RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang kembali kebanjiran dampak dari tembok jebol milik Pelindo.
Genangan air ini, mengakibatkan para karyawan kelabakan untuk masuk bekerja.
Salah satu yang terdampak adalah karyawan perusahaan Lamicitra Nusantara yang masih trauma dengan banjir besar akibat tanggul jebol tanggul laut pada tahun 2022.
Salah satu karyawan Monik mengaku lokasi tempat kerjanya kebanjiran dan terpaksa jalan kaki untuk mencapai lokasi kerja.
"Jalan kaki deket, nglewati banjir selutut. Kalau Apparel kan deket sini aja, paling 10 menit sampai. Tapi kalau yang lokasi jebol lokasinya agak jauh," ungkapnya.
Perempuan yang tinggal di Gedawang Kecamatan Banyumanik ini mengaku bekerja di lokasi tersebut sejak tahun 2009.
"Tadi sudah dapat informasi kalau sedang banjir, tapi tetap berangkat. Ya sampai sini parkir motor, terus jalan kaki. Kalau naik motor sampai Apparel gak berani, pasti mogok," jelasnya.
"Yang masuk kerja gak semuanya, hanya sebagian. Tadi ada bagian produksi karena mau naik-naikin barang untuk menyelamatkan," lanjutnya.
Menurutnya juga, banjir yang terjadi bukan kali pertama. Sebelumya juga pernah banjir besar akibat tanggul jebol, hingga akhirnya air laut masuk ke kawasan Lamicitra.
"Trauma sih ada ya, karena sudah dua kali ini, yang tanggul jebol kan dua kali ini. Kalau untuk banjir ya setiap hari ini, banjir rob tapi tidak parah. Kalau kayak gini susah sih," ujarnya.
Sementara, Sumini salah satu pekerja PT Glori mengaku mengurungkan niatnya untuk masuk ke tempat kerjanya.
Padahal, ia sudah jauh-jauh dari rumahnya di Gubug, Kabupaten Grobogan untuk berangkat kerja.
Menurutnya, berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 untuk masuk kerja pukul 08.00. Namun belum sempat mengetahui kalau wilayah Lamicitra kebanjiran.
Sehingga tidak menyiapkan pakaian ganti manakala nekat basah-basahan menerobos genangan air untuk jalan kaki.
"Awalnya belum tahu kalau banjir, sudah sampai sini ternyata sudah banjir. Gak persiapan sama sekali, gak bawa pakaian ganti sama sendal," jelasnya.
Terlihat, para karyawan yang kebanyakan perempuan ini banyak yang menunggu mobil jemputan menuju lokasi tempat kerja yang lumayan agak jauh manakala jalan kaki.
Sebab, mereka tidak berani mengendarai motor lantaran takut mogok.
Meski ada yang kebagian mendapat tempat jemputan, namun ada juga yang kalah cepat untuk naik mobil jemputan. Mereka yang belum mendapat jemputan, hanya duduk-duduk.
"Kalau gak ada jemputan ya pulang (Gubug). Sebenarnya mau masuk kerja, tapi banjir ya tidak masuk. Ya gimana lagi, terpaksa bolos sehari, ya mungkin potong gaji," ujarnya.
Sumini juga mengaku trauma dengan banjir di Lamicitra. Sebelumya, pernah merasakan banjir lebih besar pada tahun 2022 akibat tanggul jebol, yang lokasinya juga sekitaran tempat kerja.
"Yang dulu lebih parah, sampai tergulung air. Ngeri itu. Ya sedih kalau banjir gini. Semoga pemerintah lebih baik lagi perbaikannya," harapnya.
Hal sama diungkapkan Sulistyo juga mengaku tidak kerja full di PT Glory. Sebab, dari pimpinan perusahaan memberikan dispensasi untuk pulang lebih awal.
"Tadi cuma disuruh bantu angkat-angkat menyelamatkan barang, terus disuruh pulang. Kerjanya ditunda," katanya.
Sulistyo juga mengaku, aktifitas para pekerja di dalam kawasan Lamicitra sangat terganggu dengan adanya banjir ini. Hanya saja, nantinya akan mendapatkan libur pada Sabtu-Minggu dampak banjir.
"Ya mungkin Senin masuk. Banjirnya lumayan tinggi, akibat tanggul jebol depan PT Glory," jelasnya.
Terlihat, sejumlah karyawan pabrik di kawasan Lamicitra saat pulang kerja dengan kondisi jalan kaki menerjang banjir, dan rintikan hujan, Jumat (9/1/2026) sore.
Mereka jalan kaki sekitaran 500 meter untuk menuju parkiran kendaraan depan gerbang Gate 1 dan Gate 2.
"Tadi jalan kaki ya setengah kilo meter lebih, banjir-banjiran. Besok juga tetap kerja, tapi sebagian ada yang libur," kata Riyanti, karyawan PT Glory warga Kecamatan Genuk.(mha)
Editor : Baskoro Septiadi