Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menjaring Sampah dari Hulu, Semarang Barat Coba Trash Barrier di Sungai Karangayu

Figur Ronggo Wassalim • Senin, 12 Januari 2026 | 14:56 WIB

 

Pemasangan trash barrier di aliran Sungai Karangayu, Senin (12/1) siang.
Pemasangan trash barrier di aliran Sungai Karangayu, Senin (12/1) siang.

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Aliran Sungai Karangayu yang membelah kawasan Semarang Barat tak lagi dibiarkan membawa “oleh-oleh” sampah ke hilir.

Di tengah ancaman banjir yang selalu membayangi saat musim hujan, kecamatan setempat mencoba cara sederhana namun strategis, yakni menjaring sampah sejak dari hulu.

Senin (12/1) siang, lima panel trash barrier kini terpasang melintang di Sungai Karangayu. Pemasangan itu masih berlangsung, namun harapannya sudah mengalir lebih dulu. 

Camat Semarang Barat Elly Asmara turun langsung memasang trash barrier. Ia menyebut, langkah ini menjadi bagian dari upaya pencegahan banjir, melengkapi rekayasa infrastruktur yang selama ini dilakukan.

“Selain penanganan banjir dari sisi infrastruktur, kami juga melakukan upaya pencegahan dengan memasang trash barrier. Metode ini sebenarnya sudah banyak dilakukan, tapi kami ingin mencoba secara bertahap di Sungai Karangayu,” ujarnya.

Sungai Karangayu selama ini dikenal sebagai jalur “lintasan” sampah. Limbah rumah tangga dari permukiman di sepanjang aliran sungai, ditambah sampah dari aktivitas Pasar Karangayu, kerap terbawa arus menuju hilir.

Tak jarang, sampah-sampah itu berakhir di rumah pompa dan kolam penampungan air sebelum dialirkan ke Sungai Banjir Kanal Barat.

“Harapannya, sampah tidak lagi mengalir sampai ke hilir, terutama ke rumah pompa. Kalau tersumbat, risiko banjir makin besar,” jelasnya.

 Baca Juga: Pohon Randu Roboh Timpa 3 Rumah di Kampung Cempedak Semarang

Diketahui, trash barrier yang dipasang memiliki lebar sekitar lima hingga enam meter, menyesuaikan bentang sungai.

Setelah terpasang penuh, sampah yang tertahan akan dievaluasi dan diangkut secara berkala. Uji coba ini akan dipantau ketat, setidaknya sehari setelah pemasangan.

“Kalau efektif, ini akan kami jadikan pilot project. Selanjutnya bisa kami terapkan di titik-titik sungai lain yang bermuara ke Sungai Banjir Kanal Barat,” katanya.

Rencana pengembangan pun sudah disiapkan. Selain Sungai Karangayu, aliran menuju Sungai Semarang Indah dan Sungai Ronggolawe masuk dalam peta berikutnya.

Wilayah-wilayah itu dinilai memiliki karakter sungai yang lebih lebar, namun sama-sama rawan menjadi jalur sampah dari hulu.

Namun, Elly menegaskan, trash barrier bukan solusi tunggal. Faktor utama banjir, menurutnya, tetap perilaku membuang sampah sembarangan.

Karena itu, ia mengimbau warga agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pelarian sampah rumah tangga.

 Baca Juga: Pohon Randu Alas di Lamper Lor Semarang Tumbang, Hantam Tiga Rumah

“Ini faktor terbesar penyebab banjir. Infrastruktur bisa dibenahi, tapi tanpa kesadaran masyarakat, hasilnya tidak maksimal,” tegasnya.

Apalagi, prediksi curah hujan pada Januari hingga Februari masih tergolong tinggi. Upaya teknis dan kesadaran warga pun harus berjalan beriringan.

Sungai yang bersih dari sampah bukan hanya soal estetika. Tetapi juga soal keselamatan kawasan dari ancaman banjir yang berulang. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#BANJIR #trash barrier #Semarang Barat #Musim Hujan #Karangayu #sungai #estetika #SAMPAH