Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Koperasi Merah Putih Tambakrejo Semarang Jalan Tertatih, Tempat dan Persepsi Jadi Penghambat Utama

Figur Ronggo Wassalim • Kamis, 31 Juli 2025 | 20:51 WIB

 

Sapto Wahono, Ketua Koperasi sekaligus Ketua LPMK Tambakrejo saat diwawancarai, Kamis (31/7).
Sapto Wahono, Ketua Koperasi sekaligus Ketua LPMK Tambakrejo saat diwawancarai, Kamis (31/7).

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di atas kertas, Koperasi Merah Putih Tambakrejo sebenarnya sudah siap melaju.

Surat keputusan notaris, NPWP, hingga rekening resmi di Bank Jateng telah dikantongi. Tapi di lapangan, gerak koperasi ini masih terbata-bata.

Demikian disampaikan Sapto Wahono, Ketua Koperasi sekaligus Ketua LPMK Tambakrejo. Ia menyebut, kendala terbesar bukan pada niat ataupun sumber daya manusianya. Tapi lebih pada dua hal krusial, yakni tempat dan mindset masyarakat.

 Baca Juga: Kabar Duka, Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali Meninggal Dunia, Ini Dia Rekam Jejaknya

Di Kelurahan Tambakrejo ini tidak punya aset gedung yang bisa dipakai untuk kegiatan koperasi.

Semua kegiatan masyarakat terpaksa numpang di rumah dinas kelurahan. "Bahkan itu pun sering dipakai bergantian oleh mahasiswa KKN dari berbagai kampus," ujarnya.

Tanpa ruang tetap, koperasi seperti berjalan tanpa markas. Kegiatan administratif, rapat pengurus, hingga pertemuan calon anggota pun harus dicicil di sela-sela kesibukan ruang yang dipakai bersama. Akibatnya, konsistensi dan kesinambungan kegiatan terganggu.

Di sisi lain, tantangan lain datang dari mindset warga. Banyak yang masih mengira koperasi hanyalah tempat untuk meminjam uang.

Padahal, pihaknya ingin menjadikan koperasi ini sebagai unit usaha. Karena fokus awal bukan simpan pinjam, tapi sembako.

"Namun, karena ada anggapan ‘koperasi pasti pinjam-meminjam’, edukasinya jadi lebih berat," jelasnya.

Belum lagi soal ekspektasi masyarakat terhadap besaran dana. Banyak yang mengira koperasi Merah Putih akan langsung digelontor dana miliaran rupiah dari pemerintah pusat. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu.

“Makanya kami ajak warga ikut dana penyertaan. Karena kalau hanya mengandalkan simpanan pokok Rp 200 ribu, untuk memutar usaha tentu sulit,” katanya.

Keterbatasan anggaran kelurahan juga ikut jadi batu sandungan. Di saat bersamaan, ada program pencanangan dana RT senilai Rp 25 juta yang menyita perhatian dan tenaga aparat setempat. Koperasi pun terselip di tengah tumpukan kegiatan lain.

Meski demikian, semangat belum padam. Warga menunjukkan antusiasme tinggi untuk bergabung, bahkan banyak yang mulai menanyakan prosedurnya ke RW dan RT masing-masing.

“Antusiasme itu sudah ada, tinggal bagaimana kita mengolahnya agar koperasi benar-benar jadi gerakan ekonomi rakyat, bukan hanya formalitas,” harapnya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
#Koperasi Merah Putih #Kelurahan Tambakrejo #kecamatan gayamsari #ekonomi rakyat