Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Suhu Panas Ekstrem, Dinkes Semarang Waspadai ISPA, Dehidrasi dan Pneumonia

Adennyar Wicaksono • Jumat, 17 Oktober 2025 | 16:12 WIB
Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam
Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suhu udara ekstrem di Kota Semarang dalam beberapa hari terakhir tercatat mencapai 35–36 derajat celsius, meningkat pesat dari hari-hari biasa.

Kondisi panas ekstrem ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit yang dapat timbul akibat suhu tinggi dan kelembapan udara yang meningkat.

Misalnya dehidrasi, stroke akibat panas, hingga gangguan pernapasan seperti ISPA dan pneumonia. 

"Suhu 35–36 derajat Celsius ini jauh di atas normal. Kondisi seperti ini bisa memicu berbagai penyakit, mulai dari dehidrasi, stroke akibat panas, hingga gangguan pernapasan seperti ISPA dan pneumonia," kata Kepala Dinkes, M. Abdul Hakam, Kamis (16/10) petang.

Hakam menjelaskan, fenomena suhu panas yang berkepanjangan tidak hanya menyebabkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Dengan kondisi seperti ini, selain kesehatan fisik juga  berdampak pada kesehatan mental, penyakit kulit, hingga kardiovaskular.

Menurutnya, banyak pasien yang mengalami lonjakan tekanan darah maupun kadar gula akibat kombinasi cuaca panas dan pola konsumsi yang tidak sehat.

"Ada yang tiba-tiba tekanan darahnya melonjak tinggi atau kadar gulanya naik drastis karena tubuh kekurangan cairan dan konsumsi garam atau gula yang berlebihan," tuturnya.

Selain itu, Dinkes mencatat peningkatan risiko penyakit tular vektor seperti demam berdarah (DBD).

Menurut hasil penelitian di Semarang, saat suhu tinggi, populasi nyamuk memang berkurang, namun daya infeksi virus dengue meningkat.

"Pada suhu panas, nyamuk bisa jadi lebih sedikit, tetapi daya gigit dan kandungan virus dalam tubuhnya lebih tinggi. Ini membuat kasus DBD cenderung lebih berat,"paparnya.

Dari data yang ada, sampai minggu ke-40 tahun 2025 tercatat lima kasus kematian akibat demam berdarah, serta sepuluh kasus kematian ibu hamil yang juga dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem.

Untuk mengantisipasi, dia meminta masyarakat agar memperhatikan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

"Menjaga asupan cairan tubuh minimal 8–10 gelas per hari, menghindari aktivitas berat di luar ruangan, serta menggunakan topi atau payung saat beraktivitas di bawah terik matahari," paparnya.

Hakam menegaskan bahwa Dinkes Kota Semarang terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat melalui puskesmas serta posyandu agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalisir.

"Harus ada langkah mitigasi. Jangan abaikan tanda-tanda tubuh kekurangan cairan atau kelelahan panas. Jaga pola makan, cukup istirahat, dan tetap waspada terhadap risiko penyakit,"pungkasnya. (den)


Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #suhu ekstrem #panas