Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Butuh Dana Tinggi, Pemkot Semarang Ajukan Pelandaian Turunan Silayur ke Pemerintah Pusat

Adennyar Wicaksono • Jumat, 5 Desember 2025 | 12:31 WIB
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin meninjau lokasi kecelakaan Silayur.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin meninjau lokasi kecelakaan Silayur.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tingginya anggaran yang digunakan untuk melakukan pelandaian Jalan Silayur, membuat Pemkot Semarang mencari opsi dengan mengajukan anggaran pelandaian ke Pemerintah Pusat.

Banyaknya kasus kecelakaan kendaraan berat di Jalan Silayur, Ngaliyan membuat Pemkot Semarang, telah mewacanakan pelandaian jalan yang memiliki kontur tanjakan curam jika dari arah Simpang Jrakah, sekaligus turunan tajam jika dari arah Mijen.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto menjelaskan jika pengajuan permohonan bantuan saat ini telah dikirimkan ke Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DIY.

“Ada beberapa jalan yang jadi prioritas, salah satunya Jalan Prof Hamka atau turunan Silayur, saat ini sudah kita ajukan ke BBPJN,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (4/12).

Adapun anggaran yang dibutuhkan untuk pelandaian, lanjut dia cukup besar yakni diangka sekitar  Rp 60 miliar. Pemerintah pusat berpotensi mengalokasikan anggaran tersebut melalui skema Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2023 mengenai percepatan peningkatan konektivitas jalan daerah.

Nantinya dengan program ini jalan-jalan non-nasional yang mengalami kerusakan atau membutuhkan penyesuaian struktur dapat diperbaiki menggunakan dana APBN.

“Jalan Prof Hamka, atau turunan Silayur masuk dalam kategori itu karena tingkat kemiringannya dinilai membahayakan pengendara,” bebernya.

Nantinya pelandaian akan dilakukan dengan metode rekayasa elevasi, menyesuaikan kondisi kawasan yang dikelilingi perumahan dan pertokoan.“Yang penting seluruh kepentingan bisa terakomodasi dan pengguna jalan lebih aman,” ujar Suwarto.

Penyesuaian elevasi, kata dia, sebelumnya berhasil dilakukan di Jalan Hanoman. Namun, berbeda dengan Silayur, kawasan tersebut tidak memiliki banyak bangunan di sekitar jalur tanjakan sehingga proses pelandaian lebih sederhana.

Adapun elevasi atau kemiringannya hampir serupa dengan Jalan Kalipancur membuat pekerjaan di Silayur harus dirancang matang.

Menurutnya, kemungkinan pelandaian dilakukan dengan membentuk dua elevasi berbeda di sisi kiri dan kanan jalan untuk menyesuaikan kontur tanah.

“Pengajuannya sudah masuk dan kami menunggu persetujuan. Setiap tahun ada evaluasi dari BBPJN, termasuk menilai urgensi dan tingkat permasalahan yang terjadi di lapangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menjelaskan, jika saat ini belum memiliki solusi permanen selain pelandaian Jalan yang membutuhkan anggaran besar.

"Jalan Silayur itu memang struktur jalannya sulit. Elevasinya tidak sesuai," kata Agustina.

Pemkot Semarang, kata dia, telah sudah melakukan perhitungan kebutuhan anggaran untuk pelandaian Jalan Silayur.

Sayangnya, biaya yang dibutuhkan cukup tinggi, apalagi saat ini tengah ada kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

"Kemarin kami minta dibuatkan kajian, berapa biaya yang harus dikeluarkan agar jalan itu bisa dibuat landai. Anggarannya lebih dari Rp 60 miliar," ungkapnya.

Menurutnya, kemampuan fiskal Pemkot Semarang tidak memungkinkan untuk membiayai pelandaian Jalan Silayur.

Agustina  menjelaskan solusi sementara yang ditawarkan yakni berupaya memperketat pengawasan terhadap truk-truk besar yang melintas agar sesuai aturan.

"Posisi kami saat APBD belum dipotong saja, kekuatan fiskalnya sudah tidak memungkinkan. Apalagi sekarang," pungkas dia. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#tanjakan Silayur