RADARSEMARANG.ID, Semarang - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Jawa Pos Radar Semarang berjalan sederhana namun khidmat. Penuh makna dan dorongan semangat. Semangat untuk kembali ke khittah pers.
Ada yang menarik dalam moment kali ini. Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi memberikan apresiasi kepada empat wartawan yang memiliki dedikasi tinggi: Figur Ronggo Wassalim dan Devi Khofifatur Rizqi, keduanya wartawan Jawa Pos Radar Semarang.
Dua lainnya merupakan wartawan Jawa Pos Radar Kudus: Andika Trisna Saputra dan Fikri Thoharudin.
Selain Radar Semarang, Baehaqi juga menakhodai Radar Kudus. Apresiasi diwujudkan dengan piagam penghargaan serta uang tunai Rp2 juta dan Rp1 juta.
Empat wartawan jempolan tersebut terpilih karena dalam setahun terakhir telah berkontribusi besar dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi pers.
Ada sembilan kriteria penilaian: Produktif, tulisannya baik, rajin ke lapangan, disiplin, berintegritas, loyal pada perusahaan, terus belajar, memiliki etos kerja tinggi, serta beretika baik.
Dalam kesempatan tersebut, Baehaqi menyampaikan sebagaimana tema HPN 2026 "Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat". Keberadaan pers yang bersifat profesional, independen, dan berintegritas akan mendukung ketahanan ekonomi serta kemajuan bangsa.
"Selamat memperingati Hari Pers Nasional, semoga terus tumbuh dengan profesional, tetap independen, dan berintegritas," ujarnya Senin (9/2).
Di tengah arus teknologi yang semakin massif, Baehaqi mengingatkan jika wartawan sejatinya adalah seniman.
Menulis bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi mengolah realitas dengan rasa, pilihan diksi, dan struktur kalimat yang hidup.
Karena tulisan yang baik justru lahir dari kalimat pendek, jernih, dan mendayu-dayu. Bukan dari paragraf panjang yang kaku dan malas berpikir-sekadar mentranskrip hasil wawancara-.
Wartawan harus dibarengi standar kualitas dan keberanian jurnalistik. Memegang teguh kode etik. Apalagi sekarang saingannya bukan hanya media cetak, melainkan online dan media sosial.
“Kalau mau bertahan, kuncinya menulis dengan benar. Mau atau tidak,” tegasnya.
Keberanian itu, kata Baehaqi, hanya lahir dari liputan lapangan. Tanpa turun ke lokasi, wartawan tak akan memahami realitas, apalagi merasakan risiko.
Ia mencontohkan ancaman fisik yang dialami seorang wartawan Radar Kudus usai mengungkap kasus dugaan suap hakim bernilai miliaran rupiah. Ancaman itu tak mungkin datang jika liputan hanya berbasis pesan singkat atau wawancara jarak jauh.
"Jadi kawan-kawan di situlah harga sebuah berita diuji," tuturnya.
Untuk menambah rasa syukur dan doa untuk kesuksesan, peringatan HPN di Jawa Pos Radar Semarang ditutup dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama seluruh karyawan. (ifa/zal)
Editor : Baskoro Septiadi