Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Doktor Nur Fajrie Raih Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025, Akademisi Penggerak Riset dan Pengabdian untuk Kemajuan Pendidikan

H. Arif Riyanto • Senin, 13 Oktober 2025 | 21:04 WIB
Ketua Prodi Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana UMK Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd. menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025 dari Direktur Baehaqi di Hotel Gets Semarang.
Ketua Prodi Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana UMK Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd. menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025 dari Direktur Baehaqi di Hotel Gets Semarang.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang—Dr Nur Fajrie S.Pd., M.Pd. adalah penerima penghargaan Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025 kategori Akademisi Penggerak Riset dan Pengabdian untuk Pendidikan yang digelar di Hotel Gets Semarang, Jumat (19/9/2025) lalu.

Bagi Ketua Prodi Magister Pendidikan Dasar (MPD) Pascasarjana Universitas Muria Kudus (UMK) ini, penghargaan tersebut dimaknai sebagai motivasi untuk terus melahirkan riset yang relevan, aplikatif, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.

Sekaligus memperkuat program pengabdian berbasis keberlanjutan yang berdampak nyata, khususnya di bidang pendidikan.

Alhamdulillah, saya menerima penghargaan ini dengan penuh rasa syukur dan rendah hati. Bagi saya, Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025 ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga pengakuan atas kerja kolektif bersama rekan dosen, mahasiswa, serta mitra masyarakat yang telah berjalan seiring dalam riset dan pengabdian,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Alumnus S3 Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini berharap diraihnya penghargaan tersebut dapat menjadi pemantik semangat.

Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi akademisi muda untuk berani berinovasi, berkolaborasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan serta pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Nur Fajrie menceritakan awal menjadi dosen di Universitas Muria Kudus (UMK) pada 2012.

Saat itu, ia  diterima menjadi dosen untuk mengampu mata kuliah Pendidikan Seni di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PGSD FKIP).

“Karena saya lulusan S2 Jurusan Pendidikan Seni yang lulus tahun 2011, FKIP UMK membutuhkan tenaga pengajar di bidang pendidikan seni bagi calon guru Sekolah Dasar. Hal tersebut menjadi asal saya mengeluti dunia akademis yang sebelumnya pernah menjadi Guru Seni di SMA Negeri 6 Semarang,” ceritanya.

Ia mengaku memang berkeinginan menjadi pengajar atau dosen.

Nur Fajrie tertarik dengan dunia riset bidang pendidikan, khususnya pendidikan seni untuk anak.

 “Saya merasa dunia akademis, khususnya Tridharma (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian) cocok dengan cita-cita saya. Orang tua juga mensupport, apalagi almarhum ibu saya juga guru SD. Sehingga motivasi serta tujuan hidup mengarah pada dunia pendidikan,” kata dosen kelahiran Semarang, 19 September 1978 ini.

 

Seni Adalah Dunianya

Sedangkan titik awal dirinya menyukai aktivitas riset dan pengabdian masyarakat, karena Nur Fajrie merasa seni adalah dunianya.

Di mana kehidupan berkesenian kerap berinteraksi dan bersosialisasi langsung dengan masyarakat.

Hal ini menjadi modal dirinya untuk tergerak meneliti dan mengabdi bagi lingkungan sekitar.

“Bagi saya, bertemu dengan masyarakat dan mengetahui serta memahami persoalan di lingkungan sekitar menggerakkan simpati maupun empati saya untuk melakukan analisis kebutuhan, mengidentifikasi, memberikan solusi, dan merefleksikan diri terhadap pemenuhan kebutuhan secara kontekstual di masyarakat sekitar,” ujarnya.

Adapun riset pertama yang dilakukan Nur Fajrie adalah saat mengikuti penelitian dosen pemula pada 2013 yang didanai oleh Dikti (Dirjen Pendidikan Tinggi).

Saat itu, risetnya mengangkat tentang pembelajaran seni untuk anak-anak disabilitas sensorik netra (tunanetra).

Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd
Dr. Nur Fajrie, S.Pd., M.Pd

“Riset pertama ini membuat saya memiliki pengalaman dan pemahaman mendasar akan pentingnya memberi perhatian khusus untuk kelompok minoritas ini. Komunitas anak-anak disabilitas juga memiliki hak untuk mendapatkan kelayakan dan pemenuhan pendidikan secara khusus,” bebernya.

Setelah riset pertama itu, berbagai riset dan pengabdian yang memiliki tema tentang kajian pendidikan seni di beberapa multidisiplin dilakukan Nur Fajrie.

Baginya, tema riset dan pengabdian yang telah dilakukan memberikan sensasi dan kesan yang mendalam.

Terkhusus riset tentang pendidikan seni yang dikaitkan dengan persepsi estetis kelompok disabilitas.

“Pada tahun 2024 hingga 2025, saya mendapatkan riset hibah skema Fundamental dan Penelitian Terapan-Luaran Prototipe yang memiliki arah keberadaan seni dalam komunitas disabilitas. Kesan melakukan riset untuk persoalan disabilitas juga menjadi pengalaman spiritual secara pribadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Dengan menggali minat, ekspresi, imajinasi bahkan bakat anak-anak disabilitas dalam bidang seni, saya merasa masuk dalam dimensi psikososial yang unik, menarik dan bermakna,” jelasnya.

Sedangkan untuk pengabdian masyarakat, Nur Fajrie sangat berkesan terkait pemenuhan kebutuhan kreatif masyarakat secara umum, seperti para perajin lokal dan secara khusus kelompok disabilitas untuk tetap eksis dalam kehidupan masing-masing.

“Untuk tahun 2023 hingga 2025 ini, saya diberi amanah mendapatkan hibah Pengabdian Masyarakat Kompetitif Nasional Mono Year dan Multi Year yang mengangkat pengembangan indutri kreatif kelompok disabilitas dan masyarakat pengrajin lokal di wilayah Kabupaten Kudus,” akunya.

Bagi Nur Fajrie, keinginannya secara individu adalah menghubungkan industri kreatif para pengrajin lokal dengan kebutuhan aktualisasi pada kelompok disabilitas.

Seperti halnya di daerah Pantura Timur Jawa Tengah yang memiliki kekayaan dan keragaman budaya dan adanya daya kreatif masyarakatnya, para pengrajin berbasis masyarakat lokal  dapat menerima keberadaan kelompok disabilitas untuk mendapatkan penghidupannya dan bukan menjadi “beban” masyarakat nantinya.

Ia mengaku, setiap kali riset dan pengabdian yang didana dari hibah pemerintah terkecil mulai Rp 30 juta untuk skema pemula pada awal menjadi dosen.

Kalau dana hibah terbesar saat ini hingga setengah miliar rupiah dengan skema terapan dan pengabdian masyarakat daerah unggulan sebesar hamper Rp 200 juta.

Suka dan Duka

Dikatakan, sebagai akademisi yang berakar kuat pada budaya ilmiah, riset dan pengabdian terasa bermakna karena langsung bersentuhan dengan komunitas baik secara kekeluargaan, mitra, jejaring kolaborasi dan teman.

Hal ini memberikan kepuasan batin karena proses riset dan pengabdian tersebut tidak berhenti pada publikasi maupun bersoasialisasi, namun hidup dalam praktik sosial.

Melalui program riset dan pengabdian, kata dia, juga menambah jejaring dan muncul kesempatan memperluas kerja sama.

“Kepuasan tersendiri juga ketika hasil penelitian dan pengabdian dipublikasikan di jurnal internasional, masuk dalam Scopus/SINTA, atau ketika program pengabdian mendapat apresiasi,” katanya.

Menurut Nur Fajrie, rekognisi ini menumbuhkan semangat untuk terus berkarya.

Begitupula adanya keikutsertaan mahasiswa terlibat dalam riset dan pengabdian, kemudian para mahasiswa berkembang lebih percaya diri, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seorang dosen.

Sedangkan untuk dukanya, kalau deadline dan aktivitas dengan waktu yang padat.

Kewajiban dosen tidak hanya riset dan pengabdian, tapi juga mengajar, membimbing, kegiatan di kampus, pengurusan adminitrasi dan berbagai kesibukan.

Menurut dia, saat ini menjadi dosen itu harus multitasking dan harus memiliki manajemen waktu yang baik.

Dengan berbagai kesibukan tersebut membutuhkan mental dan fisik yang prima.

Proses birokrasi dan adminitrasi dalam  hibah penelitian dan pengabdian kadang menjadi faktor kendala dalam melakukan aktivitas akademis tersebut.

Apakah pernah mengalami kegagalan?

Dikatakan Nur Fajrie, adanya kegagalan merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan riset dan pengabdian.

Hampir setiap dosen, termasuk dirinya pernah mengalaminya dalam berbagai bentuk.

Misalnya, proposal belum lolos, proses riset mengalami kendala, kontribusi dalam pengabdian belum berdampak, dan luaran riset tidak tercapai.

“Sebenarnya apapun yang terjadi adalah bentuk umpan balik untuk saya, yang mana proses kegagalan menghasilkan ilmu hakekat secara bermakna,” ujarnya.

Adapun tips untuk bangkit adalah memotivasi diri dan berserah diri untuk memantaskan dalam upaya selanjutnya.

“Jangan menganggap segalanya sebagai akhir, namun justru dapat memberikan insight apa yang perlu diperbaiki untuk menuju berkarya yang terbaik,” katanya.

Dukungan Keluarga, Teman dan Pimpinan

Nur Fajrie tak menampik, dukungan keluarga adalah yang utama setiap melakukan riset dan pengabdian.  

Ia sebagai dosen sekaligus akademisi selalu disupport oleh keluarga.

Apalagi sang istri juga dosen, sehingga memiliki circle maupun habitus suka meneliti dan mengabdi untuk masyarakat.

“Keluarga sebagai inspirasi dan memotivasi terus dalam berkarya.  Saat proses riset dan pengabdian menemui jalan buntu atau terasa melelahkan, keluarga hadir sebagai tempat berbagi cerita, memberi semangat, dan menjaga agar tetap seimbang antara pekerjaan akademis dengan kehidupan pribadi,” bebernya.

Keluarga juga memahami kesibukan, mulai dari begadang menyelesaikan artikel, rapat penelitian, hingga sering meninggalkan rumah untuk kegiatan lapangan.

“Justru tidak jarang ide riset atau pengabdian lahir dari pengalaman sehari-hari bersama keluarga. Misalnya, pendidikan anak, nilai budaya, atau interaksi sosial di lingkungan sekitar,” akunya.

Selain keluarga, bagi Nur Fajire dukungan teman juga sangat diperlukan.

Dukungan teman sesama dosen ini tidak lain dan tidak bukan adalah kolaborasi akademik.

Teman sejawat sering menjadi partner riset, reviewer internal, hingga tim pengabdian.

“Dengan kerja bersama, beban yang berat terasa lebih ringan. Sesama dosen khususnya di UMK selalu berbagi trik menulis artikel internasional, cara menyusun proposal hibah, hingga strategi menghadapi reviewer,” katanya.

Pengalaman kolega nasional maupun di internasional juga sangat membantu agar tidak mengulang kegagalan yang sama.

Dalam komunitas akademik di UMK, lanjut dia, semangat sering muncul karena saling menyemangati.

Seperti contoh, ketika satu dosen berhasil publikasi Scopus, yang lain termotivasi untuk mengikuti jejaknya.

Yang tak kalah pentingnya adalah dukungan pimpinan di UMK yang telah menyediakan dana penelitian secara internal dan ruang serta waktu untuk selalu berkiprah dalam meneliti maupun mengabdi di masyarakat.

Apresiasi para pimpinan di UMK juga telah dilakukan dengan rekognisi dan menghargai bagi dosen-dosen yang berprestasi untuk selalu produktif.

“Iklim dan budaya akademik secara kondusif. Hal ini membuat saya sebagai bagian civitas akademik di UMK merasa didukung dan diberdayakan,” ucapnya.

Jadi Role Model Effect

Diakui Nur Fajrie, virus kebaikan untuk memotivasi dalam riset dan pengabdian  biasanya memang menular secara positif ke dosen-dosen lain.

Karena dirinya sering berinteraksi dengan lingkungan, harapannya  bisa menjadi role model effect bagi teman dan lingkungan sekitar seperti mendiskusikan masalah publikasi, pengajuan proposal, dan terkait system pembelajaran apa yang cocok dengan pendekatan belajar mahasiswa.

“Saya juga sering mengajak kolaborasi internal di kampus dengan mengajal teman-teman dosen yang multidisiplin sehingga domino effect akan berlangsung secara sistematis. Beberapa dosen di UMK yang awalnya hanya fokus mengajar kemudian ikut menulis artikel setelah melihat koleganya lolos di jurnal SINTA 2 atau Scopus,” katanya.

Tak hanya itu, program pengabdian berbasis budaya lokal (misalnya karawitan, batik, atau kriya monel Jepara) awalnya dilakukan oleh satu dua dosen, tapi kemudian berkembang melibatkan lintas prodi dan fakultas. 

“Upaya dan usaha tersebut mudah-mudahan menjadi fastabiqul khairat  bagi individu saya dan bermanfaat untuk sekitarnya,” ujar dosen yang pernah memperoleh penghargaan di bidang Tridarma selama tahun 2022 hingga 2025 serta penghargaan dosen terdisiplin, berprestasi dan apresiasi dosen score SINTA tertinggi di UMK ini.

Nur Fajrie tak menampik, banyak dosen lebih nyaman berada di zona mengajar atau memprioritaskan menjabat saja.

Tapi ia percaya, keluar dari zona nyaman adalah kunci agar kita sebagai akademisi tetap relevan.

“Riset dan pengabdian bukan sekadar kewajiban tridharma, melainkan panggilan untuk menghadirkan ilmu yang hidup, ilmu yang membumi, dan ilmu yang memberi manfaat luas,” tandasnya.

Ditanya prinsip hidup dan penyemangat dalam melakukan riset dan pengabdian, Nur Fajrie menyebut prinsip hidupnya sederhana, yakni ilmu itu harus bermanfaat.

“Saya selalu percaya bahwa pengetahuan yang hanya berhenti di ruang kelas atau lembar jurnal tidak akan memberi makna sepenuhnya jika tidak kembali kepada masyarakat. Karena itu, saya menjadikan riset dan pengabdian sebagai jalan untuk berbagi, memberdayakan, sekaligus belajar dari realitas kehidupan di sekitar,” bebernya.

Bagi Nur Fajrie, penyemangat setiap kali melakukan riset dan pengabdian adalah melihat perubahan nyata, sekecil apapun, yang lahir dari kerja-kerja akademik.

“Misalnya, ketika hasil riset bisa membantu kelompok minoritas mendapatkan ruang berekspresi atau pengabdian bisa menguatkan masyarakat sekitarnya. Momen-momen itu memberi energi luar biasa,” pungkasnya. (arif riyanto)

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Magister Pendidikan Dasar #Hotel Gets #Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2025 #Riset #PENGABDIAN #Pascasarjana UMK