RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tradisi merti desa kembali digelar warga Dukuh Persen, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan Apit ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga dimaknai sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari alam.
Lurah Sekaran, Anggun Budi Pramono, menjelaskan bahwa tradisi tersebut sudah mengakar kuat di wilayahnya, terutama di kawasan yang masih memiliki kultur pedesaan. “Di Dukuh Persen itu memang setiap bulan Apit selalu ada kegiatan wayangan. Ini bagian dari merti desa, bentuk syukur masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi serupa juga dapat dijumpai di sejumlah wilayah lain seperti Kali Pancur dan Podorejo. Menurutnya, masyarakat yang masih memegang nilai-nilai agraris umumnya tetap menjaga tradisi merti desa, meskipun tidak selalu bertepatan dengan musim panen raya.
Baca Juga: Ini Dia Profil Handi Priyanto, ASN Asal Malang yang Jadi Sekda Kota Semarang
“Memang awalnya identik dengan setelah panen. Tapi sekarang dimaknai lebih luas sebagai ungkapan syukur. Jadi meskipun tidak sedang panen, tetap dilaksanakan,” terangnya.
Pelaksanaan merti desa biasanya digelar setelah bulan Ramadan dan Syawal, di antara masa menuju bulan haji. Momentum tersebut dianggap tepat untuk kembali merefleksikan nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat desa.
Dalam rangkaian kegiatan, pagelaran wayang kulit menjadi salah satu acara utama. Lakon yang diangkat pun tidak sembarangan. Anggun menyebut, cerita yang dipilih umumnya sarat pesan moral dan nilai-nilai kebaikan.
“Biasanya lakon-lakon yang positif, yang penuh semangat dan mengandung nilai-nilai luhur. Seperti kisah tentang anugerah atau wahyu yang diberikan kepada tokoh,” jelasnya.
Menurutnya, melalui cerita wayang, masyarakat diajak memahami makna kehidupan sekaligus memperkuat nilai spiritual dan sosial. Wayangan bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan.
Lebih jauh, Anggun berharap kegiatan ini bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan dengan alam. Ia menyinggung kondisi lingkungan saat ini yang mulai menunjukkan dampak akibat kurangnya kepedulian.
Baca Juga: Berikut Daftar Wakil Indonesia di Malaysia Masters 2026 BWF Super 500
“Ini juga jadi refleksi. Alam sudah memberi banyak kenikmatan, maka kita harus menjaganya. Jangan sampai terjadi hal-hal seperti banjir yang sebenarnya bisa dicegah jika kita lebih arif,” tegasnya.
Melalui merti desa dan pagelaran wayang, warga diharapkan tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan. Sebab, harmoni antara manusia, budaya, dan alam menjadi kunci keberlanjutan kehidupan di desa. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi