Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Awan Kumulonimbus Picu Hujan Angin dan Gelombang Tinggi di Laut Jawa, BMKG Ingatkan Nelayan Waspada

Figur Ronggo Wassalim • Rabu, 20 Agustus 2025 | 19:08 WIB

 

Usman Efendi, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Mas Semarang saat ditemui, Rabu (20/8).
Usman Efendi, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Mas Semarang saat ditemui, Rabu (20/8).

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Cuaca di Laut Jawa mendadak berubah drastis pada Selasa (19/8).

Langit yang semula tenang, tiba-tiba diselimuti awan gelap menjulang. 

Awan kumulonimbus atau yang dikenal masyarakat pesisir sebagai “awan kupu-kupu” muncul, memicu hujan deras disertai angin kencang.

Akibatnya, gelombang laut di sekitar Pantura Jawa Tengah, mulai dari perairan Kendal hingga Semarang, naik signifikan.

Usman Efendi, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Mas Semarang, menjelaskan, angin timuran yang biasanya mendominasi Agustus ini relatif lemah, kecepatannya hanya sekitar 6–15 knot. Tinggi gelombang umumnya masih rendah, antara 0,5 sampai 1,25 meter. 

 Baca Juga: 12 Pemancing Dihantam Gelombang di DAM Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, 4 Orang Tewas, 1 Hilang

"Namun, kemarin terjadi pertemuan awan kumulonimbus yang cukup signifikan. Inilah yang menimbulkan hujan, angin kencang, dan peningkatan tinggi gelombang," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (20/8).

Menurut Usman, kondisi ekstrem tersebut diprediksi berlangsung hingga 21 Agustus 2025.

“Setelah itu, dalam tiga hari ke depan, gelombang laut kembali relatif aman, kategori tenang hingga rendah,” tambahnya.

Meski begitu, BMKG tetap mengimbau nelayan dan pemancing agar meningkatkan kewaspadaan. Terutama pada pagi hingga sore hari, ketika potensi gelombang tinggi lebih sering terjadi. 

“Jika mendapati tanda-tanda awan mendung pekat dan angin yang tiba-tiba bertiup kencang serta dingin, segera hentikan aktivitas melaut. Itu pertanda awan kumulonimbus mulai terbentuk,” pesan Usman.

Selain gelombang, masyarakat pesisir juga diingatkan mengenai potensi rob atau banjir pasang.

Untuk bulan Agustus ini, rob diprediksi terjadi pada 18–23 Agustus dengan ketinggian maksimal 1 meter. 

 Baca Juga: Kronologi 4 Pemancing Tewas setelah Dihantam Gelombang Tinggi di DAM Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, 1 Orang Masih Hilang

“Khusus Semarang dan Demak, memang harus waspada. Meski intensitasnya tidak setinggi Juni–Juli lalu, tetap ada potensi genangan,” ujarnya.

BMKG sendiri memantau fenomena ini lewat citra satelit.

Dari citra tersebut, awan kumulonimbus terdeteksi dengan warna oranye hingga merah, menandakan suhu puncak awan mencapai minus 48 derajat Celcius atau lebih dingin. 

“Di titik-titik inilah hujan lebat dan angin kencang berpotensi muncul,” terang Usman.

Kini, meski cuaca di Laut Jawa kembali relatif kondusif, nelayan diminta tidak lengah.

Agustus memang masuk musim kemarau, namun masih ada potensi hujan lokal dan angin kencang yang datang tiba-tiba. 

“Apalagi bulan September nanti, ada prediksi kenaikan pasang dibanding Agustus ini. Jadi tetap ikuti update prakiraan dari BMKG,” imbaunya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#awan #awan gelap #laut jawa #CUACA #Berubah Drastis