RADARSEMARANG.ID, Semarang - Penampilan istimewa di peringatan Hari Ibu ke 97 tak biasa. Narapidana turut unjuk gigi. Termasuk Mantan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.
Di halaman Lapas Perempuan Semarang yang disulap menjadi panggung, ia berlenggak-lenggok dalam Fashion Show Batik Nusantara bertema "Benang Cinta Ibu Dari Balik Tangan Yang Menguatkan" Lapas Perempuan Semarang.
Mbak Ita, begitu ia disapa, berjalan anggun dibalut setelan batik warna jingga. Di tangannya memamerkan kain batik warna hijau. Wajahnya ayu, penuh riasan mencolok.
Salah satu penghuni lapas terpidana kasus korupsi ini menebar senyum penuh percaya diri. Bersama napi lainnya, Mbak Ita memamerkan karya hasil tangan di balik jeruji besi.
Dalam peringatan Hari Ibu ini, Kepala Lapas Perempuan Semarang juga tampil menawan. Ia membawa kain batik Malini Padma atau Bunga Teratai.
Kain itu lantas dilelang, pengunjung berebut harga yang dipatok mulai Rp 3 juta. Kemudian, laku terjual Rp 15 juta.
Hasil dari lelang itu akan disumbangkan pada korban bencana di Sumatera dan Aceh.
DirekturJenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Irjen Pol Mashudi mengapresiasi langkah Lapas Wanita Bulu ini yang telah menyelenggarakan event dengan apik.
"Saya sangat apresiasi kepada lapas perempuan yang mana produk-produk UMKM secara khusus batik, dia punya ciri-ciri khas yakni Bunga Teratai. Dan ini salah satu yang sekarang hari ini di fashion show-kan," katanya, Senin (22/12/2025).
Ia menuturkan, dalam lelang batik tersebut ditujukan untuk membantu korban bencana alam. Kegiatan serupa berkelanjutan juga yang telah diselenggarakan sebelumnya seperti di Bali.
Menurutnya, dengan dipamerkannya batik hasil karya napi secara umum, menunjukkan kreasi dan terobosan napi dapat berkembang dan bersaing dengan di dunia luar.
"Karya penghuni lapas lapas ini luar biasa. Ya, ini salah satu yang memberikan contoh kepada lapas-lapas karutan yang lain. Ayo kita sama-sama, bagaimana UMKM ini yang ada di Lapas/Rutan seluruh Indonesia sejumlah 532 ini bisa berkompetisi dengan dunia yang ada di dunia," tuturnya.
Pada kesempatan ini, hadir pula Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Menurutnya kegiatan ini luar biasa karena dapat merangkul semua pihak menggelar peragaan busana bergengsi.
Termasuk digandengnya para desainer yang berkualitas dan di topnya Kota Semarang. Di sisi lain, ia takjub karena lapas dapat membangun sebuah ekosistem memberi kenyamanan penghuni.
Sehingga mereka memiliki sebuah karya dan memiliki harapan begitu keluar dari penjara, mereka sudah siap kembali ke masyarakat.
"Acara ini kita membuktikan betapa rasa cinta kepada Ibu dari para desainer ini. Mereka rela ya melakukan acara fashion show untuk memberikan apresiasi kepada para penghuni Lapas. Selamat hari Ibu tentunya. Ini yang mengkreasi dan menciptakan acara ini adalah ibu-ibu yang hebat," tuturnya.
Sementara itu, Nawal Arafah Yasin selaku Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa Tengah melihat pagelaran perayaan Hari Ibu dilakukan bersama kelompok-kelompok rentan khususnya perempuan warga binaan.
Istimewanya, mereka juga mempromosikan berbagai karya perempuan warga binaan dan UMKM yang dihasilkan dari usaha pemberdayaan.
"Ini menunjukkan peran perempuan warga binaan juga memiliki hak yang sama sebagai warga negara untuk menikmati dan mendapatkan manfaat dari berbagai program pembangunan termasuk program pemberdayaan ekonomi," tandasnya.
Di sisi lain, ia menyoroti perempuan warga binaan yang menghadapi berbagai masalah terkait pemenuhan hak-hak dan kebutuhan khususnya sebagai perempuan.
Seperti menstruasi, masih memiliki anak balita, Bapak Ibu dan anak bawaan, ada kekerasan seksual, ada tekanan mental dan sebagainya.
Ia mendorong penambahan lembaga pemasyarakatan perempuan, penambahan SDM lapas atau rutan yang mampu menangani dan membantu kebutuhan khusus perempuan warga binaan. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi