RADARSEMARANG.ID, Semarang – Bau lumpur masih menyengat di Balai RW 2 Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan.
Di tempat itu, Jumat (16/1), puluhan warga tampak mengantre dengan wajah lelah.
Sebagian duduk bersandar, sebagian lain meringis menahan nyeri.
Pascabanjir mendadak yang melanda kawasan tersebut, balai RW berubah fungsi menjadi pos pengobatan gratis.
Banjir yang datang tiba-tiba itu meninggalkan bukan hanya genangan, tetapi juga trauma dan masalah kesehatan.
Ketua RW 2 Wonosari, Mahfud, menyebut banjir kali ini terasa lebih menakutkan karena sifatnya mendadak, menyerupai banjir bandang.
“Banjirnya ngeri. Datangnya cepat, warga banyak yang trauma. Ada juga yang sampai sementara pindah,” katanya.
Menurut Mahfud, air mulai meluap sejak sore hingga malam hari. Meski surut relatif cepat, genangan masih bertahan hingga dini hari.
Baca Juga: Jembatan Penghubung Roboh, Akses Warga RW 7 Mangkang Wetan Semarang Putus Total
“Mulai magrib sampai jam satu-dua malam, bahkan ada yang sampai jam tiga masih tergenang. Lumpurnya sangat banyak,” jelasnya.
Lumpur pekat yang masuk ke rumah-rumah membawa kotoran dari hulu, termasuk material dari kawasan hutan.
Kondisi itu memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan warga.
“Lumpurnya besar, kotorannya juga banyak. Ini jelas berpengaruh ke kesehatan masyarakat,” imbuhnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, warga dari berbagai usia memanfaatkan layanan pengobatan gratis yang digelar Puskesmas Tambakaji di Balai RW 2.
Mereka datang dengan keluhan beragam, mulai dari kelelahan, demam, pilek, gatal-gatal, hingga luka akibat terpeleset.
Baca Juga: Luapan Sungai Plumbon Semarang Rendam Ratusan Rumah di Wonosari Ngaliyan
Lilik, salah satu warga RW 2, terlihat meringis saat menunggu giliran. Ia mengaku sempat jatuh karena lantai rumah licin usai terendam banjir. “Terpeleset, badan jadi nyeri dan meriang,” ujarnya.
Dokter Puskesmas Tambakaji, dr. Devana, menjelaskan bahwa pada fase awal bencana banjir, risiko terbesar adalah hipotermia.
“Suhu tubuh bisa turun. Yang pertama harus dilakukan adalah menghangatkan tubuh, terutama bayi dan lansia,” jelasnya.
Selain itu, warga diminta waspada terhadap luka akibat benda tajam yang tersembunyi di air banjir.
“Luka kecil bisa berujung infeksi. Jangan sampai air banjir diminum karena airnya kotor dan berisiko menimbulkan diare maupun infeksi,” katanya.
Baca Juga: Limpasan Sungai Plumbon dan Tanggul Jebol Masih Hantui Warga Mangkang Semarang
Menurut dr. Devana, koordinasi lintas pihak sudah berjalan baik sejak malam kejadian. Mulai dari RT, RW, sekolah, hingga kelurahan dan kecamatan saling berkomunikasi untuk penanganan cepat.
“Kalau ada yang sakit, langsung kami tangani. Kalau perlu, dirujuk ke puskesmas,” ujarnya.
Keluhan yang paling banyak ditemui, lanjut dia, adalah demam, pilek, kelelahan, penyakit kulit akibat jamur, diare, serta cedera karena jatuh.
“Kami siapkan obat-obatan, vitamin, antibiotik, sampai peralatan luka. Semua siap,” tegasnya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi