RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suasana malam di kawasan Pasar Kanjengan Semarang menegangkan Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 22.30.
Pasar Kanjengan Semarang kebakaran hingga menghanguskan 226 kios PKL dan pertokoan di ruko Blok F.
Para pedagang pun mengalami kerugian hingga puluhan juta, sebab tak sempat menyelamatkan harta benda di dalam kios PKL miliknya.
Hal ini dialami Suryani, pedagang sembako dan Emas di PKL komplek Pasar Kanjengan.
Baca Juga: Pasar Kanjengan Semarang Ludes Terbakar
Terlihat, Suryani hanya terduduk di komplek pertokoan Blok C, seberang jalan depan lokasi PKL yang kebakaran.
Perempuan berhijab ini duduk menyendiri, sembari mengoperasikan handphone. Sesekali juga melihat ke arah PKL yang terbakar.
Suryani mengaku, memiliki kios di dalam lapak-lapak yang hangus terbakar. Menurutnya, tak mengetahui awal mula penyebab munculnya api.
Kala itu sedang bersama keluarga di rumahnya di wilayah Kecamatan Genuk.
Baca Juga: Petugas Damkar Terkendala Pasokan Air saat Padamkan Kebakaran Pasar Kanjengan Semarang
"Saya enggak tau, rumah saya juga jauh. Tadi itu kan saya jam 16.00 baru pulang (dari PKL). Jam 22.00 itu saya masih nunggu anak saya datang. Barusan duduk sebentar, ada telpon dari teman katanya pasar kebakaran. Terus saya kesini, apinya yang sudah besar," ungkapnya dilokasi kebakaran kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (30/4/2026).
Suryani mengaku, rata-rata para pedagang di PKL tersebut benyak yang tidak tau, lantaran sudah pulang ke rumah.
Meskipun juga ada sebagian kecil yang tidur di dalam kios, namun tidak mengetahui awal munculnya api.
Baca Juga: Api Sempat Menyala Lagi Disertai Suara Ledakan saat Kebakaran Pasar Kanjengan Semarang
Sehingga, kalau malam hari lokasi tersebut cenderung sepi aktivitas. Sedangkan aktifitas yang dilakukan Suryani mulai setelah tengah malam atau sekitar pukul 02.30.
"Saya jualannya kan nanti jam 02.30. Saya jualan sembako sama keemasan, beli-beli Emas," katanya.
Namun, Suryani tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan harta benda di dalam kiosnya. Sehingga habis, hangus terbakar. Kerugiannya pun mencapai puluhan juta.
"Banyak mas, sembakonya ada kalau Rp 20 juta. Itu sore baru ngisi (kulakan) barang dagangan, setelah jualan kan saya langsung kulakan. Kalau emasnya tidak ada, cuma uang di dalam aja Rp 9 juta," jelasnya.
Suryani mengaku belum mengetahui langkah selanjutnya untuk kembali melakukan jualan. Sekarang ini, masih memikirkan modal untuk aktifitasnya.
Meski demikian, Suryani nampak tegar. Ia hanya pasrah segala rejeki sudah diatur sama yang maha kuasa. Menanggapi terkait harapannya adanya bantuan, Suryani hanya menjawab Amiin.
"Semoga kedepannya Allah selalu memberikan yang terbaik. Saya disini jualan sudah hampir satu tahun," katanya.
Disisi lain, ada seorang perempuan yang belum diketahui namanya. Terlihat, perempuan ini masih syok, hanya duduk terdiam tidak melakukan aktifitas sama sekali. Usianya diperkirakan separuh abad. Sebagain rambutnya memutih.
Informasi yang diperoleh dari pedagang di pertokoan ruko, sebelah selatan PKL yang terbakar mengatakan perempuan tersebut salah satu korban dari pedagang PKL.
"Itu ibu-ibu itu salah satu pedagang PKL di tengah situ, kiosnya juga terbakar. Kondisinya masih syok, juga mungkin sasak napas karena asap kebakaran," kata seorang pedagang buah.
Baca Juga: Hujan Badai Tak Hentikan Run for River
Perempuan ini pun tak banyak bicara. Namun sesekali memegang dadanya yang diduga sedang mengalami gangguan pernapasan akibat asap kebakaran.
"Tadi dia jalan kaki keluar dari PKL juga teriak-teriak kebakaran. Kalau bisa panggilan petugas medis, PMI atau ambulan hebat," sambungnya.
Sementara pedagang lain, Wahyudi, mengaku juga sama, tak mengetahui munculnya api.
Padahal saya kejadian sedang tidak di dalam kios bersama isterinya. Kemudian terbangun setelah mendengar teriakan kebakaran.
"Tempat saya di tengah. Dengar teriakan kebakaran, istri saya bangun terus bangunin saya. Pas bangun itu depan saya sudah ada api besar. Rosok-rosok saya yang mau ditimbang besok sudah habis itu kebakar semua," bebernya.
"Pastinya karena apa kurang tahu. Tapi apinya cepat menyebar. Kalau total kerugiannya masih belum tau," katanya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi