RADARSEMARANG.ID, Semarang - Memiliki tekstur daging yang tebal dengan biji kecil, namun lumer dan legit sera memiliki cita rasa yang manis dengan rasa pahit tipis menjadi ciri khas durian lokal di kawasan Gunungpati.
Tak heran, jika banyak pelancong atau wisatawan rela berburu langsung ke kebun durian di Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Semarang ini.
Salah satunya di rumah penjual sekaligus petani durian Suparyanto, yang berada di Watusari, Pakintelan, Kecamatan Gunungpati.
Dirumah sederhananya itu, Suparyanto atau yang kerap disapa Robert menjajakan durian dari kebun miliknya yang tumbuh subur.
Aroma durian lokal ini berbeda dengan durian lain, bahkan dari sisi rasa sehingga membuat banyak orang ketagihan.
Sore itu, koran ini kebetulan datang bersama beberapa pemburu durian dari Cirebon dan Jepara, Elly Kusuma dan Fitroh Nur Ikhsan, serta beberapa teman sengaja datang ke rumah Pak Robert, mereka memang sudah menjadi langganan.
“Tahunya ya dari teman, terus kesini sendiri ataupun ngajak teman yang lain. Bagi saya ini bukan hanya tempat beli durian, tapi tujuan utamanya adalah menikmati durian lezat dengan harga murah,” kata Ikhsan kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Sama halnya dengan Elly, dia datang setelah mendapat rekomendasi teman-temannya. Menurutnya durian Gunungpati punya karakter sendiri dibanding durian dari daerah lain, termasuk dari wilayahnya Jepara.
Baca Juga: Bazar Durian di Ngaliyan Semarang Diburu Pecinta Si Raja Buah
“Rasanya lumer banget. Manis, legit, tapi ada pahit-pahitnya. Itu yang bikin beda, teksturnya juga lembut jadi kayak nempel dilidah,” tambahnya.
Untuk lokasinya pun mudah diakses, yakni di Kampung Watusari RT 3 RW 6 Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, lokasinya dekat jalan, dan pembeli bisa langsung dipilihkan durian terbaik.
“Disini digaransi, ada yang makan ditempat. Ada pula yang direkomendasikan Pak Robert untuk dibawa pulang, atau dimakan beberapa hari kedepan, jadi tidak kecele,” tuturnya.
Sementara itu, Suparyanto mengaku akrab disapa Robert dengan alasan agar mudah diingat karena tak sedikit warga luar negeri datang ke kebunnya.
Menurutnya, banyak pembeli yang merupakan ekspatriat dari luar negeri datang ke rumah sederhana miliknya, selain itu juga ada pejabat, ada pula dari karyawan BUMN.
Pak Robert mengaku bisa menjual hingga setidaknya 10 ribu butir durian saat musim panen seperti sekarang.
Pembelinya datang dari berbagai daerah, tak hanya Semarang. Ada yang dari Jakarta, Blitar, bahkan Malaysia.
Baca Juga: Musim Durian Jangan Sampai Tertipu, Ini 3 Trik Jitu Memilih Durian yang Dijamin Legit
“Orangnya datang sendiri kesini, lihat pohon langsung, terus mencicipi durian yang baru saja dipanen. Kalau beli borongan mas, kemarin ada dari Malaysia, Cina, mereka kerja disini dan sengaja datang atas rekomendasi dari temannya. Istilahnya getuk tular. Makanya saya minta dipanggil Robert agar mereka mudah ingat,” ujar pria paruh baya ini.
Robert mengaku sudah puluhan tahun menggeluti dunia durian, bahkan dia sudah berkawan dengan durian sejak masih SD kelas dua, saat masih memikul dan menjajakan durian dari kampung ke kampung.
“Selain dijual langsung, saya juga ngirim ke beberapa tempat dan sejumlah pasar modern,” katanya sambil menata durian.
Menurutnya panen tahun ini tidak terlalu banyak, namun tidak juga sedikit. Dia mengaku ada puluhan pohon durian di kebunnya, paling banyak adalah adalah durian Jawa, durian lokal asli Gunungpati. Soal rasa, tak perlu banyak pembelaan, legit, manis dengan rasa pahit di akhir rasa.
Selain durian lokal, Pak Robert juga menanam berbagai jenis lain. Untuk jenis durian yang dijual ada Bawor, Musang King, Montong, hingga durian merica yang jadi favorit banyak pembeli. Tiap durian tentu memiliki citarasa yang khas dan ukurannya yang berbeda.
Musang King dijual hingga Rp 125 ribu per kilogram, sementara durian lokal dijual satuan, mulai dari Rp30 ribu hingga bisa tembus Rp100 ribu per buah, tergantung kualitas dan ukuran. (den)
Editor : Baskoro Septiadi