RADARSEMARANG.ID – Penutupan ruas lama di kawasan Gombel, Gombel Lama, sejak Senin siang (20/4/2026) langsung berdampak signifikan terhadap arus lalu lintas di Kota Semarang. Kebijakan tersebut memicu kemacetan parah di jalur alternatif Gombel Baru, yang kini difungsikan sebagai jalur dua arah untuk menampung seluruh kendaraan dari kedua sisi.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular panjang dari berbagai titik, terutama di kawasan tanjakan hingga mendekati Flyover Jatingaleh.
Kepadatan terjadi sejak siang hingga malam hari, dengan laju kendaraan yang melambat drastis akibat penyempitan fungsi jalan dan tingginya volume lalu lintas.
Baca Juga: Gombel Lama Semarang Ditutup, Pengguna Jalan Berangkat Lebih Pagi hingga Pilih Jalan Memutar
Petugas kepolisian dan dinas perhubungan tampak berjaga di sejumlah titik krusial untuk mengatur arus kendaraan. Mereka mengarahkan pengendara yang biasanya melintasi Gombel Lama agar beralih ke Gombel Baru.
Namun, penerapan sistem dua arah di jalur yang sebelumnya didesain untuk satu arah ini justru menimbulkan bottleneck atau titik penyempitan arus, yang berujung pada kemacetan dari kedua sisi.
Sejumlah pengendara mengaku terjebak macet lebih lama dari biasanya. “Biasanya lewat sini cuma 10–15 menit, sekarang bisa sampai satu jam lebih,” ujar seorang pengemudi mobil yang melintas di kawasan tersebut.
Kondisi ini diperparah oleh kendaraan berat yang ikut melintas di jalur tanjakan, sehingga memperlambat pergerakan kendaraan lain.
Untuk mengurai kepadatan, masyarakat mulai mencari jalur alternatif. Salah satu rute yang kini ramai diperbincangkan adalah jalan tembus yang menghubungkan kawasan Jangli dengan kampus Universitas Diponegoro di Tembalang. Jalur ini dinilai menjadi solusi praktis untuk menghindari kemacetan di Gombel Baru maupun sejumlah titik padat lainnya seperti Jalan Setiabudi dan Jalan Dr. Wahidin.
Jalur alternatif tersebut menghubungkan kawasan Jangli dengan area kampus Undip melalui jalan tembus yang telah selesai dibangun beberapa tahun lalu.
Meski belum sepenuhnya dilengkapi fasilitas penunjang, jalan ini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, jalan tembus ini mulai dibangun sekitar tahun 2022 sebagai upaya meningkatkan konektivitas antarwilayah di Semarang bagian selatan. Kehadirannya diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas di jalur utama yang selama ini kerap mengalami kemacetan, terutama pada jam sibuk.
Secara geografis, jalur ini memiliki kontur yang cukup menantang. Pengendara akan melewati jalan berkelok dengan kondisi naik turun yang cukup tajam.
Meski sebagian besar permukaan jalan telah diaspal dengan baik, terdapat beberapa titik yang mengalami kerusakan atau ambles sehingga membutuhkan perhatian ekstra dari pengguna jalan.
Selain itu, minimnya penerangan jalan menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi pengendara yang melintas pada malam hari.
Hingga kini, belum seluruh ruas dilengkapi lampu penerangan, sehingga visibilitas menjadi terbatas. Pengendara diimbau untuk berhati-hati, terutama saat kondisi cuaca buruk atau saat berkendara di malam hari.
Baca Juga: Mulai Diberlakukan Dua Arah, Lalulintas Jalan Gombel Baru Semarang Terpantau Padat
Adapun rute yang dapat ditempuh dari arah Jangli cukup mudah diakses. Pengendara dapat memulai perjalanan dari Jalan Burangrang Raya, kemudian berbelok ke arah depan kawasan perumahan Harmony Residence. Dari titik tersebut, jalur akan mengarah langsung menuju kawasan kampus Fakultas Psikologi Undip di Tembalang.
Waktu tempuh melalui jalur ini relatif singkat, yakni sekitar 3 menit dalam kondisi lalu lintas normal. Hal ini menjadikannya alternatif yang cukup efisien dibandingkan harus melalui jalur utama yang sering mengalami kemacetan panjang.
Sebaliknya, bagi pengendara yang datang dari arah kampus Undip, khususnya dari Jalan Prof. Soedarto, dapat mengambil arah menuju Jalan Gubernur Muchtar, kemudian melanjutkan perjalanan hingga masuk ke kawasan Jangli melalui Jalan Burangrang Utara IV. Rute ini juga dinilai cukup praktis dan dapat menghemat waktu perjalanan.
Seiring meningkatnya penggunaan jalur ini sebagai alternatif, kawasan tersebut juga mulai dikenal sebagai salah satu titik nongkrong baru di Semarang. Banyak anak muda memanfaatkan lokasi ini untuk bersantai, terutama pada sore hari sambil menikmati panorama matahari terbenam.
Pemandangan dari jalur ini memang cukup menarik, mengingat posisinya yang berada di ketinggian. Hamparan kota Semarang terlihat jelas dari beberapa titik, menjadikannya spot favorit untuk menikmati suasana senja. Tak sedikit pula pengendara yang sengaja berhenti sejenak untuk berfoto atau sekadar menikmati pemandangan.
Namun, meningkatnya aktivitas nongkrong di area ini juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Selain berpotensi mengganggu arus lalu lintas, aktivitas tersebut juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama jika dilakukan di bahu jalan yang sempit.
Pemerintah Kota Semarang diharapkan dapat segera melakukan evaluasi terhadap kondisi ini, baik dari sisi pengaturan lalu lintas maupun penyediaan fasilitas pendukung seperti penerangan jalan dan rambu-rambu keselamatan. Dengan demikian, jalur alternatif ini dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan keselamatan pengguna jalan.
Di sisi lain, kebijakan penutupan Gombel Lama juga memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat terkait perencanaan dan mitigasi dampaknya. Beberapa pihak menilai bahwa rekayasa lalu lintas seharusnya disertai dengan kesiapan infrastruktur pendukung yang memadai, termasuk jalur alternatif yang aman dan nyaman.
Baca Juga: SKTP April 2026 Sudah Terbit di Info GTK, Jadwal Pencairan Tunjangan Profesi Guru
“Harusnya sudah diantisipasi sebelumnya, jadi tidak seperti sekarang yang malah bikin macet di mana-mana,” ujar seorang warga yang tinggal di kawasan Tembalang.
Para pengamat transportasi juga menilai bahwa sistem dua arah di Gombel Baru bukan solusi jangka panjang. Diperlukan kajian lebih mendalam untuk menentukan skema terbaik dalam mengelola arus lalu lintas di kawasan tersebut, mengingat karakteristik jalannya yang menanjak dan sempit.
Selain itu, koordinasi antarinstansi juga menjadi kunci dalam menangani permasalahan ini. Tidak hanya melibatkan kepolisian dan dinas perhubungan, tetapi juga pihak terkait lainnya seperti pemerintah kota dan pengelola infrastruktur.
Dengan meningkatnya jumlah kendaraan setiap tahun, kebutuhan akan sistem transportasi yang terintegrasi dan efisien menjadi semakin mendesak.
Jalur alternatif seperti tembus Undip–Jangli memang dapat menjadi solusi sementara, namun tetap diperlukan perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan.
Untuk saat ini, masyarakat diimbau untuk merencanakan perjalanan dengan lebih matang, memilih waktu tempuh yang tepat, serta memanfaatkan jalur alternatif yang tersedia. Kesabaran dan kehati-hatian menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi lalu lintas yang belum sepenuhnya stabil.
Situasi di kawasan Gombel dan sekitarnya diperkirakan masih akan mengalami dinamika dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan penyesuaian terhadap rekayasa lalu lintas yang diterapkan. Evaluasi berkala diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih efektif demi kelancaran mobilitas warga Semarang. (dka)
Editor : Baskoro Septiadi