RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sebuah unggahan di media sosial (medsos) Instagram viral setelah menampilkan dugaan pengusiran terhadap komunitas mobil yang rutin menggelar kopi darat (kopdar) setiap Minggu pagi di Jalan Gajahmada, atau yang kerap disebut Blok GM.
Aksi pengusiran itu disebut dilakukan oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang. Sebelumnya salah satu warganet mengeluh di Medsos, yang memposting di akun instagram @ziahakimm_ .
"Saya Zia, orang Bogor, dan stay di Semarang, disini saya mewakili fotografer-fotografer yang pernah hunting foto dan ikut ngopi pagi bersama di Blok gm. Saya sangat kecewa dengan anda pak @dishubkotasmg. Yang saya sayangkan disini kenapa Dishub ke Blok GM dan membubarkan komunitas otomotif yang ada disana," keluh Zia di medsos.
Dihubungi terpisah, Sekretaris Dishub, Danang Kurniawan yang menilai narasi yang muncul di sosial media tidak sesuai fakta di lapangan.
Dia menegaskan tidak ada pembubaran, melainkan melakukan penataan karena banyak aduan masyarakat soal parkir ganda di kawasan itu.
"Itu salah, kami tidak membubarkan. Karena ada aduan dari warga, kami melakukan penataan. Disana kendaraan parkir dua saf kanan-kiri,sehingga membuat jalan menyempit," katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (4/11).
Kawasan Gajahmada, atau Blok GM lanjut Danang, adalah jalur yang aktif lantaran dilalui BRT Trans Semarang serta menjadi rute alternatif saat pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Simpang Lima.
Hal ini membuat arus lalu lintas di kawasan itu meningkat karena banyak warga menuju pasar, stasiun dan berkegiatan olahraga.
"Kalau Minggu pagi, banyak yang ke pasar, ke stasiun hingga komunitas olahraga yang melintas. Kalau parkir dua lapis kanan-kiri, otomatis jalan makin sempit dan banyak yang terganggu," bebernya.
Di kawasan Blok GM kata dia, beberapa waktu lalu sempat mengadakan musik DJ tanpa pemberitahuan ke Dishub.
Hal ini menimbulkan kemacetan karena orang yang datang cukup membludak dan parkir kendaraan juga tidak tertib.
Pada dasarnya, Dishub masih mendukung kegiatan nongkrong komunitas otomotif di Blok GM.
Namun dengan catatan, tetap tertib terutama soal parkir kendaraan agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
"Saya sudah sampaikan ke komunitas, silakan tetap nongkrong.Hanya saja parkirnya harus tertib. Dishub punya rencana menerapkan sistem parkir serong 30-45 derajat agar lebih efisien," paparnya.
Selain itu, Dishub juga menyiapkan solusi lain jika area Blok GM sudah tidak mencukupi. Danang mengaku, memiliki rencana pengalihan parkir ke Jalan Pemuda atau Jalan Depok menjadi opsi agar kegiatan tetap berjalan lancar tanpa menimbulkan kemacetan.
"Kalau nanti tidak cukup, parkir bisa kita arahkan ke Pemuda atau Depok. Prinsipnya, kami tidak melarang kegiatan itu. Kami hanya ingin semua pengguna jalan nyaman," imbuh Danang.
Danang berharap, ke depannya panitia atau komunitas yang menggelar kegiatan seperti musik DJ di Blok GM, agar mengajukan izin resmi kepada Dishub dan kepolisian agar bisa dilakukan pengaturan lalu lintas dan sosialisasi kepada masyarakat.
"Kalau ada event, jalannya bisa kita alihkan atau bahkan kita tutup, tapi tentu dengan prosedur dan pemberitahuan ke masyarakat. Orang yang mau ke stasiun atau ke pasar kan kejar-kejaran dengan waktu. Jadi harus diatur agar tidak mengganggu," pungkas dia.
Terpisah, Kepala Bidang Pengendalian dan Penertiban Dishub Kota Semarang Dody Febriyanto menjelaskan bahwa petugas hanya melakukan penataan lalu lintas setelah menerima laporan adanya kemacetan di kawasan tersebut pada Minggu (26/10).
"Kami hanya meminta agar ditata dengan baik dengan tujuan lalu lintas lancar, jadi kami tidak mengusir," tambah dia.
Dia menyebut sudah berkomunikasi langsung dengan perwakilan komunitas untuk membantu penataan kegiatan mereka ke depan.
Pada pekan atau berikutnya, Minggu (2/11), kondisi sudah tertib. Mobil parkir satu lapis di sisi kiri dan kanan jalan sesuai ketentuan.
"Intinya kami siap membantu setiap Minggu pagi jika dibutuhkan pengaturan parkir. Kami mendukung kegiatan komunitas, asalkan tidak mengganggu lalu lintas," ujarnya.
Pihaknya menyarankan komunitas otomotif agar mempertimbangkan lokasi lain yang lebih luas dan tidak menghambat arus kendaraan.
"Mungkin bisa di Jalan Pahlawan, Jalan Pemuda yang jalannya lebih lebar atau halaman Balai Kota dan tetap menarik untuk kegiatan komunitas," katanya. (den)
Editor : Baskoro Septiadi