Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Berdiri Tahun 1965, Maganol Jadi Toko Layangan Tertua di Semarang

Adennyar Wicaksono • Minggu, 29 Juni 2025 | 13:38 WIB
Sejumlah pembeli antri untuk membeli benang dan layangan secara eceran ataupun partai besar.
Sejumlah pembeli antri untuk membeli benang dan layangan secara eceran ataupun partai besar.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sebuah toko yang Terletak di Jalan MT Haryono, Semarang, tampak ramai dengan orang-orang yang mengantri untuk membeli layangan serta benang.

Toko tersebut bernama Maganol, yang merupakan singkatan dari 590 (Lima Tiga Nol) sesuai dengan nomor toko.

Diketahui toko ini menjadi salah satu toko legendaris di Kota Semarang, karena masih eksis sejak awal berdiri di tahun 1965.

 Baca Juga: 18 Ribu Umat Katolik Bakal Ikuti Misa Akbar di GOR Jatidiri Semarang

Mulyono Sentoso, pria yang kini berusia 68 tahun adalah generasi kedua yang mulai meneruskan bisnis keluarga ditahun 1980-an. 

Tangan dingin dan keuletan Mulyono mampu meneruskan usaha penjualan aneka jenis layangan, mulai dari layangan hias, aduan hingga benang gelasan yang biasa digunakan untuk layangan aduan, yang bisa dinikmati sampai sekarang.

Toko ini sendiri, juga menerima pembelian layangan ataupun benang secara eceran. Namun paling banyak pembeli datang untuk kulakan dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

"Selalu beli disini (Maganol, red) karena murah kalau beli partai besar dan dapat untuk Banyak kalau dijual lagi. Selain jual sembako, saya juga jual layangan kalau musim, lumayan buat tambahan," ujar Eko salah pembeli asal Semarang Tengah ini.

 Baca Juga: Selesai Hadirkan Season 3, Netflix Umumkan Squid Game Versi Amerika Akan Siap Syuting Pada Desember Ini

Sore itu, Mulyono sedang sibuk mengepak layanan dan benang yang dipesan oleh kliennya.

Dia menyebut, beberapa daerah seperti Magelang, Kendal lainnya memesan layangan dalam jumlah besar.

"Ini pesanan, mau dikirim ke luar kota, seperti Magelang, Kendal dan wilayah lainnya," bebernya.

Ditanya terkait sejarah Toko Maganol, Mulyono tersenyum, matanya nampak berbinar, sambil melihat ramainya jalan petang itu.

Dia menjelaskan, Maganol bukanlah toko layang-layang. Sang ayah dulunya adalah guru di sekolah Tionghoa. 

Namun, pasca peristiwa G30S/PKI, banyak sekolah etnis Tionghoa ditutup dan mengubah hidup mereka selamanya, termasuk kedua orang tuanya yang harus meninggalkan pekerjaan lamanya.

 Baca Juga: Profil Zohran Mahmani, Kandidat Calon Walikota Muslim Pertama New York AS

"Orang tua saya sempat bingung. Akhirnya coba-coba jualan tembakau, roti kering, sampai onderdil sepeda. Terus lama-lama mainan, termasuk layangan," kenang Mulyono.

 

Mulyono Sentoso ketika mempersiapkan layangan dan benang yang akan dikirim ke luar kota.
Mulyono Sentoso ketika mempersiapkan layangan dan benang yang akan dikirim ke luar kota.

Didalam toko itu, menyediakan berbagai benang layangan dengan merek yang juga jadul, misalnya benang cap Hiu, Cobra, sampai Cat Blue.

Sementara untuk layangan, ada layangan aduan, seperti Sukhoi, Seot, dan lainnya. Ada pula layangan hias, seperti Pegon, hingga layangan Bali 

"Kalau sudah musim kemarau, semua laku. Dari layangan aduan, layangan hias, sampai benang gelasan," tuturnya.

 Baca Juga: Usai Menikah dengan Al Ghazali, Alyssa Daguise Tambah Nama Belakang Ghazali di Instagram

Nama Maganol kata dia, diambil dari alamat rumah mereka: MT Haryono Nomor 530 yang disingkat menjadi Ma-Ga-Nol.

Nama yang sederhana, tapi membawa sejarah panjang dan loyalitas pelanggan lintas generasi.

Menurutnya, dolanan tradisional seperti layangan tidak akan termakan zaman, apalagi saat musim kemarau dipastikan banyak masyarakat, entah itu, tua muda, pasti bermain layangan.

Dalam masa puncak seperti sekarang ini, penjualan meningkat drastis, baik dari pembeli eceran maupun grosir. 

Harga eceran layang-layang yang dijual Maganol berkisar antara Rp1.000-Rp2.000 tergantung ukuran dan kualitas.

Kendati era digital merajalela, Mulyono melihat bahwa daya tarik mainan tradisional, menurutnya tidak akan padam.

"Kalau musim layangan tiba, kita bisa jual satu sampai dua bal benang per hari. Satu bal itu isinya seribu. Kami juga kirim ke banyak daerah juga seperti Magelang dan Jogja. Musim layangan tiba, kalau anak-anak sudah mulai datang ke toko," katanya sambil tersenyum.

 Baca Juga: IPDN dan STAN Sama-sama Top Kampus Kedinasan yang Lulus Bakal Jadi PNS, Mulai Dibuka Pendaftaran Besok, Segera Tentukan Pilihan!

Ditanya kiat untuk bertahan menjual mainan tradisional, Mulyono menjelaskan jika bisnis yang digeluti tidak mudah karena bisa dibilang bisnis musiman.

Barang-barang yang dia jual rentan rusak jika salah penyimpanan. Pasalnya benang dan layangan itu musuh utamanya adalah air dan kutu bambu. 

"Pernah juga satu tahun penuh nggak ada musim layangan. Nggak tahu kenapa. Tapi ya tetap kita buka. Tahu-tahu anak-anak mulai main dan toko kami mulai ramai lagi," bebernya.

Setelah lebih dari 60 tahun, Mulyono masih mengelola Maganol dengan semangat yang sama.

Dia mulai memegang penuh toko ini sejak awal 1980 dan berharap ada yang melanjutkan meski ia sendiri tak bisa memastikan.

"Anak saya dua. Yang sulung sudah meninggal. Kalau ada yang mau nerusin, ya syukur. Tapi semua kan nggak bisa dipaksakan," pungkasnya.(den)

Editor : Baskoro Septiadi
#Maganol #benang #layangan