RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 jatuh pada 23 Juli mendatang. Kali ini pemerintah menyoroti pentingnya kehadiran orang tua dalam menemani tumbuh kembang anak tanpa gawai atau gadget.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi pun menekankan perlunya mendorong orang tua untuk menciptakan ruang bermain yang sehat, aman, dan bebas dari paparan layar digital.
Di sudut Kota Semarang, tepatnya di Kampung Gisikrejo, Kelurahan Bandarharjo seorang ibu bernama Siti Minar Halimah menjadi contoh nyata dari pengasuhan anak yang minim penggunaan gawai.
Di tengah maraknya orang tua yang memilih gadget untuk menemani anaknya agar bisa ditinggal kerja. Minar sapaan akrabnya justru memilih untuk mendampingi tumbuh kembang putrinya, Afshina Lavsha Sanaya tanpa ketergantungan terhadap gadget.
Pagi itu, saat ditemui di rumahnya, Minar dengan keluarga kecilnya sedang berada di ruang tamu. Tawa bahagia terpancar dari wajahnya saat mengasah stimulasi kognitif pada Afshina yang kini berusia 26 bulan.
Menariknya Minar juga ditemani suaminya, Aulia Rahman dan putri pertamanya Gelby Qanita Azzahra.
Suasana rumah pun semakin hangat dengan canda dan tawa kecil Afshina yang tengah memainkan buku bergambar dan puzzle huruf.
Tak satupun dari mereka bermain gawai. Keluarga kecil ini fokus bermain dan belajar.
Bagi Minar, telepon genggam mengakibatkan kecanduan dan efek buruk pada tumbuh kembang anak. Karena itulah ia membatasi kedua anaknya untuk bermain gadget.
“Bahaya kalau keterusan pegang gadget pasti di otak. Bisa bikin anak speech delay keterlambatan bicara, malas gerak, takut sama orang karena nggak pernah bersosialisasi, juga bahaya radiasinya. Jadi saya batasi banget sehari maksimal satu sampai dua jam saja dengan jeda,” ujar Minar saat ditemui di Rumahnya.
Afshina sendiri sejak usia dua bulan telah mengikuti pembelajaran di Rumah Anak SIGAP.
Sebuah program layanan pengasuhan anak usia dini dari Tanoto Foundation yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang, fokusnya ialah pada tumbuh kembang anak usia 0-3 tahun.
Rumah belajar ini tidak hanya memberikan pendidikan dan stimulasi untuk anak-anak usia dini. Tapi juga membekali para orang tua dengan ilmu pengasuhan. Dari sinilah Minar belajar cara mengasuh anak yang baik dan benar.
“Afshina ini saya masukkan Rumah Anak SIGAP dari Tanoto Foundation itu sejak usia dua bulan. Jadi saya juga belajar di situ tentang bagaimana mengasuh anak di usia nol sampai enam bulan dan seterusnya. Bukan hanya anak saya yang dilatih motorik dan sensoriknya, tapi saya juga dapat ilmu,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Minar menceritakan bagaimana pembelajaran yang diterapkan di Rumah Anak SIGAP.
Ia diajari banyak hal, mulai dari pembelajaran tummy time yang baik, lalu stimulasi merangkak, MPASI, hingga pelatihan bicara dan sosialisasi pada anak.
Dari Rumah Anak SIGAP inilah ia mengetahui pola pengasuhan tanpa gawai. Sebab ia telah diajari untuk membentuk pola komunikasi yang baik dengan anak tanpa kekerasan dan tekanan.
“Di Rumah Anak SIGAP ini kalau nggak tahu masalah anak bisa tanya ke fasilitator atau pendamping. Saya pun banyak belajar kalau anak tantrum intinya sabar karena tidak bisa (mengajari) anak langsung keras. Takutnya nanti langsung ke otak dan mengganggu motoriknya,” bebernya.
Menurut Minar dengan pola pengasuhan yang baik tanpa gawai, anak-anak akan lebih mudah bersosialisasi.
Ia pun membuktikannya sendiri. Dulu anaknya, Afshina pemalu dan takut bertemu dengan banyak orang. Perubahan pun terasa ketika Minar sabar melatih stimulasi si kecil.
“Dulu kalau ketemu orang baru selalu takut. Sekarang malah bisa ngajak kenalan dan main duluan. Bahkan sudah bisa nyambungin empat kata. Kayak kemarin, dia bilang, 'Mama, Ina mau main',” ungkapnya dengan bangga.
Ia pun menyebut, keterlibatan keluarga terutama suaminya sangat penting. Suaminya sangat memberikan support terhadap tumbuh kembang Afshina.
"Kami saling bantu. Kalau saya lagi masak, suami jagain anak. Kalau saya ngantar Afsina sekolah, suami bantuin kakaknya les bola. Jadi pengasuhan itu enggak bisa sendiri, harus kerja tim, keterlibatan ayahnya juga penting,” tegasnya.
Kisah Minar ini menjadi pengingat bahwa pengasuhan anak sejatinya tak bisa diserahkan pada layar dan teknologi. Anak perlu didampingi dengan cinta, waktu, dan kehadiran orang tua secara nyata.
“Saya yakin, masa kecil itu nggak bisa diulang. Kalau anak sudah ketagihan HP sejak kecil, nanti pas dewasa mereka susah bersosialisasi, malas gerak, prestasi turun, bahkan bicara pun bisa telat. Saya enggak mau itu terjadi ke anak-anak saya,” ucapnya.
Pihaknya berharap melalui peringatan hari anak nasional ini menjadi momentum refleksi.
Sehingga ke depan semakin banyak orang tua yang mau menyisihkan waktu untuk bermain bersama anak tanpa gadget. Sebab dampak buruknya akan lebih banyak ketika salah digunakan.
“Enggak harus ke mana-mana kok. Duduk bareng di rumah, baca buku, nyanyi bareng, itu sudah cukup. Yang penting hadir, enggak sambil scroll HP sendiri,” tandasnya.
Hal senada juga diungkapkan Ayah Afshina, Aulia Rahman. Menurutnya kolaborasi orang tua dalam pengasuhan anak akan berdampak pada perkembangan anak.
“Saya selalu mendukung pola pengasuhan tanpa gadget yang dilakukan istri saya. Karena itu kita saling bantu, mengasuh anak tidak hanya tanggung jawab ibu, tapi juga ayah,” ungkap Aulia. (kap)
Editor : Tasropi