RADARSEMARANG.ID - Komik menjadi salah satu media hiburan visual yang cukup digemari. Di Kota Semarang ada komunitas bernama Lumpia Komik.
Wadah bagi para komikus, penggemar komik untuk bertukar informasi tentang komik. Anggota komunitas ini kerap melahirkan karya komik yang mengusung lokalitas.
Lumpia Komik dibentuk Maret 2014 oleh lima orang. Yakni Dewanto, Johan, Reza Azmi, Adif, dan Ayyub Nurmana, seorang komikus sekaligus dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Sains dan Teknologi Komputer (STEKOM) Majapahit, Semarang. Visinya dapat berkontribusi dalam membangun sebuah industri komik di Indonesia.
Ayyub mengatakan, misi utama Lumpia Komik adalah mampu konsisten dalam berkarya agar komik lokal, khususnya Semarang dapat dikenal.
Komunitas ini kerap merealisasikan pertemuan dan dialog bulanan rutin. Biasanya berlangsung di TBRS, Taman Indonesia Kaya, HokBen, Kafe Abad Kopi, dan NutriHub Semarang.
Nama Lumpia Komik terinspirasi dari makanan khas Semarang, yakni Lumpia. Para anggota juga menerbitkan komik sendiri.
Berbagai karyanya adalah komik kompilasi, komik strip digital, hingga komik fisik. Khusus komik strip hanya ditampilkan melalui akun Instagram mereka, @lumpiakomik.
“Karya utama dari Lumpia Komik adalah Lupiko Magz, jadi majalah komik formatnya,” jelas Ayyub.
Setiap anggota memiliki gaya menggambar dan genre masing-masing. Mulai dari aksi, romansa, hingga religi ditampilkan dalam komik.
Hal ini mampu menghasilkan berbagai karya yang variatif. Bahkan, Lumpia Komik termasuk pionir genre religi dan pahlawan.
Gaya menggambar anggota Lumpia Komik rata-rata memang dipengaruhi oleh komik-komik asal Jepang dan Barat.
Produksi setiap komik berbeda tergantung setiap anggota. Ayyub misalnya, sebagai anggota senior, waktu yang diperlukannya menggambar satu chapter (sekitar dua puluh halaman) komik adalah satu hingga tiga bulan.
Namun, umumnya setiap tahun komunitas tersebut mampu memproduksi hingga dua buah komik.
“Kalau produknya kita masih indi. Jadi, kita produksi sendiri, kita cetak sendiri,” tutur Fahrezi, wakil ketua Lumpia Komik saat ini.
Komik-komik buatan komunitas ini dipasarkan melalui aplikasi jual-beli lokal dan toko buku konvensional.
Pembacanya mulai dari siswa Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, remaja, dewasa, hingga orang tua. Para komikus di Lumpia Komik memiliki target pembacanya sendiri, disesuaikan dengan cerita yang dibuat.
Ayyub menambahkan film Panji Tengkorak merupakan bukti bahwa industri komik Indonesia masih perlu perhatian ekstra.
Komik Panji Tengkorak diterbitkan tahun 90’an, tetapi baru mendapatkan adaptasi menjadi animasi pada tahun 2025.
Fenomena ini merupakan salah satu bukti bahwa industri komik dan animasi Indonesia hanya diupayakan oleh pelaku seni saja.
Ayyub mengungkap industri komik di Indonesia masih minim dibandingkan dengan industri-industri lain, seperti film dan musik.
Pada tahun 2000 sekian hingga sekarang, komik lokal sudah mulai diklasifikasikan sendiri dalam rak khusus di beberapa gerai buku sehingga mudah dijangkau dan semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Akan tetapi, regulasi pemerintah juga harus punya andil agar industri komik lokal tidak terkikis dengan adanya komik-komik impor.
“Pemerintah harus ikut berperan mengurangi komik impor, dan memberikan dana hibah bagi komikus-komikus yang berpotensi agar bisa tetap survive berkarya,” ungkap Ayyub. (mg2/mg4/fth)
Editor : Baskoro Septiadi