RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tujuh siswa sekolah rakyat (SR) yang ada di Kota Semayang, mengundurkan diri dengan berbagai alasan.
Hal ini menjadi salah satu tantangan terkait kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan anak sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menjelaskan sejumlah siswa mengundurkan diri dari SR bukan karena kualitas pendidikan, melainkan tekanan ekonomi keluarga.
"Orang tuanya ingin anaknya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Ada juga yang memang terbiasa meminta-minta, sehingga anaknya diarahkan untuk ikut menguatkan ekonomi keluarga," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (29/1).
Dia menerangkan, ada tujuh siswa yang keluae selain karena masalah ekonomi, ada pula orang tua yang keberatan anaknya tinggal di asrama.
Saat ini, kuota SR di Kota Semarang masing-masing 50 siswa untuk jenjang SMP dan 50 siswa untuk SMA.
"Dari jumlah tersebut, ada tujuh siswa yang keluar, terutama di jenjang SD dan SMA," tambah dia.
Endang menegaskan, sebelum masuk SR, orang tua dan siswa sebenarnya sudah diberikan penjelasan dan kesepakatan.
Namun dalam praktiknya, tekanan ekonomi membuat sebagian orang tua berubah pikiran.
Solusinya Dinsos tidak hanya fokus pada pendidikan anak, tetapi juga memberdayakan orang tua siswa.
Bantuan disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing keluarga.
"Kalau minatnya berdagang sembako, kita bantu etalase dan barang dagangannya. Kalau mau jual es tebu, kita beri mesin penggiling. Bahkan ada yang mau pijat, kita latih," terangnya.
Untuk siswa yang mengundurkan diri, Pemkot langsung mengusulkan pengganti dari keluarga desil 1 dan desil 2, sesuai ketentuan Kementerian Sosial.
"Kalau memang sudah tidak mau, tidak bisa dipaksa. Tapi kuota tetap kami isi dari keluarga miskin ekstrem agar program ini tepat sasaran," pungkasnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi