RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tanggul Sungai Silandak dan jalan perkampungan di Jalan Jembawan I, RT 06 RW 01 Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, ambles sepanjang sekitar 20 meter dengan kedalaman dua meter, dan mengancam empat rumah yang letaknya tak jauh dari tanggul.
Menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, keretakan tanggul sebenarnya terjadi cukup lama. Sementara tanggul dan jalan mulai ambles terparah terjadi Selasa (5/5) siang.
Warga menduga kerusakan tanggul hingga menyebabkan jalan perkampungan longsor, diduga disebabkan karena banyaknya ikan sapu-sapu di aliran Sungai Silandak, yang membuat rumah dengan cara melubangi tanggul.
Baca Juga: Bupati Batang dan Istri Serta Komunitas Lari Batang Runners Antusias Ramaikan Run for Rivers
"Kemarin Selasa (5/5) siang, mulai ada retakan parah dan mulai ambles. Malamnya tambah parah dan amblesnya semakin dalam, awalnya memang sudah retak," kata Projo, warga RT 06 RW 01, Jalan Jembatan I Kelurahan Kalibanteng Kulon, Rabu (6/4).
Dia menduga kerusakan tanggul diduga disebabkan ikan sapu-sapu, yang melubangi tanggul sampai ke bawah jalan, hingga ambles. Pantauan koran ini, memang banyak ikan sapu-sapu yang terlihat dari atas bibir sungai yang mengambil udara di permukaan air sungai.
"Dugaan kami ikan sapu-sapu nggerongi (membuat lubang, red), di pondasi tanggul sampai masuk ke bawah jalan, akhirnya ambles," jelasnya.
Projo mengaku was-was atas kondisi ambrolnya tanggul dan amblesnya jalan, pasalnya dirumah yang dia tempati hanya berjarak sekitar 1 meter dari jalan yang amblas. Apalagi saat ini curah hujan masih sangat tinggi, warga pun ketar-ketir jika tanggung longsor dan air sungai masuk ke perkampungan.
"Dulu tahun 1980an sempat jebol, satu kampung terdampak banjir. Ini buat kami warga disini ketar-ketir jika tidak segera ditangani," bebernya.
Dia berharap kerusakan tanggul dan amblesnya jalan segera ditangani, Projo mengaku sebelumnya sudah ada tinjauan dari Pemkot saat ada retakan halus. Namun sampai saat ini belum ada tindakan yang dilakukan.
"Beberapa kali sudah ada di survey, ditinjau berbeda Dinas saat ada retakan, tadi juga ada yang kesini, harapan kami segera ada tindakan pasti," pungkas dia.
Mamik warga lainnya mengaku was-was karena jalan yang ambles hanya berjarak sekitar 50 centimeter dari teras rumahnya."Kalau retaknya sudah lama, anak saya sempet nambal dengan semen karena tahunya tidak dalam, tapi ternyata sampai ambles cukup dalam," katanya.
Dia mejelaskan, jika saat tanggul dan jalan ambles Selasa (5/5) siang, Mamik yang masih berada di dalam rumah sempat panik karena merasakan getaran seperti gempa.
"Sekitar pukul 11, ada kayak lindu (gempa), kemudian ada suara gemuruh ternyata jalan sudah ambles," bebernya.
Mamik meminta agar penenangan dilakukan secara cepat, selain tak jauh dari teras rumah, dia ketar-ketir jika curah hujan tinggi sehingga menyebabkan banjir dan amblesan cukup parah.
"Katanya gara-gara ikan sapu-sapu yang melubangi tanggul, growong kemudian ambles. Harapan saya segera dilakukan perbaikan atau penguatan tanggul," harapnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi