Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Minat Vesektomi Naik, Pemkot Semarang Berikan Insentif Rp1 Juta

Adennyar Wicaksono • Kamis, 13 November 2025 | 23:49 WIB
Ilustrasi KB (AI)
Ilustrasi KB (AI)

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemkot Semarang memberikan insentif sebesar Rp1 juta bagi pria yang menjalani vasektomi.

Program ini menjadi strategi dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam KB, sekaligus mendorong penggunaan kontrasepsi jangka panjang.

Kepala Disdalduk KB Kota Semarang, Lilik Farida, menjelaskan jika saat ini capaian program KB di Lunpia terus meningkat, bahkan sudah mencapai 77 persen dan mayoritas metode metode kontrasepsi jangka panjang.

"Kami fokus  meningkatkan capaian KB pasca bersalin, karena langkah ini dapat menurunkan risiko stunting yang pada akhirnya berkolerasi dengan penurunan angka stunting itu sendiri," kata Lilik kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (13/11).

Dia menjelaskan,  perilaku generasi muda ikut mendorong peningkatan capaian KB.

Apalagi tren pernikahan usia dini di bawah 19 tahun juga menurun karena banyak anak muda lebih mementingkan pendidikan, pekerjaan dan perencanaan masa depan sebelum berumah tangga.

Pihaknya mengaku menggencarkan pelayanan jemput bola sejak 2022.

"Dalam sebulan, setidaknya petugas turun minimal 20 kali ke 16 kecamatan menggunakan mobil pelayanan keliling," jelasnya.

Selain itu, layanan KB juga disiapkan di sejumlah rumah sakit dengan melibatkan dokter spesialis bedah dan urologi sesuai permintaan masyarakat untuk prosedur vasektomi.

Dari data yang ada, capaian KB Pria mengalami peningkatan yang signifikan. Dari data 2024, jumlah peserta vasektomi hanya 46 orang. Di 2025, jumlahnya sudah mencapai 100 orang lebih.

"Masyarakat, terutama yang pria, mulai melirik vasektomi. Tapi mereka merasa lebih nyaman jika tindakan KB berlangsung di rumah sakit oleh tenaga ahli. Karena itu kami menggandeng dokter spesialis untuk memberikan pelayanan terbaik," paparnya.

Selain itu, daya tarik dari program vasektomi ialah adanya pemberian insentif Rp1 juta. Program ini berlaku bagi pria yang telah memiliki minimal dua anak, dengan anak bungsu berusia lima tahun ke atas.

"Rata-rata pria yang menjadi perseta vasektomi sekitar usia 33 tahun dengan syarat minimal memiliki dua anak dan anak bungsu berusia lima tahun. Namun jika terdapat kondisi medis tertentu pada istri, tindakan vasektomi dapat dilakukan lebih awal," tuturnya.

Dia menjelaskan metode kontrasepsi jangka panjang lain seperti IUD, implan hingga Metode Operasi Wanita (MOW) juga meningkat peminatnya.

"Harapannya masyarakat semakin sadar bahwa perencanaan keluarga bukan hanya soal mengatur jumlah anak, tetapi juga upaya menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas," paparnya.

Sementara itu,  Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Arya Setya Novanto, menilai program pemberian insentif Rp1 juta bagi peserta vasektomi, menjadi langkah yang tepat untuk menekan jumlah penduduk, dan mendorong kesetaraan gender di bidang KB.

"Tapi catatannya pelaksanaannya tetap sesuai prosedur dan menyasar kelompok yang benar-benar memenuhi syarat," katanya.

Dia menjelaskan, keterlibatan pria dalam program KB merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.

"Sebenarnya bagus, karena tidak hanya wanita yang KB, pria juga bisa berperan," bebernya.

Arya menekankan, dinas harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait manfaat dan risikonya.

Jangan sampai kata dia, tujuannya masyarakat ikut program tersebut hanya untuk mendapatkan uang Rp 1 juta.

"Jangan sampai orang hanya tahu dapat Rp1 juta, lalu langsung ikut vasektomi tanpa tahu syarat atau kondisi kesehatannya. Harus ada seleksi yang jelas,"tegasnya.

Dia meminta agar Pemkot memastikan program tersebut program ini tepat sasaran. Menurutnya, peserta vasektomi idealnya adalah pria yang sudah memiliki minimal dua anak dan tidak lagi berada pada usia produktif.

"Jangan sampai semua disamaratakan. Kalau masih usia produktif tapi sudah diajak vasektomi, itu perlu dievaluasi," pintanya.

Terkait efektivitas penggunaan anggaran, Arya mengaku DPRD belum menerima laporan evaluasi dari Disdalduk KB. Komisi D kata dia, berencana menindaklanjuti hal ini dalam rapat kerja daerah (RKPD) mendatang. 

"Kami akan tanyakan sejauh mana penyerapan anggaran dan dampak program vasektomi ini terhadap masyarakat," jelasnya.

Meski begitu, Arya menilai insentif Rp1 juta masih tergolong wajar sebagai bentuk dorongan bagi masyarakat. 

Pihaknya meminta, dinas gencar melakukan edukasi kepada masyarakat, khususnya laki-laki, agar tidak hanya tertarik karena insentif, tetapi juga memahami tujuan utama program vasektomi sebagai langkah bersama menciptakan keluarga sehat dan berkualitas.

"Menurut saya, nilainya cukup. Ini kan hanya stimulus agar pria lebih terbuka ikut KB. Karena banyak yang tidak tahu, dan mengira vasektomi bisa mengurangi kejantanan," pungkasnya. (den)

Editor : Baskoro Septiadi
#vasektomi #keluarga berencana