RADARSEMARANG.ID, Semarang – Malam di Bundaran Tugu Muda, Selasa (14/10), berubah menjadi panggung sejarah.
Dari drama teatrikal yang dipadukan dengan musik orkestra, puisi, lagu kebangsaan, hingga pesta kembang api, peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tampil megah.
Di tengah cahaya lampu sorot yang berganti merah dan putih, beberapa mobil perang tentara Jepang tampak mengelilingi Tugu Muda.
Suara tembakan bersahutan, menciptakan suasana mencekam yang membawa penonton hanyut pada suasana perjuangan 1945, saat rakyat Semarang bangkit melawan penjajah Jepang.
Sebanyak 120 personel terlibat dalam pementasan kolosal tersebut, mulai siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga komunitas teater. Kolaborasi lintas generasi ini membuat semangat perjuangan terasa hidup di jantung Kota Semarang.
Pementasan garapan Stefanus Sukirno ini tampil megah dan emosional. Kolaborasinya dengan Alfa Bintang Orkestra menambah kekuatan visual dan rasa.
Gesekan biola dan dentuman drum berpadu dengan pekik “Rawe-rawe rantas, malang malang putung!” dari para aktor, menghadirkan semangat perjuangan yang seolah bangkit kembali di tengah kota.
Ketika mobil perang Jepang berputar di sekitar Tugu Muda dan suara tembakan menggema. Beberapa bahkan meneteskan air mata.
Baca Juga: Konflik Lahan Vihara 2500 Buddha Jayanti Semarang Mengancam Kegiatan Ibadah
Pentas ditutup dengan pembacaan puisi perjuangan, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan yang dinyanyikan bersama.
Langit malam Semarang meledak indah oleh kembang api di atas Tugu Muda. Tepuk tangan panjang menggema, memecah malam yang haru sekaligus megah.
“Kolaborasi tahun ini luar biasa. Dengan orkestra, suasananya benar-benar hidup,” ujar sang sutradara, Sukirno.
Bagi Sukirno, pementasan ini bukan sekadar tontonan tahunan, melainkan pengingat jati diri Kota Semarang.
“Dulu saya cuma diberi waktu tujuh setengah menit tampil. Sekarang bisa 46 menit, karena semakin banyak kisah yang harus diceritakan,” tuturnya.
Lelaki yang telah menggarap kisah heroik ini sejak 2008 itu menambahkan, tahun ini ia memfokuskan cerita pada sosok Raden Pandji Wongsonegoro, Gubernur pertama Jawa Tengah yang sehari setelah dilantik langsung menyatakan perang terhadap Jepang.
“Wongsonegoro itu gubernur beneran. Beliau dilantik 13 Oktober, dan 14 Oktober perang pecah. Tapi jarang yang tahu kalau beliau ikut menyatakan perlawanan,” ungkap Sukirno.
Baca Juga: Ratusan Santri Geruduk Kantor KPID Jateng di Semarang, Tuntut Izin Trans7 Dicabut
Selain kisah Wongsonegoro, ia juga memperkaya naskah dengan cerita pasukan Toyib dari Gajahmungkur serta sosok eyang dari dr. Grace dari Klub Merby, yang membantu logistik para pejuang.
“Lima hari perang tanpa ada yang memberi makan, enggak mungkin bertahan. Orang-orang seperti itu enggak boleh dilupakan,” katanya.
Malam itu, Wongsonegoro, sang gubernur yang dulu terlupakan, seakan hidup kembali, berdiri tegak di kota yang pernah ia bela dengan darah dan keberanian.
Sosoknya diperankan oleh Hafizh Fadhlur Rohman dari Teater Pitoelas, alumnus Untag Semarang. Dengan pakaian dinas kolonial dan sorot mata tegas, Hafizh menampilkan sosok pemimpin yang tenang namun berani.
“Beliau sosok patriotik. Semangatnya harus diteladani generasi muda,” ujarnya.
Adegan lain yang membuat penonton terdiam adalah saat dr. Kariadi berlari menuju tandon air yang diracun Jepang.
Adegan ini diperankan Abdul Manan dari Teater Pitoelas dengan pencahayaan merah dan iringan musik orkestra yang mencekam, karena tiba-tiba mendengar kabar dr. Kariadi dibunuh oleh tentara Jepang.
“Kesulitannya besar karena harus menggambarkan dokter yang ilmuwan tapi juga patriot. Kami riset dua bulan. Tidak ada video dokumenter, jadi semua kami gali dari literasi dan arahan sutradara,” jelas Manan.(fgr)
Editor : Baskoro Septiadi