RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Fisip Undip) terus memperkuat posisinya sebagai fakultas berkelas dunia dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan di Semarang.
Langkah ini sejalan dengan visi Universitas Diponegoro yang menargetkan diri menjadi universitas berkelas dunia.
Mahasiswa dari Rusia, Jerman, hingga Gambia kini duduk di ruang-ruang kelas Semarang.
Di tengah dinamika globalisasi pendidikan tinggi, Fisip Undip menegaskan diri bukan lagi sekadar fakultas lokal, melainkan pelabuhan pertemuan budaya dunia.
Dekan Fisip Undip, Dr. Teguh Yuwono, menyatakan fakultasnya tengah memperkuat lompatan menuju kampus berkelas global.
“Kami tidak hanya menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat lokal, tetapi juga welcoming bagi mahasiswa dari seluruh dunia. Ini bagian dari pengembangan potensi internasional yang memperluas kontribusi kami hingga tingkat global,” ujarnya usai International Student Gathering 2026 bertema The Orange Harbor: Anchoring Global Cultures at Diponegoro, Jumat (27/2/2026).
Menurut Teguh, ukuran fakultas berkelas dunia tidak hanya dilihat dari reputasi. Tetapi juga dari jumlah mahasiswa asing, mutu metode pembelajaran, serta sistem pengajaran berstandar internasional.
Target besarnya mencapai visi dan misi fakultas yakni mampu menjadi rujukan global.
Saat ini, mahasiswa pertukaran dari Rusia, Vietnam, Jerman, Pakistan, Gambia, China, Belanda, dan Italia menempuh studi di Fisip. Sebaliknya, mahasiswa Fisip juga dikirim ke Italia, Korea Selatan, Hungaria, dan China.
Pola ini menandai perubahan arah. Jika dulu perguruan tinggi Indonesia lebih sering mengirim mahasiswa ke luar negeri, kini Fisip menjadi destinasi studi internasional.
“Artinya kami sudah bermain di ranah global, tidak lagi hanya fokus pada level lokal dan regional,” tegasnya.
Sejak berdiri, lebih dari 50 mahasiswa internasional tercatat mengikuti perkuliahan luring di Fisip, di luar peserta program daring.
Kehadiran mereka bukan sekadar angka, melainkan ruang pertukaran budaya dan perspektif akademik. Ilmu manajemen, politik, dan bisnis relatif universal, praktik dan pendekatan kultural di Eropa, Asia, dan Indonesia menghadirkan warna berbeda dalam pertukaran mahasiswa ini.
Untuk mempercepat adaptasi, Dr Teguh menyatakan setiap mahasiswa asing mendapat pendamping. Fakultas juga mengembangkan International Undergraduate Program (IUP) sebagai kelas internasional berbahasa Inggris.
Program internasional tersedia mulai jenjang sarjana (S1), magister (S2), hingga doktoral (S3), termasuk untuk mahasiswa asing di pascasarjana.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Bahasa dan perbedaan budaya menjadi ujian, baik bagi mahasiswa maupun dosen. Para pengajar dituntut mampu mengajar dan berdiskusi dengan standar akademik internasional dalam bahasa Inggris. Teguh menyebut sekitar 30 persen dosen FISIP merupakan lulusan luar negeri, sehingga relatif siap menghadapi dinamika tersebut.
"Untungnya Fisip ini kan banyak lulusan luar negeri ya. Jadi dosen-dosen kita itu barangkali sekitar 30% itu alumni dari luar negeri sehingga tidak kesulitan kita melakukan adaptasi," tegas Yuwono.
Sementara itu, satu di antara mahasiswa asing yang tengah menempuh studi di program DEEP (diponegoro exchange experience program) adalah Bazhanov Danil Petrovich asal Kazan (volga region) federal university, Russia. Ia mengikuti program pertukaran pelajar selama 1 semester di International Undergrade Program (IUP) Business Administration Fisip Undip.
Daniel menjelaskan alasan memilih Undip sebagai kampus tujuan dalam program IUP. Menurutnya hal itu karena peluang untuk diterima lebih besar.
"Dari universitas saya di Russia menawarkan Tiongkok, dan beberapa negara lain. Tapi menurut saya sudah banyak yang sering ke Tiongkok dibanding ke Indonesia," kata Daniel pada wartawan.
Ketertarikan Daniel mempelajari budaya di Indonesia diakui cukup tinggi. Namun ia tak menargetkan khusus selama berkuliah di Indonesia.
Satu hal yang pasti, lanjut dia, keramahan masyarakat dan makanan menjadikannya nyaman belajar di Indonesia.
"Sekarang saya merasa sangat nyaman dan bahagia berada di sini. Saya menyukai semua hal tentang pengalaman saya di Indonesia. Saya memang datang tanpa ekspektasi khusus. Saya hanya ingin mengikuti dan menikmati semua pengalaman yang ada di sini serta menambah pengalaman sebanyak mungkin," katanya.
Ha serupa diungkap mahasiswa lain asal Vietnam, Le Hoang Vy. Ia mengaku terkesan bisa merasakan studi di Undip.
Dengan belajar di Semarang, ia menemukan tantangan baru belajar di luar negaranya.
"Alasan utamanya tentu saya mau menantang diri saya di negara lain, Indonesia saya kira negara yang menarik, sebagai salah satu negara terbesar di Asia Tenggara dengan ragam budayanya. Saya ingin belajar banyak hal di sini," jelas Mahasiswi asal Ho Chi Minh University Of Banking ini.
Selain dua orang itu, mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) di Undip ini berasal dari Pakistan, China, Madagascar, Korea Selatan, Sierra Leone, Gambia, Zanbibar, Yaman, Russia, Vietnam, dan Jerman. Para mahasiswa tersebut ada yang menempuh kuliah S1, S2, dan S3. (ifa)
Editor : Tasropi