Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Jembatan Roboh, Warga Tambaksari Mangkang Hampir Dua Pekan Terisolir dan Hanya Bergantung Pada Sampan Kecil

Adennyar Wicaksono • Rabu, 28 Januari 2026 | 19:10 WIB
GUNAKAN SAMPAN : Warga dan siswa sekolah menggunakan sampan untuk menyeberangi Sungai Beringin karena jembatan yang ada roboh.
GUNAKAN SAMPAN : Warga dan siswa sekolah menggunakan sampan untuk menyeberangi Sungai Beringin karena jembatan yang ada roboh.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Hampir dua pekan robohnya jembatan yang menjadi akses warga di Tambaksari, RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan, sampai saat ini belum ada kepastian jembatan darurat dibangun.

Seperti diketahui robohnya jembatan terjadi Kamis (15/1) dua pekan lalu.

Padahal jembatan ini merupakan akses warga satu-satunya, untuk ke Kelurahan Mangunharjo, ataupun ke jalan utama.

Karena jembatan darurat belum dibangun, akhirnya akses warga hang dipisahkan Sungai Beringin ini bergantung pada perahu yang ada disisi utara.

Serta sampan kecil yang terbuat dari jirigen bekas, gabus, lalu bambu dan papan untuk akses warga disisi selatan.

"Kalau yang disisi selatan ini pas ditengah kampung, jadi warga sering gunakan sampan untuk menyeberangi sungai," kata Ngamuri warga setempat kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (28/1).

Dia menerangkan untuk operasional dan pembuatan sampan, dilakukan secara gotong

"Yang jaga gantian, intinya agar akses warga tidak terlalu jauh. Ini murni inisiatif warga. Tidak ada tarif, seikhlasnya saja untuk perawatan getek," bebernya.

Dia menjelaskan, aktivitas penyeberangan paling padat terjadi pada pagi hari, terutama saat anak-anak berangkat sekolah dan warga berangkat kerja.

Selain pagi hari, kepadatan kembali terjadi saat jam pulang sekolah.

"Ramainya mulai pukul 05.30 sampai 07.00. Sekali tarik bisa enam anak sekolah. Kalau orang dewasa biasanya tiga orang," ujarnya.

Dia menerangkan, penyebrangan menggunakan sampan ini sangat tergantung pada cuaca dan tinggi air sungai, ketika air sungai tinggi warga was-was dan tidak berani menggunakan sampan.

"Kalau hujan masih bisa, tetapi kalau air naik ya tidak bisa menyeberang,"ujarnya.

Selain harus melawan, arus yang deras. Untuk menyebrang warga juga harus melewati bibir tanggul yang licin.

Ngamuri berharap pemerintah segera membangun jembatan yang layak, nyaman dan aman.

"Harapannya bisa dibangun jembatan darurat, kasihan yang kerja dan sekolah kalau seperti ini terus," keluhnya.

Sementara itu, Ketua RT 9 RW 7 Kampung Tambaksari, Mangkang Wetan, Mustagfirin menyebut ada sekitar 250 hingga 300 kepala keluarga terdampak langsung.

Total ada tiga RT yang dipisahkan oleh aliran sungai Beringin, yakni RT 06 sampai 09.

Dia menuturkan pihak kelurahan dan kecamatan sebenarnya sudah mengetahui kondisi tersebut. Namun, respons yang diberikan masih terbatas.

Selain menggunakan sampan, sebenarnya ada akses alternatif, tetapi kondisinya tidak ideal. Warga bisa melalui jalan lewat tanggul sebelah timur yang masih tanah.

"Kalau kemarau bisa ditempuh sekitar 10 menit, tapi kalau hujan sulit dilewati," katanya.

Warga, kata dia, sudah berulang kali menyampaikan aspirasi agar jembatan segera dibangun. Namun, hingga kini belum ada kepastian.

"Kami diminta menunggu karena katanya masih proses izin dari BBWS. Jadi belum tahu kapan jembatan ini benar-benar dibangun,"tuturnya.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Kelurahan Mangkang Wetan, Aipda Hery Prasetyo mewanti-wanti agar tidak memaksakan menyebrangi sungai ketika air sungai naik karena berbahaya.

Sementara untuk motor warga yang sudah dipindahkan ke barat tanggul Sungai Beringin, dikumpulkan menjadi satu, serta dijaga swadaya oleh warga, agar tidak terjadi kehilangan.

"Intinya saya minta warga gotong royong, biar aman dan nyaman, jangan sampai ada korban kalau memaksa menyebrang saat air tinggi," tambah dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, menyebut jika sampai saat ini pihaknya masih melakukan kajian dan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sebagai instansi yang memiliki kewenangan.

Dia menjelaskan, jembatan yang sebelumnya hanyut dan roboh akibat derasnya  air sungai merupakan jembatan sementara yang dibangun oleh BBWS.

Sehingga rencana pembangunan kembali jembatan darurat tidak bisa diputuskan sepihak oleh Pemkot.

"Kita sudah koordinasi dengan BBWS, itu memang kan jembatan sementara yang dibangun BBWS. Cuma kita masih kaji lagi untuk pembangunan," jelasnya.

Selain itu, pembangunan jembatan juga mempertimbangkan kondisi sungai yang saat ini masih berarus deras karena musim hujan.

Pasalnya jika jembatan darurat dibangun kembali tanpa perhitungan matang, dikhawatirkan akan kembali hanyut.

"Sungainya itu kalau saat ini musim hujan kan masih deras alirannya. Kalau kita bangun lagi, hanyut lagi kan repot nanti," katanya.

Kendala lainnya adalah ketersediaan material ketika pembangunan jembatan darurat dalam waktu dekat.

Menurut Suwarto, hal tersebut membuat pembangunan jembatan darurat tahun ini belum bisa dipastikan.

Terkait rencana jangka panjang, Pemkot Semarang membuka peluang pembangunan jembatan permanen.

Namun, kata Suwarto, rencana tersebut baru bisa diusulkan pada tahun depan karena memerlukan studi kelayakan dan perencanaan teknis.

"Jadi kita kaji. Kalau memang diperlukan jembatan permanen ya kemungkinan masih tahun depan baru kita lakukan pembangunannya itu. Kan perlu studi kelayakan juga," imbuhnya.

Suwarto menambahkan, hingga kini belum dapat dipastikan apakah pembangunan jembatan ke depan akan menggunakan trase lama atau justru dibuat trase baru.

"Kita menunggu hasil kajian teknis yang dilakukan bersama BBWS. Karena  harus komtek-nya (rekomendasi teknis) dari mereka," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #Mangkang #BANJIR #JEMBATAN #roboh