RADARSEMARANG.ID, Semarang - Jalan Gombel Baru mulai diberlakukan menjadi dua arah menyusul dimulainya proyek pekerjaan perbaikan Jalan Gombel Lama, yang memakan waktu 7 bulan kedepan.
Terlihat, jalan Gombel Lama mulai ditutup menggunakan road barier atau pembatas jalan, dimulai dari ujung mendekati turunan, atau arah dari Traffic light Tembalang, mulai Senin (20/4/2026).
Para pekerja proyek pembangunan dengan memakai perlengkapan safety juga terlihat sedang beraktivitas mengukur Jalan Gombel Lama.
Mereka ada juga yang memasang rambu-rambu dilarang melintas, ada juga yang menurunkan tiang listrik dan internet guna kelancaran proyek pembangunan jalan.
Baca Juga: Siap-siap Macet, Jalan Gombel Lama Semarang Ditutup 7 Bulan, Begini Pengalihan Arus Lalu Lintasnya
Sementara, juga terlihat, road barier telah dipasang di tengah jalan Gombel Baru, untuk rambu pemisah dua lajur dari lintasan menuju atas dan turunan.
Pembatas jalan tersebut dipasang mulai dari ujung flyover Jatingaleh menuju tanjakan Gombel Baru, yang dilakukan oleh petugas Dinas atau instansi terkait.
Sampai sejauh ini belum terlihat adanya dampak kemacetan. Arus lalulintas roda dua maupun roda empat dari arah Tembalang menuju yang melintas di turunan Jalan Gombel Baru masih kondusif.
Begitu juga arus lalulintas sebaliknya, melintas juga masih lancar.
Baca Juga: Beredar Kabar Hoaks Penutupan Jalan Gombel Lama Semaramg 14 April, BBPJN Tegaskan Hal Ini
"Kalau siang nggak macet, biasanya kalau ramai-ramainya ya sore hari. Kalau mau menghindar kemacetan ya sebaiknya bisa lewat daerah Undip,," kata warga sekitar, Bimbo, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (20/4/2026).
Pria yang juga pemilik kios tambal ban dilokasi ini mengaku, penutupan Jalan Gombel Lama sudah dimulai sejak pukul 09.00.
Menurutnya, sementara ini warga sekitar di Jalan Gombel Lama masih diperbolehkan melintas di lokasi jalan tersebut. Mengingat pekerjaan yang berlangsung belum krusial.
"Adanya dua arah ini ya kesusahan, apalagi bilangnya sampai tujuh bulan. Tapi belum tahu kenyataannya, siapa tahu mundur. Harapannya ya bisa cepat selesai," ujarnya.
"Kayak sebelumnya pernah perbaikan flyover bilangnya setahun, jadi 2 tahun, jadi macet total. Kalau ini kan kemungkinan ada sangkut pautnya sama pembangunan mall, harusnya bisa cepat," imbuhnya.
Ketua RT 6 RW 5 Kelurahan Tinjomoyo, Tugimin menyebut perbaikan Gombel Lama sudah dilakukan beberapa kali.
Namun, hasilnya jalan tersebut masih retak yang disebabkan struktur tanah labil.
"Ini semoga terakhir kali untuk diperbaiki karena sudah berkali-kali diperbaiki memang hasilnya memang kayak gini, patah terus," harapnya.
Pihaknya juga mengatakan, hasil perbaikan Jalan Gombel Lama nantinya dapat memberikan manfaat bagi warga Kota Semarang, khususnya warga di sekitar Gombel Lama. Namun menurutnya, proyek perkejaan tersebut ada dampak lainnya juga.
"Ditutup 7 bulan, warga ya terdampak karena jualannya dari para pengendara motor, warga yang dari atas juga pasti terdampak kalau punya UMKM," katanya.
Terkait kompensasi, pihaknya menyebut, sementara ini tak ada kompensasi bagi warga Kelurahan Tinjomoyo.
Namun, BBPJN telah mendata jumlah pelaku usaha di Jalan Gombel Lama sebelumnya.
"Kompensasi kelihatannya masih disosialisasikan, karena kemarin sudah didata para pedagang, ada sekitar 50-an. Kalau ada kompensasi kita alhamdulillah," ujarnya.
Dampak lain dirasakan para penumpang transportasi umum bus Trans Semarang. Hal ini diungkapkan salah satu warga Bukitsari, Yen, 60, yang tengah menunggu bus Trans Semarang di tepi Jalan Gombel Baru.
Menurut Yen, biasanya naik bus Trans Semarang dari halte di Gombel Lama. Namun, karena adanya penutupan, harus menunggu di Jalan Setiabudi. Alasannya, bus Trans Semarang tak mau berhenti.
"Ini pengalihan arus seharusnya kan dikasih petunjuk supaya drivernya Trans Semarang maupun Trans Jateng bisa berhenti, karena ini tidak mau berhenti," katanya.
"Padahal busnya kosong. Harusnya shelter BRT dibuat lagi, malah dibongkar," ujarnya.
Diakuinya, sudah sudah menunggu bus 20 menit. Menurutnya juga, dengan ditutupnya Jalan Gombel Lama, alangkah baiknya ada pembuatan halte baru guna mempermudah akses masyarakat utamanya pengguna tranportasi umum.
"Harusnya dibuatkan tempat yang nyaman untuk lansia, tidak nyaman karena harus begini. Sekarang kalau mau naik BRT susah, untuk lansia riskan," ujarnya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi