RADARSEMARANG.ID, Semarang – Beredar percakapan seksual yang diduga dilakukan seorang dosen UIN Walisongo Semarang terhadap mahasiswa.
Dalam unggahan yang beredar di media sosial itu, tampak terduga pelaku menggoda dengan menggunakan kata-kata melecehkan.
Seperti ingin memelorotkan handuk hingga keinginan bersetubuh.
Baca Juga: Disdag Tegaskan Tak Ada Ganti Rugi untuk Korban Kebakaran Pasar Kanjengan Semarang
Humas UIN Walisongo, Astri Amanati Budyaningtyas buka suara. Ia menyatakan hal itu menjadi perhatian kampus.
Bahkan telah menerjunkan tim untuk melakukan investigasi.
"Ini jadi perhatian khusus kami juga. Disini kan ada pusat studi gender dan anak ya, mereka buat tim investigasi," ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Ia menyebutkan saat ini masih dalam penyelidikan tim.
Mengenai identitas terduga pelaku maupun korban, pihaknya belum sedia mengungkapkan.
Baca Juga: TPG Guru Non ASN Pesantren Mulai Cair, Ini Penjelasan Lengkap dari Kemenag
"Maaf ya mba, sebelum dinyatakan bersalah saya ga bisa nyebut apa-apa," tambahnya.
Sementara itu, Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menanggapi serius dugaan kasus pelecehan seksual yang diduga melibatkan seorang dosen di lingkungan kampus.
Saat ini, Dema bersama sejumlah pihak tengah melakukan koordinasi dan membentuk tim investigasi untuk menelusuri kasus tersebut.
Wakil Ketua Dema UIN Walisongo, Yusuf Aditya Pratama, mengatakan hingga kini pihaknya belum dapat merilis secara detail kronologi dugaan pelecehan seksual tersebut karena masih membutuhkan proses koordinasi dan pengumpulan data.
“Secara jelas kami memang belum melakukan rilis kronologinya seperti apa, karena memang kami masih membutuhkan banyak koordinasi. Hari ini kami akan berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait,” ujarnya.
Terkait informasi percakapan yang beredar dan diduga melibatkan mahasiswi, Yusuf mengaku pihaknya belum mengetahui secara pasti konteks kejadian tersebut, termasuk apakah berkaitan dengan aktivitas akademik seperti bimbingan skripsi atau lainnya.
“Untuk konteks tersebut dari kami memang belum mengetahui secara jelas itu dalam kondisi seperti apa. Nanti akan lebih jelas lagi ketika dari koordinasi tersebut sudah melakukan rilis terkait kronologi bagaimana pelecehan seksual tersebut terjadi,” katanya.
Soal identitas maupun posisi terduga pelaku, ia juga belum membuka informasi.
Menurutnya, hal itu masih membutuhkan investigasi lanjutan agar tidak menimbulkan kesimpulan prematur.
“Nah terkait hal tersebut mungkin kita belum bisa memberikan kejelasan karena itu belum bisa dibuktikan secara langsung. Jadi memang perlu adanya investigasi lanjutan,” lanjutnya.
Meski demikian, Yusuf memastikan jumlah korban lebih dari satu orang.
Namun hingga saat ini belum ada data pasti terkait jumlah mahasiswi yang diduga menjadi korban.
“Sejauh ini kami belum mengumpulkan jumlah data pastinya ada berapa anak, cuma dari beberapa informasi yang terkait bisa dipastikan lebih daripada satu,” ungkapnya.
Dema UIN Walisongo menegaskan tidak akan memberi ruang bagi pelaku pelecehan seksual di lingkungan kampus.
Organisasi mahasiswa itu juga berkomitmen mengawal penanganan kasus sesuai aturan yang berlaku.
“Pastinya dari kami secara tegas tidak memberikan ruang kepada pelaku pelecehan seksual. Kami komitmen menjaga nilai-nilai yang dipegang selama ini oleh perguruan tinggi,” tegas Yusuf.
Selain membentuk tim investigasi, Dema juga berkoordinasi dengan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), tim etik dekanat, serta sejumlah pihak kampus lainnya. Ke depan, mereka juga akan melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan seksual di masing-masing fakultas.