Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pesona Abadi di Balik Motor Klasik, Motor Antique Club Indonesia MACI Semarang Punya Ratusan Anggota

Figur Ronggo Wassalim • Minggu, 10 Agustus 2025 | 18:20 WIB
Para anggota Motor Antique Club Indonesia (MACI) Semarang saat berkumpul dan bercengkrama dengan motor klasik. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Para anggota Motor Antique Club Indonesia (MACI) Semarang saat berkumpul dan bercengkrama dengan motor klasik. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID - Di tengah derasnya arus teknologi dan maraknya kendaraan modern, sekelompok orang justru jatuh cinta pada mesin tua berbalut logam kokoh.

Mereka adalah para pecinta motor klasik yang tergabung dalam Motor Antique Club Indonesia (MACI) Semarang.

Komunitas ini bukan sekadar kumpulan penggemar motor. Tetapi juga penjelajah waktu. Mereka membawa semangat era 50-60-an ke masa kini lewat deru knalpot dan gemerlap krom tua.

Saat ditemui di depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Semarang, ada 10 motor dari tahun 1950 an berjejer rapi.

Sementara para anggotanya bercengkrama membahas kabar dan kondisi motor miliknya.

Ketua MACI Semarang, Sony Harwanto, menuturkan, komunitas ini telah berdiri selama 41 tahun dan tetap eksis hingga sekarang. “Batasnya motor tahun 60 ke bawah. Maksimal tahun 62. Itu yang masuk kategori motor antik,” jelasnya.

Para anggota Motor Antique Club Indonesia (MACI) Semarang saat berkumpul dan bercengkrama dengan motor klasik. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Para anggota Motor Antique Club Indonesia (MACI) Semarang saat berkumpul dan bercengkrama dengan motor klasik. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Motor-motor yang mereka rawat bukan sembarang tua. Nama-nama seperti BSA, Ariel, Norton, DKW, Zundapp, AJS, jawa, Pannonia, BMW, Ducati, Horex, MZ, Triumph hingga Royal Enfield lawas menjadi primadona di garasi para anggota. Mayoritas pabrikan Inggris dan Eropa, meski ada juga dari Jerman.

Soal harga sangat bervariasi. Membicarakan motor antik tentu tak lepas dari urusan suku cadang. Tidak heran, komunitas ini menjadi tempat berbagi informasi dan solusi bagi para kolektor dan pemilik.

Kini, MACI Semarang memiliki sekitar 150 anggota aktif. Mereka rutin menggelar kopdar setiap Minggu sore di Gubernuran, Jalan Pahlawan.

“Kalau nggak ikut klub, nyari sparepart susah. Kadang kampas rem aja harus kita buat sendiri di tukang kampas,” ujarnya sambil tersenyum.

Dulu sempat berkumpul di depan Telkom sejak awal 90-an. Kini, mereka berpindah lokasi agar lebih leluasa.

“Anggotanya bebas, dari yang muda usia SMA sampai yang sepuh. Bahkan ada yang turun-temurun dari bapak ke anak,” ungkap Sony.

Salah satu contohnya adalah Erni, yang dulu bergabung saat masih SMP. Mengikuti jejak ayahnya yang juga pecinta motor antik. Selain silaturahmi, komunitas ini juga aktif dalam kegiatan sosial dan touring.

Melihat koleksi motor mereka, semuanya full logam. Bagi para anggota MACI, merawat motor antik bukan hanya soal mesin dan bodi.

Namun, soal merawat kenangan, melestarikan warisan, dan menyatukan jiwa dalam dentuman mesin tua yang tak pernah kehilangan pesonanya.

“Ini bukan sekadar hobi, tapi gaya hidup dan kebanggaan,” tutupnya dengan penuh semangat. (fgr/fth)

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #motor klasik