RADARSEMARANG.ID, Semarang — Dalam upaya nyata menanggapi ancaman banjir rob yang kian sering melanda kawasan pesisir Kota Semarang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang melaksanakan sebuah aksi perubahan strategis bertajuk “Pemetaan Daerah Rawan Bencana Banjir Rob Menuju Kelurahan Tangguh Bencana.”
Kegiatan ini difokuskan pada dua kecamatan prioritas, yakni Kecamatan Genuk dan Kecamatan Semarang Utara, yang selama ini menjadi wilayah langganan banjir rob.
Program ini lahir dari kesadaran, minimnya data dan informasi risiko bencana di tingkat kelurahan menjadi penghambat utama dalam menyusun kebijakan penanggulangan bencana yang efektif.
Melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, BPBD Kota Semarang bersama masyarakat, Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) kelurahan, dan perangkat pemerintah setempat, melakukan serangkaian kegiatan mulai dari pelatihan, identifikasi rumah rawan, penyusunan peta risiko, hingga sosialisasi zonasi dan mitigasi.
Pelaksana aksi perubahan, Riyanto, S.I.Kom., MM, menjelaskan, hasil dari kegiatan ini bukan sekadar dokumen atau data, tetapi juga membentuk kesadaran dan ketangguhan masyarakat.
“Kami melatih Forum PRB kelurahan, membentuk tim identifikasi risiko, dan bersama warga langsung turun ke lapangan untuk memetakan rumah dan wilayah terdampak. Warga kini lebih paham ancaman di lingkungannya dan tahu langkah yang harus diambil ketika bencana datang,” ujarnya.
Hasil pemetaan ini memuat data spasial rumah rawan bencana, jalur evakuasi, titik kumpul, serta fasilitas vital yang terdampak. Informasi tersebut telah disosialisasikan secara luas kepada warga dalam bentuk peta sederhana dan infografis yang mudah dipahami.
Lebih dari itu, data tersebut kini telah digunakan sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Kontingensi Bencana di tingkat kelurahan, serta mulai diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan seperti RKP dan Musrenbang Kelurahan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang Drs Endro Pudyo Martantono, Msi menyampaikan, langkah ini menjadi fondasi kuat bagi program lanjutan.
“Hasil aksi perubahan ini akan langsung kami gunakan untuk memperkuat dua program besar kami, yakni pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (KATANA) dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Data dan peta risiko yang sudah ada akan menjadi acuan dalam mengembangkan komunitas siaga di masyarakat dan sekolah-sekolah,” tegasnya.
Program KATANA akan mendorong terbentuknya kelompok masyarakat tangguh yang mampu merespons ancaman bencana secara mandiri, sedangkan SPAB akan diarahkan pada peningkatan kesiapsiagaan siswa dan tenaga pendidik, terutama di sekolah yang berada dalam zona merah berdasarkan hasil pemetaan.
Aksi perubahan ini juga mencerminkan penerapan nilai-nilai budaya kerja ASN BerAKHLAK, khususnya dalam hal akuntabilitas, kolaboratif, dan adaptif.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan lintas sektor, termasuk keterlibatan perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, relawan, serta mitra dari dunia usaha dan perguruan tinggi.
BPBD berharap, aksi ini tidak hanya berhenti pada dua kecamatan, tetapi dapat direplikasi dan diperluas ke seluruh wilayah pesisir dan dataran rendah Kota Semarang, mengingat risiko bencana banjir rob cenderung meningkat akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Dengan aksi ini, Kota Semarang semakin menunjukkan komitmennya dalam membangun masyarakat yang sadar bencana, tangguh, dan siap menghadapi segala bentuk ancaman alam.
Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk keselamatan bersama. Inilah semangat yang menggerakkan perubahan. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi