RADARSEMARANG.ID, Semarang - Farida Handayani masih terlihat syok. Rumahnya yang dihuni bersama keluarganya roboh, Selasa (16/9/2025) sekitar pukul 16.00.
Rumah tersebut berada di Jalan Sri Rejeki Timur Raya Gang 11 Semarang Barat. Posisi bangunan, di tepi gang perkampungan yang kondisinya menanjak.
Bangunan tersebut roboh pada bagian belakang, seharinya digunakan sebagai dapur dan kamar mandi.
Menurut Farida, pada saat kejadian tidak sedang di rumah. Namun, di rumah terdapat anak-anaknya yang sedang berada di kamar.
"Saya pas lagi diluar, di rumah ada anak-anak sedang di kamar. Taunya dikabari terus pulang ke rumah,"
Farida mengaku, sebelum roboh pondasi rumahnya sudah terlihat retak.
Kemudian, bangunan bagian tengah mengalami jebol, dan kemudian roboh.
"Retak-retak baru seminggu, itu yang belakang dapur sama kamar mandi. Kalau bangunan rumah sudah lama, renovasi sekitar tiga tahun yang lalu," katanya.
Kejadian tersebut, Farida masih tetap tinggal di rumah dengan alasan kamar tidur masih dalam kondisi aman.
"Kalau kamar tidur masih aman. Kalau kamar mandi nanti numpang ke tetangga dulu," jelasnya.
Material bangunan yang roboh sebagian berhamburan ke samping hingga menerjang pekarangan rumah milik Sutono yang berada di belakang, seberang gang.
Baca Juga: Prompt Gemini AI, Bikin Foto Keluarga Menjadi Miniatur AI, Berikut Contoh Promptnya
Bahkan, material juga mengenai bangunan kamar depan rumah Sutono, hingga kaca jendela mengalami pecah mengenai anaknya, bernama Dewo, yang sedang mainan hp di dalam kamar.
"Awalnya tiduran di kamar mainan HP, tiba-tiba ada suara tanah kayak gerak. Terus lihat jendela kok gelap ternyata longsor," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (16/9/2025).
"Terus lompat dari kasur mau keluar kamar, malah kedaulujan terkena material. Kaki ketimbun material sama pecahan kaca. Hanya luka lecet bagian kaki sama tangan, sekarang diobati sendiri," katanya.
Terlihat, material bangunan menutup akses jalan di dalam perkampungan tersebut.
Material longsor juga tengah ditutupi dengan terpal untuk mencegah adanya longsor susulan. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi