RADARSEMARANG.ID, Semarang - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana buka suara menanggapi jebolnya tiga titik talut Sungai Plumbon di RT 06 RW 04, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Rabu (10/12) petang.
Insiden talud jebol ini terus berulang setiap tahun saat debit sungai meningkat akibat hujan atau limpasan dari hulu.
Selain itu sedimentasi di Sungai Plumbon juga parah, sehingga membuat aliran air tidak lancar.
Kepala BBWS Pemali Juana, Sudarto, menyebut kondisi Sungai Plumbon sudah sangat sempit dan tidak lagi mampu menampung debit air.
Dia menjelaskan, pelebaran sungai menjadi solusi permanen untuk menyelesaikan masalah ini.
"Saat ini kita sedang melakukan penanganan darurat terlebih dahulu sampai nanti menunggu pelaksanaan desain selanjutnya," katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (11/12).
Menurutnya, Sungai Plumbon tidak hanya dilakukan normalisasi, tapi perlu dilakukan direhabilitasi untuk dilebarkan agar mampu menampung debit air, serta dihitung kemampuannya agar termasuk ketika mendapat kiriman dari wilayah hulu.
"Perlu ada hitungan yang pasti untuk kemampuan sungai, tapi biayanya besar untuk pembebasan lahan. Informasinya ada sekitar 300 rumah, tapi yang baru menerima skema ganti untung sekitar 75," katanya.
Meski saat ini BBWS Pamali Juana belum memiliki desain rencana pelebaran Sungai Plumbon.
Sudarto mengatakan idealnya lebar sungai mencapai sekitar 30 meter agar mampu menampung debit air.
"Ini baru perkiraan, tapi untuk detailnya akan dihitung melalui desain. Karena kita harus menghitung daerah tangkapan air di hulu yang masuk ke Sungai Plumbon," imbuhnya.
Dia berharap proses pembebasan lahan dapat selesai dalam satu hingga dua tahun ke depan, sehingga rencana pelebaran Sungai Plumbon bisa segera terlaksana.
"Jadi untuk solusi jangka pendek, sambil menunggu proses pekerjaan yang lebih besar. Kami menggunakan geo bag dan sand bag untuk membuat tanggul darurat dulu," pungkasnya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi