RADARSEMARANG.ID, Semarang — Tiga puluh insan pendidikan inspiratif menerima Anugerahi Pendidikan Indonesia 2026 dari Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (22/5/2026) malam.
Dengan balutan entertaining yang berkelas, malam apresiasi di Diamond Ballroom, Ques Hotel Simpanglima Semarang, berlangsung meriah, inspiratif, dan sarat motivasi.
Mereka terdiri atas pendidik, pimpinan lembaga pendidikan formal dan nonformal, dosen, rektor perguruan tinggi, ketua yayasan pendidikan, inovator pendidikan seni dan budaya, bunda PAUD, pegiat literasi, tokoh masyarakat penggerak pendidikan, hingga berbagai unsur lain memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.
Malam Anugerah Pendidikan Indonesia 2026 merupakan bentuk penghormatan kepada insan pendidikan yang selama ini bekerja dan mengabdi, namun memberi dampak besar bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pendidikan adalah fondasi peradaban. Karena itu, mereka yang mengabdikan diri di dunia pendidikan layak mendapatkan ruang apresiasi yang terhormat dan bermartabat.
Malam penganugerahan ini dihadiri sejumlah tokoh penting dari berbagai daerah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Selain itu, Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mendampingi istrinya, Ny Inggit Soraya, yang menerima apresiasi atas kiprahnya dalam penguatan pendidikan anak usia dini di Kota Pekalongan.
Sejumlah tokoh akademisi di antara Dr. H. Zaenal Sukawi, M.A selaku Rektor Universitas Sains Al-Qur'an Jawa Tengah di Wonosobo, kemudian Dr. Hj. Ida Zahara Adibah, M.S.I, selaku Rektor Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman, serta Sekretaris IGI Jawa Tengah, Dr Imron S.Pd, M.Pd, turut menjadi bagian malam Anugerah Pendidikan Indonesia 2026.
Acara dikemas secara formal, elegan, dan inspiratif melalui rangkaian gala dinner, pemutaran video profil penerima penghargaan, penyerahan piala/trofi dan piagam penghargaan, hingga hiburan.
Seluruh penerima penghargaan melalui proses penilaian bersama Radar Semarang Academy, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, pelatihan, riset, jurnalistik, dan pengembangan sumber daya manusia.
Tak hanya menghadirkan seremoni penghargaan, ajang ini juga memperkenalkan filosofi mendalam dari trofi Anugerah Pendidikan Indonesia 2026. Piala tersebut dirancang dengan konsep kepakan sayap dan ilustrasi buku di bagian tengah, sebagai simbol perjalanan pendidikan yang membebaskan dan menerbangkan harapan menuju masa depan yang lebih tinggi.
Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi dalam sambutannya mengatakan, malam yang penuh makna ini, tidak sekadar ajang berkumpul dalam sebuah seremoni, melainkan hadir dalam satu ruang penghormatan, ruang di mana dedikasi diberi tempat, pengabdian diberi nama, dan perjuangan diberi makna.
Menurut Baehaqi, pendidikan adalah kerja panjang yang tak selalu tampak. Ia tumbuh dalam kesabaran, berkembang dalam keikhlasan, dan berbuah dalam generasi yang kelak menentukan arah bangsa.
Baehaqi pun menceritakan sebuah kisah sederhana namun inspiratif, tentang seorang guru di pelosok negeri. Sang guru mengajar di ruang kelas yang jauh dari kata sempurna. Dindingnya sederhana, fasilitasnya terbatas. Namun setiap pagi, ia tetap berdiri, menyapa murid-muridnya dengan senyum yang sama. Suatu hari, salah satu muridnya berkata:
“Pak, saya ingin menjadi seperti Bapak.”
Sang guru terdiam. Bukan karena ia merasa hebat, tetapi karena ia sadar, bahwa apa yang ia lakukan setiap hari, telah menyalakan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, murid itu tumbuh menjadi seseorang yang berhasil, membawa perubahan bagi lingkungannya.
“Dan sang guru? Ia tetap di tempat yang sama. Tetap mengajar. Tetap sederhana. Namun dari sanalah kita belajar, bahwa pendidikan bukan tentang seberapa jauh kita dikenal, tetapi seberapa dalam kita memberi dampak,” terang Baehaqi.
“Malam ini, kita sedang menyaksikankisah-kisah seperti itu. Kisah tentang dedikasi yang tak selalu terlihat, tentang pengabdian yang tak pernah berhenti, dan tentang semangat yang terus menyala meski dalam keterbatasan. Para penerima anugerah pada malam ini adalah representasi dari harapan itu,” tandasnya.
Baehaqi menambahkan, semua yang hadir dalam Anugerah Pendidikan Indonesia malam itu, adalah orang-orang yang tidak sekadar mengajar, tetapi menginspirasi. Tidak sekadar bekerja, tetapi mengabdi. Melalui inovasi, kreativitas, dan ketulusan, para penerima apresiasi telah menghadirkan perubahan nyata, membentuk karakter, memperluas akses, dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Jawa Pos Radar Semarang meyakini bahwa setiap kerja besar dalam pendidikan layak mendapatkan ruang penghormatan yang bermartabat. Karena dari tangan-tangan merekalah, masa depan bangsa ini dititipkan.
“Dan malam ini, kita tidak hanya memberikan penghargaan, kita menyampaikan terima kasih. Terima kasih atas kesabaran yang tak pernah putus, atas dedikasi yang tak pernah surut, dan atas keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk memuliakan kehidupan,” ujar Baehaqi.
Jawa Pos Radar Semarang juga meyakini satu hal sederhana bahwa kerja-kerja besar dalam pendidikan tidak boleh dibiarkan berjalan dalam sunyi selamanya. Harus ada panggung. Harus ada pengakuan. Harus ada penghormatan.
“Dan malam Anugerah Pendidikan Indonesia ini adalah bentuk kecil dari upaya itu. Bukan untuk mengukur jasa, karena itu tidak akan pernah cukup. Tetapi untuk mengatakan bahwa apa yang bapak lakukan sangat berarti. Bahwa perjuangan bapak, ibu, saudara, saudari tidak sia-sia. Bahwa dari tangan-tangan, Indonesia sedang ditulis; lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih berkarakter,” tandas Baehaqi yang memungkasi dengan sebuah pantun inspiratif. (ifa/fgr/den/isk/zal)
Editor : H. Arif Riyanto