RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ratusan warga Tambaksari RW 7, Kelurahan Mangkang Wetan, melakukan gotong royong membangun jembatan darurat, agar akses warga tidak lagi terisolir, Minggu (1/2).
Dibantu TNI Polri, Kecamatan Tugu, dan Kelurahan Mangkang Wetan, mereka mencoba menancapkan bambu berukuran besar sebagai pondasi di dasar sungai sebagai fondasi dengan alat seadanya.
Ada pula yang naik ke gethek atau sampan dengan membawa mesin pompa, agar memudahkan bambu ditancapkan.
"Siji, loro, telu, surung (satu, dua, tiga, dorong, red)," ucap salah satu warga yang naik ke bambu yang dipancang agar bisa menancap lebih dalam.
Selain itu warga lain nampak mempersiapkan bambu dengan parang, agar halus sebagai badan dan dasar jembatan.
Menurut informasi yang ada, pembangunan jembatan rampung sepenuhnya dalam tiga hari kedepan.
Sebelumnya diketahui jembatan lama penghubung warga yang tinggal RT 6 sampai 9, roboh akibat derasnya aliran Sungai Beringin, Kamis (15/1) lalu, imbasnya warga harus menggunakan gethek ataupun perahu, untuk menuju ke akses utama kampung, dan Kelurahan Mangunharjo.
"Lebih dari dua mingguan, warga terisolir karena akses jembatan penghubung roboh. Dengan adanya jembatan darurat ini, setidaknya bisa membantu warga untuk menyebrang," kata Sumadi, Ketua RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan.
Menurut Sumadi, saat jembatan ambrol, berbagai akses lumpuh total, termasuk pengelolaan sampah.
Siswa sekolah, pekerja pun harus antri naik perahu atau sampan untuk menyebrangi sungai.
"Kemarin juga sampah kota tumpuk sementara dipinggir tambak, agar tidak penuh. Minimal besok kalau sudah jadi masalah sampah juga bisa selesai," tuturnya.
Di RW 7 Tambaksari, sekitar 170 kepala keluarga (KK) terdampak langsung dan terisolir, karena putusnya jembatan.
Mayoritas dari mereka, bekerja sebagai nelayan, karyawan swasta yang sehari-hari sangat bergantung pada akses keluar masuk kampung.
Jembatan darurat, kata dia hanya dirancang untuk pejalan kaki dan sepeda motor, meski dengan pembatasan ketat.
Struktur utama jembatan kata dia menggunakan bambu, nantinya alas akan menggunakan papan, serta kanan kiri jembatan akan memakai anyaman bambu.
"Intinya yang penting aman buat warga, aksesnya hanya bisa digunakan orang, motor dan gerobak," bebernya.
Lurah Mangkang Wetan, Benny Irawan, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan dilakukan secara swadaya oleh warga, serta dibantu anggaran swakelola dari Kecamatan Tugu, serta sumbangan dari Ketua DPRD Kota Semarang, Kadaru Lusman. Warga kata Benny juga mendapatkan bantuan tenaga dari TNI dan Polri.
"Kita gunakan bambu jenis petung, ini swadaya warga, disupport oleh pihak kecamatan, Pak Pilus (Ketua DPRD, red) dan TNI Polri," katanya.
Benny menerangkan, jembatan darurat nantinya memiliki panjang sekitar 30 hingga 36 meter, dengan lebar sekitar 1,5 meter membentang di atas Sungai Beringin.
Awalnya pembangunan jembatan dirancang hanya untuk pejalan kaki, namun warga menghendaki bisa dilalui sepeda motor dan gerobak.
"Awalnya untuk pejalan kaki, tapi diupayakan bisa dilewati sepeda motor dan gerobak sampah. Kalau enggak, sampah enggak bisa dibuang ke TPS di seberang,"jelasnya.
Untuk pembangunan ini lanjut Benny, membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 juta, salah satunya untuk membeli bambu.
Proses pengerjaan ditargetkan selesai dalam tiga hari, termasuk tahap finishing.
"Targetnya tiga hari bisa rampung semua," tuturnya.
Jembatan lama kata dia, sebenarnya sudah cukup kokoh karena menggunakan cor dan besi. Namun, pondasi besinya tergerus arus sungai saat debit air tinggi.
Selain itu, jembatan lama dipastikan tidak dibangun titik yang sama jika nanti sudah ada anggaran pembangunan jembatan oleh BBWS Pemali - Juana, ataupun Pemkot.
"Karena di jembatan lama, pemilik lahan tidak boleh lagi digunakan untuk akses warga. Jembatan darurat dibangun karena jalan umum, sehingga tidak menggangu lahan milik warga," jelasnya.
Terkait cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga Februari, Benny mengakui ada kekhawatiran, jika jembatan darurat yang dibangun saat ini roboh.
Namun, sia memastikan jika konstruksi jambatan darurat sudah disesuaikan.
"Tiang utama tidak dipasang di tengah sungai, agak kepinggir. Tinggi jembatan juga kita samakan dengan talud," pungkasnya.
Terpisah, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, meminta adanya percepatan kebijakan pembangunan jembatan permanen yang menjadi akses penghubung warga RW 7 Tambaksari pascabanjir.
Pilus sapaannya, bahkan sudah beberapa kali melakukan peninjauan saat banjir, paska jembatan putus, dan ketika warga melakukan gotong royong membangun jembatan darurat.
"Memang tidak bisa dibiarkan, harus ada solusi darurat salah satunya dengan jembatan darurat. Mereka kehilangan akses utama, sehingga butuh perhatian khusus dan respon cepat dari pemerintah," tambah dia.
Pilus menilai, ambrolnya jembatan penghubung berdampak luas pada kehidupan warga. Praktis warga kehilangan jalur utama menuju pasar, sekolah, hingga fasilitas pelayanan dasar, alias terisolir.
"Sambil menunggu kepastian dari BBWS, jembatan darurat dibangun. Karena memang tidak bisa menunggu terlalu lama," bebernya.
Meskipun tengah dibangun jembatan darurat, dia meminta agar tidak menjadi solusi permanen. Pemerintah tetap harus hadir dengan kebijakan yang jelas, yakni pembangunan jembatan baru yang aman, dan bisa digunakan warga.
Pilus sendiri sudah telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU), yang kemudian diteruskan ke BBWS.
"Ini hanya sementara, jadi harus ada kebijakan yang jelas kapan akan dibangun jembatan baru," tegasnya.
Menurutnya, pentingnya sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga pemerintah pusat.
Pasalnya, dari putusnya jembatan kemarin, selain akses warga yang terisolir, aktivitas ekonomi terganggu, anak-anak sekolah kesulitan berangkat, dan kendaraan warga terpaksa dititipkan di seberang sungai.
"Warga punya hak untuk hidup normal, sehingga kami di legislatif akan terus mendorong agar jembatan baru direalisasikan," pungkasnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi