RADARSEMARANG.ID - Wajah berbeda terlihat di halaman Lawang Sewu, Rabu (27/5) pagi.
Tempat yang biasanya ramai wisatawan itu mendadak berubah menjadi lokasi ibadah untuk salat Idul Adha.
Hamparan sajadah memenuhi halaman bangunan heritage tersebut. Sementara ratusan jamaah datang silih berganti untuk menunaikan salat.
Baca Juga: LDII Semarang Sembelih 349 Sapi dan 131 Kambing, Daging Kurban Dibagikan untuk Dhuafa
Laki-laki tampak berjalan menenteng sarung dan sajadah. Sementara para perempuan mengenakan pakaian muslim dengan membawa mukena.
Ada yang datang bersama keluarga, ada pula rombongan anak muda yang sengaja janjian salat bersama di Lawang Sewu.
Usai salat, jamaah tak langsung pulang. Banyak yang memilih berkeliling kawasan Lawang Sewu, berburu foto, hingga berswafoto di depan bangunan ikonik tersebut.
Ashfi, jamaah asal Salatiga, mengaku sengaja datang ke Semarang demi merasakan pengalaman salat Id di Lawang Sewu. Ia datang bersama seorang temannya.
“Ingin mencari suasana baru, pertama kalinya ini dalam hidup salat di Lawang Sewu,” katanya.
Menurutnya, pengalaman itu terasa unik karena Lawang Sewu selama ini identik dengan cerita mistis. Tapi, nyatanya bisa pula dijadikan untuk tempat ibadah.
“Ternyata tempat (Lawang Sewu yang diidentik dengan) angker bisa buat ibadah,” ujarnya.
Selain suasananya berbeda, Ashfi juga senang karena bisa masuk kawasan Lawang Sewu tanpa biaya.
Baca Juga: 10 Resep Bumbu Sate Kambing dan Tips Agar Daging Enak, Empuk, Gurih, Tidak Prengus Saat Idul Adha
“Menarik ya, bisa masuk Lawang Sewu dengan gratis,” bebernya.
Baginya, pelaksanaan salat Id di Lawang Sewu menjadi pengalaman lengkap. Sebab, bisa sekaligus menikmati wisata heritage.
“Salat id di sini, bisa ibadah, bonus wisata,” imbuhnya.
Hal serupa dirasakan Alin, warga Kalibanteng, Semarang Barat ini datang bersama dua temannya. Ia datang sejak pagi untuk salat sekaligus menikmati suasana Lawang Sewu.
Menurut Alin, banyaknya anak muda yang datang membuat suasana salat Id terasa lebih ramai dan berbeda dibanding biasanya.
"Biasanya di masjid, ini di Lawang Sewu banyak anak muda, ternyata salat Id juga harus estetik ya, sekalian bisa wisata gratis,” ujarnya.
Sementara Nia, warga Pedurungan, mengaku baru pertama kali mengikuti salat Id di Lawang Sewu.
Ia menilai penggunaan kawasan wisata sebagai tempat ini ibadah memberi pengalaman baru sekaligus mengubah kesan Lawang Sewu yang selama ini dianggap angker.
"Ingin coba hal baru, biasanya tempat wisata, sekarang dipakai buat ibadah, dan mungkin bsia dihunakan untuk ibadah lain menghilangkan kesan angker juga,” ungkapnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi