RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kawasan Lamicitra berlokasi di Jalan Coaster Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, wilayah Semarang Utara kembali terendam air, Jumat (9/1/2026).
Terlihat, rendaman air mulai berada di bawah gerbang Gate 1 dan Gate 2, hingga menjorok ke dalam ke kawasan Lamicitra.
Warna air juga terlihat coklat keruh. Ketinggian genangan air bervariasi, paling tinggi mencapai lebih setengah meter.
Baca Juga: Tembok Pelabuhan Tanjung Emas Jebol, Pembatas Indonesia Power dan Lamicitra
Akibatnya, aktifitas karyawan perusahaan terganggu. Sepeda motor tak ada yang berani melintas masuk ke dalam kawasan pabrik.
Karyawan lebih memilih parkir kendaraan diluar gerbang Gate. Ada ratusan kendaraan yang parkir di depan gate tersebut.
Informasi yang diperoleh, rendaman air ini akibat adanya tanggul jebol dititik kolam retensi Pelindo komplek Pelabuhan Tanjung Emas, pada Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 01.00.
"Itu yang jebol tembok kolam retensi TPKS Pelindo, titik jebolnya yang paling ujung dekat PT Metex, dekatnya PT Glori, sebelahan," ungkap salah satu pedagang bakso yang setiap harinya jualan di dalam kawasan Lamicitra, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (9/1/2026).
Pedagang yang akrab disapa Mbah Dul ini mengaku jualan sudah sejak tahun 2010. Menjajakan bakso jalan kaki mendorong gerobak berkeliling masuk ke dalam kawasan Lamicitra.
Baca Juga: Tanggul Jebol, Pos 1 Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Kebanjiran, Air Sudah Masuk ke Perkampungan
"Banjirnya tinggi, ya setengah meter lebih. Kalau menuju lokasi PT Glori ya jaraknya sekitaran setengah kilometer. Kalau banjir gini jalan kaki ndorong gerobak ya setengah jam, ngos-ngosan. Kalau gak banjir paling 15 menitan," jelasnya.
Mbah Dul juga menyebut, jebolnya tembok tersebut terjadi pada tengah malam menjelang pagi, sekitaran pukul 01.00.
Menurutnya, sebelum tembok mengalami jebol sempat diguyur hujan sejak Kamis (8/1/2026) sore hari.
"Tapi penyebabnya bukan dari hujan, tapi dari gelombang pasang tinggi. Malam hari ombak ombak (gelombang) besar. Terus katanya temboknya jebol," katanya.
Pihaknya mengaku, banjir semacam ini bukan yang pertama kali, namun sudah ketiga kali ini. Penyebab banjir juga sama, adanya tembok jebol di dekat perbatasan laut Pantura.
"Ini yang ketiga kalinya. Genangan paling tinggi itu di depan Apparel, setengah meter lebih," jelasnya.
Mbah Dul juga menyebut, dulunya di dalam kawasan Lamicitra banyak perusahaan besar, sekitaran 10 pabrik lebih. Namun sekarang hanya tersisa tiga perusahaan.
"Kalau dulunya ya ada 10 perusahaan, sekarang tinggal 3 perusahaan, PT Glory, PT Base dan Apparel. Kalau lainnya sudah pindah, sejak jebol beberapa waktu lalu, sebelum ini," bebernya.
"Kalau tadi yang masih banyak yang masuk, karyawan PT Glori, sekitaran 5 ribu orang, tapi kan shift-shift-an. Kalau dua perusahaan lain (PT Base dan Apparel) kayaknya sepi, ya mungkin ada sebagian tapi tidak banyak," lanjutnya.
Terlihat, suasana akses keluar masuk di kawasan Lamicitra tidak seperti biasanya. Adanya banjir ini, tak ada aktifitas yang mencolok di akses keluar masuk kawasan perusahaan di dalam Lamicitra.
Disisi lain, mendung juga terlihat seolah akan kembali mengguyur wilayah tersebut, pukul 14.00. Kondisinya juga sudah rintik hujan.
Sementara, Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto juga membenarkan dan telah mendapat laporan adanya tembok jebol dan mengakibatkan kawasan Lamicitra terendam air.
"Yang jebol bukan tanggul laut, tetapi tembok kolam retensi Pelindo, jebol sekitaran 30 meter. Untuk genangan air di dalam Lamicitra, ketinggian air mencapai 60 sentimeter," ungkap kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (9/12026).
BPBD Kota Semarang juga telah mengerahkan satu armada unit truk ops rescue BPBD untuk membantu para karyawan pabrik yang beraktivitas. Personil yang dikerahkan ada sekitaran 12 orang.
"Saat ini juga masih upaya penyedotan air, dengan mengunakan pompa," katanya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi