RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah Ema Rachmawati hingga kini masih berupaya mendorong korban edit foto pornografi berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan alumni SMAN 11 Semarang.
Ia mengungkap hasil mediasi bersama siswa di sekolah tersebut, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng telah menemukan kesepakatan.
"Mediasi hanya menyepakati langkah-langkah bahwa kita utamakan korban dulu, supaya korban mau melapor. Saya belum tahu karena korban sepakat untuk melapor langsung ke Cyber Polda, tidak melalui kami," ujarnya pada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (21/10/2025).
Dirinya masih menunggu para korban yang merupakan siswa, guru dan alumni si sekolah tersebut.
"Kalau misalnya korban enggak mau melaporkan kita juga enggak bisa ngapa-ngapain," ucapnya.
Ema mengaku kesulitan karena belum pernah ketemu sama sekali dengan korban. Pun, para korban juga belum pernah mendatangi DP3AKB.
"Minimal kalau sudah pernah ketemu kan kita bisa ngobrol, tapi belum ketemu sama sekali. Korban kan maunya ke sekolahan dulu, kita mau datang ke sana tapi kemarin katanya kan mereka mau langsung ke cyber poldanya," ungkapnya.
Termasuk untuk jumlah korbannya, dirinya juga belum mengetahui. Menurutnya, korban edit foto yang dilakukan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro (Undip) itu ada yang siswa, namun bukan diedit foto tak senonoh
Ema juga menanggapi adanya tuntutan para siswa yang kemarin disampaikan saat aksi unjuk rasa. Menurutnya, aksi itu dilontarkan karena para siswa marah dan jengkel ada alumni yang berbuat seperti itu. Juga perbuatan itu karena mencoreng nama baik sekolah.
"Mereka marah, yang membuat jengkel sebenarnya kan karena masih ada temannya yang mereka anggap sebagai korban gitu kan. Itu kemudian yang menjadi kekecewaan teman-teman," tambahnya. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi