RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Suasana siang hari di beberapa sekolah di Kota Semarang sangatlah sibuk. Salah satunya di SMP Negeri 6 Semarang pada Selasa 19 Agustus 2025 lalu.
Puluhan siswa antusias mengantri di depan ruang kepala sekolah, bukan karena ingin mengambil nilai ulangan, melainkan untuk mendapatkan kotak makan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Kala itu SMP Negeri 6 Semarang baru pertama kali mendapatkan MBG. Para guru telah menyiapkan empat meja untuk tempat menaruh kotak MBG. Sebelum siswa dipanggil untuk mengambil, kotak makan berbahan stainless itu telah ditata rapi. Baru setelahnya guru memanggil perwakilan siswa dari masing-masing kelas.
Menu pembuka yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) cukup kekinian. Ada dua lembar roti tawar, scrambled egg, sayuran segar, lengkap dengan saus tomat, dan susu kotak.
Melihat menu MBG itu kreativitas siswa pun mencuat. Anak-anak itu dengan polos menjadikannya sajian baru. Roti dioles saus, diberi telur dan sayuran, lalu digulung. Jadilah sandwich sederhana. Tawa mereka pecah, bukan karena gurauan, melainkan kebahagiaan sederhana, makan siang tanpa harus merogoh uang saku.
“Yey, seneng bisa dapat makan enak,” seru Dwi Rasya Nur Afif, siswa kelas VII asal Genuk.
Tangannya masih belepotan saus tomat ketika ia mengangkat roti gulung ke udara. Lalu, dengan polosnya para pelajar bertanya kepada petugas. “Mbak ada lagi nggak mbak (MBG-nya)?,” teman-temannya serempak tertawa.
Tak cukup, ia masih sempat berpesan untuk request menu di hari selanjutnya. “Besuk menunya nasi ayam geprek ya," canda Dwi Rasya.
Sementara itu, Wakil Kepala SMP Negeri 6 Semarang Purwanto yang sempat berkeliling kelas tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia senang melihat anka-anak makan dengan lahap tanpa sisa.
“Hari ini menunya sandwich, kelihatannya anak-anak suka karena ini menu kekinian. Saya keliling ke kelas VII, VIII, IX, semua tampak senang. Kelihatannya malah kurang, tidak ada yang tersisa,” ungkapnya.
Sebanyak 778 siswa menerima MBG hari itu. Pihak sekolah bahkan memperhatikan detail kecil. Sebab ada sembilan siswa yang alergi telur, pihak SPPG pun menggantinya lauk daging sapi. Tak ada yang merasa ditinggalkan. Semua dapat bagian dan bisa makan dengan lahap.
Terpisah di SMA Negeri 7 Semarang setiap pukul 11.00, para guru juga sudah sibuk menerima kotak MBG dari SPPG. Baru saat bel istirahat kedua berbunyi, siswa akan berbondong-bondong mengambil kotak makan. Deru langkah kaki mereka pun terdengar kencang. Sembari berlarian kecil, siswa menenteng kotak makan dengan wajah gembira. Mereka membawanya ke kelas dan membagikannya kepada murid lain.
Di kelas XII-1, Farid Fadhilah Ahsan langsung membuka kotaknya. Senyum muncul di wajah 17 tahun itu. Sekolah ini telah mendapatkan program MBG sejak 14 April 2025. Sejak saat itulah Farid mendapatkan banyak manfaat. Ia bisa menghemat uang sakunya hingga Rp 15 ribu per hari.
"Manfaatnya (MBG) besar banget. Dulu saya selalu keluar Rp 15 ribu untuk makan siang. Uangnya bisa saya tabung, untuk bensin, atau buat fotokopi tugas,” akunya.
Bagi Farid, kotak makan MBG bukan hanya soal nasi, lauk, dan sayur. Ada rasa lega, ada perasaan dihargai, dan ada kesempatan untuk bermimpi lebih jauh. Katanya, MBG ini selain bikin kenyang juga bikin sehat. Sebab menunya bergizi.
“Nggak bosen, karena menunya variatif. Saran saya tetap dibuat variatif biar nggak monoton, tapi gizinya seimbang. MBG mantap,” katanya.
Farid menyebut manfaat MBG ini bukan hanya soal hemat uang saku. Tapi juga memberinya pengalaman mencicipi beragam menu yang jarang ia temui di kantin sekolah. Dari sekian banyak, ada beberapa yang jadi favoritnya.
Ia masih ingat betul ketika dua kali mendapatkan menu nasi putih dengan ikan dori krispi, lengkap dengan lauk tahu bacem. Lalu ditambah mix vegetable, dan pisang ambon sebagai pencuci mulut.
“Itu enak banget, apalagi dori krispinya. Gurih, pas dimakan sama nasi. Tahu bacemnya juga manis, jadi perpaduannya pas,” ujarnya.
Tak kalah berkesan, Farid juga menyebut menu mie ayam. Menu ini sudah tiga kali didapatkannya. "Enak, ayamnya bumbunya kerasa, dan juga ada sayurnya. Jadi nggak sekadar mie, tapi tetap sehat,” tuturnya sambil tersenyum.
Ada pula menu unik lain yang menurutnya cukup inovatif, yakni roti burger. Meski baru sekali datang, ia langsung menganggapnya sebagai kandidat menu favorit.
“Itu inovasi baru, rasanya enak, roti empuk, isiannya pas. Sepertinya akan jadi menu favorit saya kalau sering keluar,” ucapnya.
Baginya setiap kotak MBG bukan hanya soal mengenyangkan. Di balik itu ada rasa penasaran, kejutan, sekaligus kebanggaan kecil. Bahwa di sekolah, ia bisa makan makanan bergizi tanpa harus memikirkan uang saku yang terkuras.
Pelaksanaan program MBG di sekolah-sekolah Semarang ini terasa istimewa terutama di momentum HUT ke-80 RI. Dimana semangat kemerdekaan ini bukan hanya soal politik dan sejarah, melainkan juga merdeka dari keterbatasan gizi dan ketidakadilan akses makanan sehat.
Tema Merdeka Gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terasa pas karena mencerminkan semangat kemerdekaan Indonesia di bidang pemenuhan gizi. Program yang digagas Presiden terpilih ini diarahkan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 dengan memastikan anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui memperoleh asupan gizi yang layak demi masa depan bangsa.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat melakukan pantauan di sekolah penerima MBG awal tahun 2025 lalu juga menekankan pentingnya variasi menu yang sesuai kearifan lokal. Sekaligus melibatkan kekuatan UMKM di daerah masing-masing.
"Kalau memang di situ kekuatannya di peternakan ayam, maka yang diserap itu. Kalau memang ada peternakan sapi, maka yang diserap itu. Jadi, semuanya juga nanti kita lihat kearifan lokal dari sisi menu makanannya," kata Meutya.
Pesan itu sejalan dengan aspirasi siswa seperti Farid yang ingin menu MBG tetap variatif. Sementara bagi Rasya dan kawan-kawan di SMPN 6, bahkan secuil sandwich sederhana saja sudah membawa rasa gembira.
Tak kalah penting di balik kotak makan sederhana itu, tersimpan makna besar.
Merdeka gizi bukan sekadar jargon, tapi nyata dirasakan anak-anak. Mereka bisa belajar tanpa perut keroncongan, orang tua lebih ringan bebannya, dan UMKM lokal ikut hidup karena bahan baku diserap dari sekitar.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) gencar meluruskan berbagai informasi negatif dan menyesatkan tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beredar di media sosial (medsos).
Kemkomdigi pun meminta masyarakat tidak percaya begitu saja mengenai isu negatif MBG yang banyak beredar di medsos. Meutya Hafid menegaskan pentingnya prinsip jurnalistik dalam menyaring informasi, terutama untuk program strategis pemerintah seperti MBG yang diampu Badan Gizi Nasional (BGN).
"Kita sedang berhadapan dengan konten media sosial yang seringkali tidak mengedepankan prinsip jurnalistik. Banyak informasi tentang MBG yang beredar justru misleading dan tidak sesuai fakta lapangan," tegas Meutya dalam acara Silaturahmi dengan Para Pemimpin Redaksi Media di Jakarta, Kamis (22/5/2025). (kap/ap)
Editor : Agus AP