Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Belajar Menolong Anak-anak Disabilitas di Tengah Situasi Bencana

Figur Ronggo Wassalim • Selasa, 11 November 2025 | 22:25 WIB
Belajar Menyelamatkan Difabel, Simulasi Unik di Semarang Barat
Belajar Menyelamatkan Difabel, Simulasi Unik di Semarang Barat

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di Rumah Inspirasi Kecamatan Semarang Barat, suasana pagi itu terasa haru.

Beberapa relawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) terlihat berhati-hati mengangkat seorang remaja difabel dari kursi roda. 

Di sisi lain, seorang ibu memperagakan cara menggendong anaknya yang mengalami cerebral palsy dengan posisi tubuh yang aman.

Semua mata tertuju pada satu hal, bagaimana menyelamatkan anak-anak difabel saat bencana datang tanpa peringatan.

Itulah simulasi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat yang digelar oleh Tagana Kota Semarang, Dinas Sosial, dan Komunitas Disabilitas Semar Cakep, Selasa (11/11).

Kegiatan ini tergolong langka, bahkan disebut sebagai yang pertama dilakukan di Indonesia. Karena berfokus pada teknik evakuasi bagi penyandang disabilitas, khususnya anak dengan cerebral palsy.

“Kita ingin belajar bareng, bagaimana menolong anak-anak disabilitas di tengah situasi bencana. Tidak hanya tim Tagana, tapi juga para orang tua. Kita harus tahu cara yang benar agar mereka merasa nyaman saat dievakuasi,” ujar Heri Tri Susanto, Koordinator Tagana Kota Semarang.

Heri menyebut, pihaknya ingin membangun kolaborasi dua arah. Relawan belajar dari pengalaman orang tua dalam merawat anak difabel, sementara orang tua belajar dari tim penyelamat mengenai jalur dan cara evakuasi yang aman. 

“Beberapa orang tua belum tahu bagaimana mengangkat anaknya saat harus keluar rumah dengan cepat. Di sisi lain, tim relawan juga perlu tahu cara menolong tanpa membuat anak merasa takut,” jelasnya.

Salah satu peserta, Darsih Utami, terlihat antusias mempraktikkan cara menggendong anaknya, Diego Gustaman, yang mengalami mikrosefali dan cerebral palsy. 

Dengan telaten, ia menunjukkan posisi tangan yang benar saat mengangkat tubuh Diego. “Memang agak susah ya Mas, harus kenceng dan kuat. Tapi saya jadi tambah pengalaman. Jadi tahu kalau nanti bencana datang harus bagaimana,” tutur warga Sri Rejeki Timur, Gisikdrono itu.

Simulasi berlangsung penuh semangat. Para relawan belajar cara mengikat luka tanpa darah, menenangkan korban yang panik, hingga mengangkat anak difabel menuruni tangga.

Beberapa anak difabel tampak tersenyum ketika para petugas mencoba mempraktikkan evakuasi dengan hati-hati.

Camat Semarang Barat Elly Asmara bahkan ikut turun tangan langsung. Ia tampak menggendong seorang anak difabel melewati tangga sebagai bagian dari latihan. 

“Ini kegiatan yang sangat luar biasa, karena baru pertama kali dilakukan. Kita kolaborasi lintas sektor untuk menemukan model penyelamatan yang paling tepat bagi anak disabilitas,” ujarnya.

Menurut Elly, simulasi ini bukan sekadar latihan teknis, tapi juga bentuk kepedulian dan inklusivitas.

“Ketika terjadi kebakaran, longsor, atau banjir, orang tua difabel sering panik. Padahal yang utama adalah tetap tenang, mematikan listrik, dan mengevakuasi anak dengan aman. Pelatihan seperti ini membantu mereka lebih siap,” imbuhnya.

Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju Semarang Barat sebagai Kecamatan Inklusi. Bagian dari upaya mewujudkan Kota Semarang yang ramah bagi semua, tanpa terkecuali. 

“Kami ingin semua warga merasa diperhatikan, termasuk teman-teman difabel. Ini juga mendukung program Ngopeni Nglakoni dari Gubernur Jawa Tengah,” harap Elly. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#Kecamatan Semarang Barat #haru #ngopeni nglakoni #Tagana #heroik #Rumah Inspirasi