RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, langsung melakukan penanganan jebolnya tanggul serta amblasnya jalan perkampungan di Jembawan I, Kalibanteng Kulon Semarang Barat.
Salah satunya dengan mencari penyebab jebolnya tanggul Sungai Silandak.
Penanganan dilakukan lintas dinas seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Disperkim, Dinas Perikanan serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Diketahui rusaknya tanggul yang jebol sekitar 41 meter, sementara tanah yang ambles kurang lebih setinggi dua meter.
"Dari hasil survey penurunan jalan sepanjang 41 meter tersebut dipicu oleh kondisi tanggul Sungai Silandak yang mengalami kemiringan dan rembesan. Aliran air yang menggerus pondasi talud menyebabkan tanah di bawah badan jalan ikut tertarik, sehingga memicu amblas," kata Kepala Disperkim, Murni Ediati kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (7/5).
Dia menjelaskan, penanganan dilakukan secara komperhensif, misalnya perbaikan tanggul yang harus dilakukan terlebih dulu, sebelum dilakukan perbaikan tanah.
Perbaikan tanggul akan dilakukan BBWS dan DPU, sementara Disperkim akan melanjutkan dengan perbaikan badan jalan.
Baca Juga: Belanja Pegawai Membengkak, Wali Kota Salatiga Minta Puskesmas Ubah Cara Kerja
"Kami terus berkomunikasi dengan BBWS agar penanganan talud dapat segera dilakukan. Setelah itu, kami siap menindaklanjuti dengan perbaikan aspal jalan demi kenyamanan dan keselamatan warga,"ujarnya.
Sementara Dinas Perikanan Kota Semarang, juga turun ke lapangan Kamis (7/5) petang terkait dugaan warga yang menyebut jika faktor penyebab jebolnya tanggul dikarenakan populasi ikan sapu-sapu.
Ikan tersebut diduga melubangi tanggul, dan masuk ke dalam tanah sehingga membuat tanggul menjadi rapuh hingga akhirnya retak, dan membuat amblas badan jalan, sehingga mengancam empat rumah milik warga.
"Kita sudah kirimkan tim kesana, untuk melihat populasi ikan sapu-sapu di Sungai Silandak," kata Kepala Dinas Perikanan Soenarto.
Menurut pantauan yang ada, memang didapati ikan sapu-sapu di sungai tersebut, dan sekitarnya tanggul yang jebol.
Namun disebutkan populasi ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini masih terkontrol dan belum mengkhawatirkan (over populasi) seperti di Jakarta.
"Memang ada, tapi belum over populasi," ujarnya.
Kabid Pengelolaan Pembudidayaan Ikan, Dinas Perikanan Kota Semarang, Rita Muflikatun Nu'amah menambahkan, jebolnya tanggul terjadi karena gerakan arus sungai yang berbelok hingga menyebabkan rongga di titik jebolan tanggul serta badan jalan yang amblas .
"Air sungai disitu muter dan menggerus tanah dibawah tanggul, hingga akhirnya jebol dan tanahnya ambles," tambahnya
Jika melihat luasan dan lebar sungai, serta populasi ikan sapu-sapu yang ada, menurutnya belum begitu membahayakan dan balum masuk kategori over populasi.
Dari keterangan warga kata dia, saat curah hujan tinggi air di Sungai Silandak pun cukup kencang, karena memiliki hulu di daerah Pasadena dan Babankerep Ngaliyan
"Memang ada ikan sapu-sapu disana, tapi belum dalam kategori membahayakan jika melihat kondisi Sungai Silandak. Condongnya kerusakan tanggul karena aliran sungai yang kencang,"bebernya.
Anggota DPRD Kota Semarang, Joko Susilo, meminta Pemkot Semarang untuk memperbaiki tanggul yang jebol. Apalagi kondisi tanggul lebih tinggi jika dibandingkan area perkampungan, yang dikhawatirkan semakin parah karena curah hujan akhir-akhir ini masih cukup tinggi.
"Kalau belum diperbaiki, nanti air akan masuk ke perkampungan. Yang terimbas pasti satu RW disana,"ujarnya.
Politikus PDI-Perjuangan ini menilai aliran Sungai Silandak yang Berbelok, membuat tanggul rusak dan ambles karena ada perputaran air dibawah tanggul. Ditambah bangunan tanggul yang roboh kemarin usianya cukup tua.
"Usianya tanggul juga sudah tua, kalau nggak salah dibangun sejak tahun 1981 lalu, jadi memang rawan jebol," bebernya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi