaya membersihkan diri dari berbagai belenggu kehidupan.

Samanera Vihara Mahavira Graha Semarang, Suhu Chuan Chi, menjelaskan ritual memandikan rupang Pangeran Siddharta melambangkan proses penyucian diri dari berbagai sifat buruk yang menjadi sumber penderitaan manusia.

"Makna dari pemandian rupang Pangeran Siddharta adalah membersihkan diri. Seperti halnya mandi yang membersihkan tubuh, kita juga diajak membersihkan batin dari berbagai belenggu kehidupan agar terbebas dari sumber-sumber yang membuat kita menderita," ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Menurutnya, setelah seseorang mampu membersihkan diri dari berbagai kekotoran batin, maka jalan menuju kebahagiaan akan semakin terbuka.

Hal tersebut sejalan dengan tema Waisak tahun ini, yakni "Cahaya Kesempurnaan dari Kebijaksanaan dan Cinta Kasih."

Suhu Chuan Chi mengatakan tema tersebut mengandung pesan agar setiap orang meningkatkan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Kebijaksanaan diibaratkan sebagai cahaya yang menerangi jalan sehingga manusia dapat membedakan mana yang benar dan menemukan jalan menuju kebahagiaan.

"Kita berharap cahaya kebijaksanaan itu dapat menerangi kehidupan kita, sehingga kita mengetahui jalan yang benar dan mampu menuju kebahagiaan yang sejati," katanya.

Selain menekankan pentingnya kebijaksanaan dan cinta kasih, perayaan Waisak juga menjadi momentum untuk memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Menurut Suhu Chuan Chi, setiap manusia memiliki persamaan sebagai sesama makhluk yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

Baca Juga: Perempuan Pejalan Kaki Tewas Tertabrak Kereta di Dekat Jembatan Sukarela Semarang, Korban Sempat Duduk di Pos Palang Pintu 

Ia juga mengingatkan pentingnya mengendalikan berbagai sifat negatif dalam diri, seperti keserakahan, kebencian, dan kesombongan.

Sifat-sifat tersebut menjadi sumber utama yang menghalangi seseorang untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan.

Melalui peringatan Waisak, umat Buddha diajak untuk terus memperbaiki diri, menumbuhkan cinta kasih kepada sesama, serta memperkuat kebijaksanaan agar kehidupan yang harmonis dan penuh toleransi dapat terwujud di tengah masyarakat. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#vihara