RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tiga pelari asal Perancis, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Jakarta dengan berlari, Minggu (3/5).
Start dari Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, sekitar pukul 15.00 petang, mereka berlari 25 kilometer ke menuju Kendal, dengan menembus padatnya Jalan Pantura Semarang Kendal.
Sam mengaku tidak ada kendala ketika berlari dari Simpang Lima sejauh 5 kilometer ke Kalibanteng. Cuaca panas Minggu sore tak menghalangi mereka berlari.
"Nggak ada terlalu panas sih, saya masih menikmati, sejauh ini belum ada kendala," kata Sam kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Berhenti sekitar 15 menit, mereka kembali berlari sejauh 5 kilometer lagi ke barat, menuju tempat transit kedua atau water station (ws) di daerah Tugu, yang notabenenya adalah jalan pantura.
Mereka harus berpacu dan berbagi jalan dengan bus serta truk besar yang melintas.
"Ada jalan tapi cukup sempit, banyak truk, jadi larinya harus serba waspada apalagi di jalan raya," tambah Sam ketika sampai di ws dua.
Baca Juga: Agustina Bakal Sinkronkan Run for Rivers dengan Semarang Wegah Nyampah
"Alamak lumayan juga ya," kelakar Sam.
Sama seperti di WS 2, mereka berhenti untuk sekedar mengambil nafas dan menikmati air kepala, serta buah-buahan yang disediakan tim Run for River dan Sungai Watch.
Sesekali mereka melihat saluran air dan sungai yang dilewati. Kebetulan aliran air sungai tidak ada sampah terlihat secara kasat mata dari atas.
Menuju ke WS 3 didepan SMK Texmaco, dan sampai sekitar pukul 18.00 petang. Karena hari sudah gelap, mereka pun memakai rompi reflektif dan lampu untuk berlari ke Kendal.
"Ya mungkin kendalanya dari segi kemacetan, dan polisi ya, banyak debu juga," beber Gary.
Dia mengaku untuk berlari di Jalan Pantura memang cukup susah, apalagi jarang digunakan untuk lari. Berbeda dengan dipusat kota, banyak pedestarian yang memudahkan pelari.
"Jarang orang lari, jadi nggak ada tempatnya harus berlari dijalan raya. Agak susah ya, kalau di pusat kota keren," katanya.
Kendalanya kata dia, adalah banyak truk, debu dan macet. Hal ini menurutnya membuat tenaga cepat terkuras.
"Ya banyak truk, panas, macet juga. Kemarin kita sudah recovery, mungkin harus ada penyesuaian lagi," pungkasnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi