RADARSEMARANG.ID, Semarang - Perbaikan di tanjakan Kalipancur mulai dilakukan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang melakukan tinjauan perbaikan yang masih menjadi tanggung jawab sosial atau CSR asri PT. Prabu, yang melakukan pembangunan sebelumnya.
Adapun sebelumnya, jalan menghubungkan Manyaran ke Gunungpati ini, sempat mengalami kerusakan seperti retak dan amblas karena kontur jalan yang labil.
Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto menjelaskan jika tanjakan awalnya memiliki kemiringan cukup tajam. Kemudian ada program CSR mendesain jalan untuk diratakan.
Perataan ini membutuhkan timbunan tanah dalam jumlah besar yang masih mengalami penurunan alami.
"Saat dilandaikan sudah dibuat lebih halus, tetapi karena menggunakan tanah urukan, pasti ada penurunan. Kemarin penurunannya sekitar lima centimeter sehingga beton jalan ikut retak," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang , Rabu (3/12).
Adanya retakan ini membuat pengendara tidak nyamanan melintas.
Sehingga dilakukan perbaikan darurat pada badan jalan dengan rekomendasi teknis dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Dia menjelaskan , beton yang pecah dibongkar, diberi lapisan pasir, semen dan batu."Pekerjaan perbaikan masih berlanjut karena tanah timbunan membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk benar-benar stabil," tambah dia.
Menurutnya, PT Prabu tetap berkewajiban melakukan perbaikan bila terjadi penurunan, sebelum seluruh aset konstruksi diserahkan resmi kepada Pemerintah Kota Semarang.
"Yang penting masyarakat bisa lewat dengan aman dan nyaman. Kekurangan yang ada kami minta diperbaiki bertahap sampai stabil, lalu baru bisa diserahkan ke Pemkot," ujarnya.
Kemudian, tanah ambles pada tanjakan tersebut bukan disebabkan patahan tanah, lanjut Suwarto, kondisi tanah justru sangat keras, sehingga proses pemancangan saat pembangunan awal pun cukup sulit.
Faktor utama penurunan tanah berasal dari proses pemadatan yang terhambat hujan saat pengerjaan.
"Perbaikan tidak bisa menggunakan sistem proyek groting atau suntik semen seperti di jalur tembus Jangli–Undip. Teknik groting dinilai berisiko menyumbat saluran air yang berada di bawah struktur," bebernya.
Secara keseluruhan, struktur jalan ini masih stabil. Hanya terlihat kerusakan lantaran adanya penurunan tanah.
Dia mejelaskan, penanganan menunggu tanah benar-benar stabil, setelah itu seluruh permukaan jalan akan ditangani ulang secara menyeluruh sesuai rekomendasi teknis.
"Untuk sementara akan diaspal dulu agar nyaman dilalui. Perbaikan final menunggu stabilitas tanah, bisa sekitar dua tahun," imbuhnya.
Perbaikan yang dikerjakan PT Prabu diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 4 sampai 7 miliar.
Namun nilai pastinya baru dapat diketahui setelah seluruh pekerjaan selesai dan dinyatakan layak untuk diserahkan kepada Pemerintah Kota Semarang.
Pihaknya mengaku masih menunggu penyelesaian tahap lanjutan sebelum dapat menerima hasil pekerjaan.
Seluruh proses, mulai desain, rekomendasi akademis, hingga tindak lanjut perbaikan, akan dihitung dalam berita acara serah terima setelah kondisi jalan dinyatakan aman, stabil, dan memenuhi standar teknis.
"Serah terima dari PT Prabu akan dilakukan setelah proses perbaikan selesai dan bangunan sudah settle,"pungkas dia. (den)
Editor : Baskoro Septiadi